Senin, November 08, 2010

Air Berkisah

Pagi ini aku masih menetes di ujung dedaunan, namun tidak dapat menghilangkan panas tanah yang bergelegar dari muntahan gunung merapi semalam. Kemudian aku terus mengalir kedalam tanah untuk dapat menghidupkan kembali gairah akar. Namun sayang akarpun telah mati, dan dedaunan pun melayu dan tak bergairah lagi ketika disapa mentari pagi.

Entah mulai dari mana aku menceritakan berbagai bentuk perlakuan yang telah kualami dalam kehidupan. Engkau barangkali sering bertemu dan terus saja kamu tidak pernah untuk memiliki kesadaran bahwa aku ada dan menguasai dirimu melampaui separuh dalam hidupmu. Hampir semua liku-liku sel tubuhmu telah kusinggahi berkali-kali, tanpa pernah engkau tahu kecuali sedikit sekali kalau engkau mempelajari anatomi tubuhmu sendiri.

Engkau akan merasakan kesusahan kala aku berkurang dari tubuhmu. Ginjalmu akan amblas kala aku tidak mencukupi mengairi untuk membasuh ginjalmu yang kotor akibat engkau pelit membasahi kerongkoangamu. Dengan alasan bahwa engkau tidak mau repot mesti membuangku di WC umum dan membayar Rp. 1.000,- sekali berkunjung.

Tubuhmu akan lemas dan tidak bertenaga untuk berkoar memberikan berbagai penyangkalan tentang kesalahan dalam kebijakan. Siapapun dirimu, apakah pejabat besar yang mengambil keputusan besar, pejabat sedang yang terkadang memanut dengan pejabat besar. Atau barangkali pejabat kecil yang berjiwa kerdil. Dalam aliranku dalam tubuh siapapun bagiku sama saja. Aku datang dan pergi sesuai dengan tugas dan perananku.

Semoga tidak percuma saja aku mengalir untukmu apakah di lahar gunung yang telah menumpuk untuk diangkut, atau dalam tubuhmu?, karna tetesan demi tetesan kami tidak begitu berpengaruh dalam dirimu. Entah berapa triliyun tetes berlalu dalam tubuhmu dan mengalir membasahi tubuhmu kala pagi dan sore hari.
Engkau masih bisa menikmati membuang diriku di hotel-hotel mewah di luar negri sana. Meminum saudara kami dengan pongah dan terlupa bahwa kami mengalir dari keharuan, kesedihan, kepiluan kala gunung merapi mengeluarkan kami dalam bentuk uap panas yang bercampur dengan debu-debu dan pasir panas. Kami mengalir pilu dan sedih dalam balutan pipi-pipi yang terpapar panas merapi sedangkan engkau terpapar nikmatnya berplesiran.

Teman-temanku juga bercerita bahwa kamu berbahagia dengan menikmati kami yang terbaik di makkah sana. Tahukah engkau kami tetap memberimu kepuasan dan juga kebanggaan untuk membangikannya kepada orang terdekat dengan dirimu. Inilah bagian dari saudaraku yang selalu ditunggu setiap kembali dari tanah suci.

Kemaren aku telah bertemu dengan nasi yang bercerita bahwa banyak kisah perjalan  yang ia lalui. Banyak suka duka kala mesti berpisah dengan teman-teman dan juga batang padi yang telah bersedia berpisah.
Beruntung beberapa masih bisa membasuh mukanya yang telah keruh oleh berbagai kesalahan dan dosa. 
Kuluruh semua kepenatan yang menggayut di wajah yang tidak begitu tampan.Tangan-tangannya yang bergetar hebat kala kusentuh ia membersihkan bagiankesalahan-kesalahannya lima kali sehari yang selama ini ia telah lama tinggalkan. Ia memulai kehidupan baru dan aku meluruhkan semua dalam sentuhan organ wudhunya di sebuah mushalla kecil samping terminal.

Dalam tragedi kehidupan kami memang mematuhi aturan pembuat aturan, kami memang melahap berbagai bentuk di hadapan kami, telah engkau ingat bagaimana aceh kami singgahi, mentawai yang di belai oleh teman kami yang selalu bergerak ketika suruhan itu datang.

