Gerimis menemani aktivitas makhluk hidup, di sebuah tempat di gang kecil samping jalan ibukota besar metropolitan, tepatnya hari rabu 18/11/09. Kudapati aku berada di tangan seorang bocah kecil yang tersenyum mengambang dan wajah pucat pasi dengan keringat dingin mengucur.
Berlari dari pinggiran jalanan. Berteriak dengan nafas yang berburu, kak...kak...kak...di siang panas berdebu. Nafasnya terengah-engah menuju seorang yang berwajah anggun, di tempat biasa mereka becengkrama bersama.
Entah kenapa hari ini dia mendapatkan anugrah luar biasa. Kejadian ini baru pertama kali dalam sejarah hidup. Sambil gemetar ia memegang diriku. Hanya sekali-kali ia melihat soekarno hatta tersenyum memandangnya dengan senyuman indah mereka. Senyum orang yang mampu menggerakkan kemerdekaan dan menanamkannya di sanubari manusia Indonesia.
Ya aku sekarang berada di samping Presiden dan wakil presiden pertama Indonesia. Di sebelah diriku ada gedung dengan atap melengkung. Sebuah gedung untuk mereka yang mewakili masyarakat Indonesia. Gedung dimana kabarnya tempat menentukan beberapa kebijakan di negri ini, termasuk aku apakah layak ada atau akan di tarik dari peredaran. Tapi itumasih jauh, dan banyak factor yang mempengaruhinya, kecuali ekonomi kita superpower.
Sianak berharap kakak asuh di suatu panti mau membelikan beberapa keinginan yang selama ini telah menyibukkan fikirannya. Sebuah tas sandang bermotif tokoh kartun yang mempunyai kekuatan angin dan bumi Avatar dan juga pensil berwarna. Aku tersimpan baik sampai esok hari karna besok sang kakak baru bisa menemani sang bocah dan teman-teman lainnya ke sebuah pasar terdekat.
Konsep i’tikaf di mesjid pada 10 hari akhir adalah proses pendidikan dan pembentukan karakter muslim mencapai kualitas sempurna muttaqin.
wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan terhadap orang yang terdahulu mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa. (Q.S Al-Baqarah 2:183)
Surau dalam khazanah minangkabau adalah sebuah pendidikan non formal yang berbasiskan kepada komunitas anak muda. aktivitas Surau meliputi banyak aspek pembentukan perilaku, penanaman nilai-nilai, pendidikan keterampilan dan juga sikap hidup untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup. Menurut pepatah rang minangkabau, Kai nan di bantuak ikan paus ka di panciang (benar ngak ya) kembali kepada tentang pendidikan surau adalah sebuah pendekatan kehidupan yang di sentralkan di mesjid atau mushalla. Pendikan surau dalam rentang sejarah mengedepankan beberapa aktivitas pendidikan ruhiyyah dengan solat dan kajian-kajian tarikat, pendidikan keterampilan dengan belajar pasambahan dan pepatah, keterampila seni bela diri dengan silat. Pendidikan surau menghasilkan out dengan kualitas alim ulama, cadiak pandai, dengan pandeka.
Surau menjadi tumpuan masyarakat untuk membentuk karakter generasi minangkabau. keterampilan silat berkembang pesat dengan latihan-latihan yang dilakukan pada malam hari. Kemudian pada jadwal tertentu belajar bagaimana mengolah kata dan merangkai kata-kata dalam negosiasi adat. Bapantun dan barundiang menggunakan analogi analogi atau percontohan-percontohan yang merupakan sastra tinggi dalam khazanah kebudayaan minangkabau.
Sukabumi di daerah lembur situ terdapat sebuah komunitas yang mencoba membangun karakter anak-anak untuk mencintai surau. Metode pelaksanaan menggunakan akhir bulan ramadhan dengan konsep i’tikaf. Orang dewasa bersama anak-anak lelaki mereka mengikut iktikaf. Anak-anak tidur dimesjid beserta orang tua mereka. Melakukan kegiatan berupa belajar, bermain, berlatih. Dalam pendekatan iktikaf beberapa aspek yang menjadi sebuah keunggulan baik bagi orang dewasa maupun anak-anak diantaranya:
Konsistensi solat berjamaah. Konsistensi lahir dari kedekatan orang di mesjid. Hampir bisa dipastikan mereka yang iktikaf akan melakukan solat berjamaah 5 waktu sehari semalam dan jugan solat qiyamulllai. Konsistensi ini membentuk pribadi yang berdisiplin tinggi, tuntas dalam pekerjaan, mempunyai skala prioritas, menggejar keunggulan dan merupakan pribadi yang unggul. Solat berjamaah berlaku bagi seluruh peserta iktikaf.