Aku juga menetes di pipi pemimpinmu kala menemui para pengungsi, itulah bentuk empati, namun tidak sedikit diantara kamu-kamu mengeluarkan pernyataan sedangkan kami tidak pernah mengalir dari pipimu yang telah kering memeloti berbagai adengan kehancuran demi kehancuran.

Terkadang engkau dengan enteng membuang aku di mana saja tanpa mengenal malu dilihat manusia lain, terkadang dibalik pintu mobilmu yang parkir di jalanan, atau dibalik dinding rumah orang. Kalau untuk kalangan binatang aku masih bisa mengerti tentang meraka yang tidak berfikir.

Aku juga mendapati saudara-saudaraku berada dalam bungkusan yang mahal, kala telah bercampur dengan berbagai tambahan, apalagi telah mengalami fermentasi, diteguk di tempat yang penuh aroma kemaksiatan dan dosa.

Dari langit aku hadir untuk menyirami berbagai belahan bumi, jakarta kami genangi untuk memberikan pembelajaran tanpa pernah kata untuk berhenti. Ya bertahun tahun terus kami genangi, jangan pernah salahkan aku yang terus menyirami, namun salahkanlah perilaku tiap dirimu membuang sampah sembarangan. Menebangi pohon yang terus menerus tanpa pernah untuk coba menanami. Di depan rumahmu saja terkadang tidak ada pohon yang mesti engkau sirami dengan aku.

Di ujung selatan dan utara saudaraku masih tetap setia membeku untuk menahan kehancuran lebih besar. Memang telah ku beri peringatan lewat saudaraku bahwa permukaan kami telah naik dan meneggelamkan pulau-pulau yang tak berpenghuni atau berpengghuni.

Telah kubentang berbagai kisah dihadapunmu, semoga engkau selalu mawas diri kala aku berubah menjadi besar akibat ulah dirimu sendiri, atau mesti mencabut nyawamu.
***

Dari setetes air yang menetes mengenai hidung dikala pagi di perjalanan rumah ke toko. Sarilamak 07 November 2010.

Kamis, November 04, 2010

Pengemis malam

Jakarta adalah kota hidup 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jakarta tidak berhenti dengan berbagai aktivitas kehidupan. Malam tetap menjadi tempat yang indah dengan pernak pernik kehidupan. Kala siang matahari menjadi cahaya yang terang benderang, ketika malam digantikan oleh lampu  kendaraan, penerang jalan, lampu pada gedung perkantoran.

Di sudut tiang jembatang layang terminal jatinegara ia hadir duduk menepi dan menyepi. ia masih menenteng sebuah Anjungan Tunai Mangkok yang terus setia menemami kemana pergi. Di hari yang masih terang benderang dengan deruman mesin mikrolet yang berjejal menanti penumpang. Ia kembali mengosongkan Anjungan Tunai Mangkok yang teralah disinggahi oleh beberapa lembar uang bergambar pahlawan terbaik semasa penjajahan di daerah maluku. Ia dengan garang mampu mengusir bentuk penjajahan. Senyumnya gagah, namun sekarang hanya menjadi gambar yang datang silih berganti.

Di balik tas coklat oleh debu jalanan, telah tersusun rapi beberap lembar penghasilan hari ini. Namun sayang sekali bahwa semuanya terdiri dari ribuan dan juga recehan 500an. Tapi apa hendak di kata, uang inilah yang sering diabaikan orang dan sekarang berkumpul dalam jumlah yang cukup.

Satu orang kembali mengelontarkan uang 500 rupiah, kembalian dari ongkos mikrolet jurusan Tanah Abang-Jatinegara. Ia nampak tergegas untuk menaiki sebuah bus mayasari yang mengantarkan pulang dari bekerja. Begitu indahnya pakaian meraka, ada kebanggaan teselip dalam senyumnya ketika ia memberi sambil lalu.
Tidak sedikit pula yang tidak melihat keberadaanku, berlalu beriringan dengan kejaran waktu. ATM ku selalu hadir menyapa, menyapa dan terus menyapa seperti iklan billboard besar yang bergambarkan Gubernur Jakarta berpakaian jas dan disana bertuliskan. Orang bijak bayar pajak, Tidak bayar pajak apa kata dunia, begitulah sepotong koran ku baca yang menjadi alas duduk kala duduk menunggu ATM penuh dari transferan uang recehan.

Aku bukan perampok Anjungan Tunai Mandiri yang mempunyai keahlian maling tingkat tinggi. Namun Ia masih kalah dengan perampok Anggaran Tunai Masyarakat berupa Jaminan Kesehatan masyarakat, beras miskin, program bantuan pemberdayaan masyarakat perkotaan dan juga berbagai ATM bagi kami.
Terkadang untuk apa pajak, namun hanya untuk perompok Anggaran Tunai Masyarakat, masih ada terselip rasa syukur bahwa pendapatan hari ini tidak terkena Pajak Pertamabahan Nilai atau Pajak penghasilan untuk perampok negara.

Di persimpangan ini semua perampok terlihat berlalu lalang di sela kerlip-kerlip cahaya lampu kendaraan yang saling bersusul tak mengenal kata berhenti.

Kumpulan rangkaian hikmah bulan sept 2010

Sang Pemenang Pembelajar
Kumpulan postingan bulan September 2010

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah swt atas karunia keimanan dan kesehatan yang menghampar di setiap bentang kehidupan kita. Shalawat dan salam kepada Rasulullah yang senantiasa merindukan ummatnya untuk mengikuti sunnah kehidupan sesuai dengan pustaka kebaikan Alqur’an dan Sunnah.

Semoga kumpulan postingan ini bermanfaat dan dapat memberi inspirasi bagi kita semua. Ketika ia sebuah cahaya yang redup maka jadikanlah cahaya yang benderang. Ketika ia setitik air maka wujudkanlah menjadi setelaga.

Hidup itu indah kala sesuatu menjadi katalisator bagi yang lain, seperti angin menjadi katalisator terbangnya burung yang mencari makan. Seperti air yang menjadi katalisator bertelurnya ikan salmon.

Terima kasih kepada teman-teman yang selalu memberikan tanda suka kala postingan di wall Sang Pemenang Pembelajar dan juga yang membaca namun tidak terlacak. Atas kesediaannya merangkai persaudaraan saya aturkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Muhammad Yunus, S.E ‘Pemenang Pembelajar’
***

07 September 2010,

“Begitu Indah ia datang menyapa dan menuntun kita menjadi pribadi nan fitri, melalui Ramadhan tahun ini.

Kemenangan, kebahagiaan, Keselarasan menjadikan kita Sang Pemenang Pembelajar sejati”


08 September 2010,

“Diantara derai tawa yang menyenangkan terkadang masih terselip airmata kesedihan. Diantara baiknya percakapan masih terselip ungkapan menyakitkan. Diantara janji dan komitmen masih terdapat ketidakkonsistenan. Diantara kemenangan di hari fitri terdapat saling memaafkan”

 

Kemenangan diraih dari sebuah perjuangan dalam mengorbankan banyak hal dan juga mampu memberikan maaf dalam beberapa hal”


09 September 2010,

“Berpisah jua di akhir penantian, bergelayut mencipta kenangan, Ramadhan datang kembali pulang menjelang takbir di kumandangkan. Menetes dimata mengharap bertemu, melipat tangan di dada mengharap maaf, namun hayan lewat status terlewatkan ucapan minal 'aidhin wal faizin”


“Bersua tapi tak jumpa, bertemu tapi tak bertatap muka, hanya lewat rangkaian kata-kata terucap. Minal 'aidin wal faizin saling memaafkan atas khilaf dan salah untuk kembali fitri”


12 september 2010.