Konsistensi baca alquran. Pembiasaan bacaan alquran mendidik sisi aqidah, ruhul islam. Melahirkan sebuah tradisi Iqra (membaca, meneliti, menelaah dan mengumpulkan) di peserta iktikaf. Aspek ini yang melahirkan sebuah kualitas generasi yang cinta ilmu pengetahuan, cinta akan kebenaran dan mempunyai spirit yang agung dalam kehidupan. Mereka cinta ilmu dan tidak pelit untuk berbagi ilmu. Khatam alquran adalah sebuah ajang prestasi dan itu tidak hanya sekali, namun berulang kali.
Pembekalan ilmu pengetahuan. Kegiatan iktikaf pada pagi hari disii denan kajian-kajian ekonomi islam, hukum-hukum islam yang memberikan masyarakat pembelajar. Menerapkan muslim is leaning civilization.
Persaudaran dan persamaan. Pola ini terbentuk dengan kegiatan sahur berjamaah. Pebekalan diantar oleh istri atau dijemput pulang dan dibawa ke mesjid. Kemudian biasa berbagi lauk pauk. Hal ini juga berlaku pada saat iftar besama selama iktikaf di mesjid. Sebuah pesona keindahan persaudaraan dan persamaan.
Penurunan penyakit sosial kemasyarakatan. Masyarakat yang terlah terdidik dengan sentuhan ruhiyah dan pendidikan surau yang pernah rasul praktekkan. Akan menghindarkan dirinya dari perbuatan yang merusak, karna ini bukanlah potensi ibadah dan mendapatkan sebuah amal soleh. Sebuah kerugian yang besar dari prspektif ini bagi masyarakat mukmin. Maka tidak ada lagi pemabuk, penjudi dan juga mereka yang menjadi beban sosial masyarakat.
Distribusi ekonomi yang merata. Hal ini terlaksana bahwa sumber ekonomi tetap berjalan dan menghasilkan barang dan jasa. Namun tidak lepas keluar dari kawasan tersebut. Uang beredar lebih banyak dan sering di kawasan tersebut. Maka kemakmuran akan tinggi. Dalam hal ini perlombaan atau kompetisi untuk berinfak menjadikan sebuah distribusi dana yang bagus untuk dikembalikan kepada yang mengalami kesulitan ekonomi untuk berhari lebaran. Zakat fitrah untuk makan orang miskin. Zakat harta dan juga infaq sedekah.
Kesimpulan.
Islam itu indah dan tinggi dan hanya kitalah yang membuat islam itu indah di long day activity. Salam we are the best.
Sore menjelang magrib, karna azan sebentar lagi berkumandang. hari ini diriku berada di sebuah tempat yang menyejukkan, bukan dikantong pak haji, atau di tas hasil penjualan pedagang. Namun di kotak amal, ya aku sekarang berada di sana, karna tadi ashar aku masuk. Diriku dapat melihat dan merasakan sebuah tempat yang selama ini baru kali ini ku tempati, jauh berbeda degan tempat yang juga pernah ku tempati.
Azan berkumandang “Hayya ‘ala shsholah” dan “hayya ‘alalfalah” itu yang membuatku sedikit bergetar. Kulihat beberapa laki-laki mengangkat tangan dan mereka bergerak dengan gerakan akrobatik yang indah. berdiri, membungkuk, berdiri, mencium tikar, duduk dan menoleh ke kanan dan ke kiri.
Aku berada di tempat saudaraku Rp 50 rupiah. Kenapa ku bisa berada di sini?. Karna aku ditemukan oleh seorang anak kecil yang berangkat ke Taman Pendidikan Alquran. Dengan indah kakinya menendang tanpa sengaja. Eh ada uang receh. Gimana kalau uang ini di masukin Kotak amal aja. Begitu anak bergumam, karna teringat akan pesan guru jika engkau menemukan uang lebih baik masukkan ke kotak amal. Karna ia akan menolong orang yang punya.