“Berkumpul dan bertemu kemudian saling mengunjungi adalah sebuah kenangan indah bersama kala moment idul fitri kali ini. Inilah kekuatan tak tergantikan dalam merajut silaturrahmi dalam keluarga dan karib kerabat. Karna berlebaran bersama dan saling mengunjungi melampaui keberadaan aksesoris lebaran yang melenakan”


15 september 2010,

“Ruang lingkup kebermanfaatan hidup adalah pada orang-orang yang terdekat baik secara karib kerabat maupun bertetangga. Itulah dimensi ketaqwaan yang menjadi pertanda bahwa berpuasa meninggalkan bekas karakter manusia yang selalu berbagi untuk sesama. Untuk seseorang yang telah membantu semoga Allah tetap mencintai dan menjadi hambanya, amien”


16 September 2010,

“Menutup hari ada rangkaian catatan kebaikan dan juga keburukan. Terkadang tercampur satu kebaikan dengan keburukan seperti baju yang ternoda dimana kala pagi masih bersih, maka saatnya direndam dalam permintaan maaf tuk sesama dan ampunan dalam deterjen istigfar untuk sang rabbul'alamiin”


“Bertemu rindu dengan cinta di sanalah semua keindahan, kedamaian, keberartian, kebermaknaan, dan kenikmatan berkulindan dalam satu klik yang tak terlupakan dan ia selalu hadir 34 kali dalam lima waktu yang berbeda, ia adalah sujud yang merangkum rindu dengan cinta”


“Seperti sinyal konektivitas dengan dunia maya yang menjadikan online dengan sebuah server besar yang dapat menghubungkan satu sama lain di belahan dunia manapun berkumpul dan berbagi, begitulah kala iman menjadi konektivitas dengan sesama mukmin lainnya hidup berkumpul dan berbagi kebaikan, sudah onlinekah iman anda?”


“Semua yang datang di hadapan kita memberikan dua pilihan, besyukur kala itu sesuai dengan keinginan dan mengeluh kala itu tidak sesuai dengan keinginan kita, namun semua menentukan karakter kita apakah sang pengeluh atau orang yang mampu bersyukur, walau kadang yang datang tidak sesuai dengan keinginan kita, pilihan itu adalah realitas kita”


“Silahkan menumpang di kendaraan waktu yang selalu membawa banyak cerita suka yang buat tawa dan senyum, memabaca duka yang buat derai air mata, sakit yang tidak terobati, sehat, miskin papa di kaya rayanya manusia, nestapa di senangnya mereka. Kendaraan waktu itu selalu membawa kita kemana saja mencapai tujuan hidup”


“Dalam lautan terdapat banyak keindahan yang tersembunyi dalam gelombang. Begitulah jika kita hanya mengenal dari permukaan maka gelombanglah yang kita ketahui dan mengombang ambing kemana gelombang bergerak, maka selamilah maka keindahan itu akan mempesona”


“Berlalunya waktu yang berlomba dengan aktivitas keseharian seperti roda-roda kendaraan yang terus bergelinding menuju tempat dan maksud tujuan, maka sudilah untuk sejenak berhenti mengisi bensin dan juga memeriksa kendaraan supaya perjalanan menuju tempat selamat. Begitulah shalat dalam pergantian waktu di kala zuhur menyapa untuk keselamatan perjalanan kehidupan kita. Marilah sejenak berhenti menjaga sisi kebaikan diri bertemu dengan sang pencipta diri”

 

18 september 2010,

“Merangkai kata memiliki cita rasa, filosofi, makna, tujuan, maksud dan juga efek, maka pilihan kata dan juga untaian mengikutinya semoga menjadi bermakna dan berdimensi ibadah yang beruntaian abadi memelihara diri, karena sebuah ungkapan adalah pencapaian dari realitas kedirian”

 

“Diantara gelap gulitanya malam yang berselimut awan masih terselip beberapa bintang yang berkedap-kedip memberikan arah untuk dapat menepi bagi pelaut yang tersesat, begitupun kebaikan yang berkedap-kedip diantara selimut awan keburukan dan kejahatan yang memberikan arah untuk dapat menepi bagi jiwa yang tersesat”

 

“Kala seseorang telah kembali dan meninggalkan jejak langkah perjuangan dan pengorbanan melampaui dimensi dirinya, maka ia akan dikenang, ditangisi, di apresiasi. Maka jejak langkah perjuangan dan pengorbanan akan mengalir dalam denyut kehidupan memberi arah menelusuri gelapnya kehidupan lalu, sekarang dan akan datang”


“Ketika sesuatu telah berakhir maka sesuatu yang baru pun datang, terkadang yang berakhir mengenang suka duka kala sesuatu yang baru datang menjelang dengan rentang kebaruan, dalam pergantian terdapat pemelajaran untuk Sang pemenang pembelajar yang berkata AKU BISA”