Itulah kenapa aku berada disini, beserta sahabat-sabahat lainnya. Hanya seuntai kalimat untuk anak itu “Karna aku akan adalah bagian yang memberikan nilai kebaikan, Ya Allah berikanlah kebaikan terhadap anak kecil supaya ia tidak belajar mengambil hak orang lain.
Dengan 1 dari 50 rupiah telah terbantu mereka yang tetap menyembah rabb mereka. Karna diriku di ambil untuk membayar listrik bulan ini yang mempunyai tagihan Rp. 250.450,00 bulan lalu. Dan hari itu Selasa 17/11/09.
Senin 16/11/09 adalah hari membuat tekanan atau stress karna mesti meeting dengan atasan membahas berbagai persoalan perusahaan. Menetapkan secara bersama untuk mencapai target penjualan. Itulah fenomena mereka yang mendapatkan 1 rupiah di akhir bulan.
Kemaren sang pengemis tua menukarkan pendapatannya dari kumpulan uang receh kakak tua dan beberapa pahlawan pattimur kesebuah warung. Membeli beberapa kebutuhannya hari ini dengan seorang anaknya. Beras satu liter dengan 3 buah telor untuk menami makan untuk hari ini.
Jadilah diriku bagian pecahan Rp. 5000, aku bertemu dengan Imam Bonjol dan juga penenun songkek dari daerah Pandai Sikek, Bukittinggi. Imam bonjol adalah seorang pahlawan pra kemerdekaan yang memperjuangkan indonesia untuk merdeka dan keislamannya. Aku berkesan dengan sorbannya yang kukuh melilit kepalanya. Sekarang kuburannya berada di sulawesi karna ia dibuang oleh Belanda kesana.
Tentang penenun aku bertanya bagaimana rasa telah menyelesaikan sebuah karya seni dengan sentuhan tangan. Dengan senyum merekah menjawab inilah hasil kreatifitas seni tinggi. Keindahan hasil karya tenunan dengan motif-motif yang indah berlatar filosofis, naturalis dan berkaitan dengan beberapa pepatah di alam minangkabau.
Penenun adalah kegiatan yang merangkai hal-hal sederhana dari tali-tali kecil yang jalin menjalin dan didepak kuat oleh kayu. Satu, dua, tiga dan seterusnya tali-tali merapat menjadi kain. 1 rupiah juga adalah kumpulan beberapa yang menjadi Rp. 5000,00 dan aku berjumlah sebanyak lima ribu kali.
Penenun itu hanya mendapatkan upah untuk setengah hari seharga Rp. 5.000,00 dan dihargai dengan gambar Rp. 5.000, saja.
Minggu datang menjelang dengan hangat mentari, kalender menunjukkan tanggal 15/11/09 di sebuah Koran Nasional yang menurunkan berita kebakaran hutan dan juga kebakaran dirumah warga yang entah dimana.
Sebelah pahlawan patimura terdapat burung kakak tua yang telah memutih baik paruhnya mapun kakinya. Wah ternyata adalah uang rp. 100 yang terselip diantara lipatan-lipatan saudara lainnya. Aku berpindah dari patimura ke Kakak tua.
Salam hangatnya menyapaku dan aku adalah bagiannya hari ini. Dari sakunya yang sedikit kumal. Klotak begitu bunyi sebuah mangkok yang telah menjadi identitasnya sepanjang sisa hidup semenjak kejadian yang menghempaskan semua harapan dan juga cita-cita.
Semenjak pagi ia dengan penuh kesabaran menadahkan mangkok kepada setiap mereka yang lewat. Suara lirih dari balik kerongkongan yang telah lama tidak merasakan nikmatnya makanan restoran di seberang jalan. Hanya kemauan keras untuk tetap bertahan dan juga ketabahan untuk bisa menikmati aliran air di kerongkongan dan pengganjal perut anak yang terkulai lemah di rumah.
Bajuku adalah identitas yang menjadikan ku bak pekerja professional kantoran. Seratus rupiah adalah teman yang dulu sering ada dengan senyum kakak tua yang katanya hampir punah. Kepunahannya akibat keserakahan 1 rupiah yang berling banyak.
Itu semua untuk kemewahan dan juga tujuh keturunan. 1 rupiah berserta kakak tua singgah di mangkokku dari ia yang bekerja di perusahaan penebang hutan.