27 september 2010,

“Ketika kesulitan datang menghampiri maka berbahagialah karena banyak kemudahan yang datang, namun ketika kemudahan datang menghampiri maka bersiaplah menerima kesulitan, karena keudanya adalah sepasang untuk menguji kesabaran dan ketabahan”


29 september 2010,

“Akhir siang telah surut bernama senja, seperti pasang surut laut yang memberikan ruang untuk kehidupan berbeda, diantaranya ada "jeda" sebentar untuk kembali tenang dan besiap untuk mengawali pasang malam yang datang. Jeda itu adalah magrib yang datang sebagai pertanda ombak kehidupan tenang dan menentramkan”


“Umur itu bertambah seperti pucuk pohon yang makin tinggi yang di terpa oleh berbagai angin yang makin kuat, sedangkan usia seperti daun yang berguguran memberi cerminan bahwa semua akan kembali dari mana ia berasal setelah melalui proses kehidupan, selamat hari milad bagi teman dan sahabat”


“Diantara tumpukan bebatauan di rel kereta api terdapat ruang untuk menampung dan menahan beban berat laju kereta api yang berlalu. Diantara kencangnya ban melekat di permukaan aspal, terdapat ruang untuk menjaga keseimbangan melajunya mobil di jalan. Diantara derita dan kesusahan masih terdapat "ruang" keseimbangan bernama syukur dan sabar”

 

“Di jemput pagi subuh dan di nanti duha, kehidupan berjalan dalam zikir kehidupan, namun diantaranya masih ada yang di tinggalkan subuh dan di abaikan duha”




30 september 2010,

“Kebaikan itu laksana menanam padi, dimana rumput kan tumbuh juga, Keburukan itu laksana menanam rumput, dimana padi takkan ikut tumbuh disana. Maka ikutilah kebaikan dengan tidak melakukan keburukan, maka kebaikan itu tumbuh menghasilkan kebaikan lainnya”

 

“Kemiskinan materi terkadang menjadikan seseorang mampu menghargai karunia dan anugerah yang datang, namun kemiskinan hati menjadikan seseorang tidak mampu menghargai karunia dan anugerah yang datang dan sering mengeluh dengan rasa ketidakcukupan”

 

“Hidup adalah episode 24 jam yang terbagi dari siang dan malam, terdapat masa yang menentukan pada pergantian waktu, ada yang mengejar matahari terbit dan tidak sedikit yang menunggu matahari terbenam, kehidupan berpacu di antara matahari terbit dengan matahari terbenam, selalu begitu sampai kita berganti dengan orang lain di bumi ini”

 

“Kekayaan materi seringkali menjadikan seseorang merasa lebih dari pada orang lain dan sombong sedangkan kekayaan hati sering menjadikan orang merasa hidup lebih berarti bersama orang lain karena bisa saling berbagi dan menghargai”


Rabu, November 03, 2010

Bisnis itu utama, pegawai itu sampingan

Menjadi pengusaha mengelola beberapa bisnis adalah impian setiap orang. Bisnis menawarkan banyak peluang dan pilihan dibanding pekerjaan lain. Dengan berbisnis aneka peluang mampu menghasilkan nilai lebih untuk kebermanfaatan bagi sesama. Hal ini dikuatkan oleh salah satu hadist Rasulullah bahwa sembilan dari pintu rizki adalah bisnis.

Dalam berbisnis dibutuhkan keberanian untuk mengambil resiko. Sebuah resiko sebanding dengan keuntungan yang diperoleh, hight risk hight return. Berbinis membutuhkan karakteristik mandiri, dimana dalam bisnis dibutuhkan keputusan-keputusan yang berakibat langsung terhadap bisnis. Berbisnis disamping membutuhkan keberaniaan dan juga kemauan kuat untuk bertahan dalam gelombang pasang dan surut juga membutuhkan untuk terus belajar hal-hal baru.

Ada beberapa resep sukses dalam bisnis, dalam tulisan ini akan dibahas dalam singkatan ATM-I. Kenapa mesti ATM-I, hal ini menyangkut dengan kemudahan dalam memulai sebuah bisnis bagi kita pemula dan juga masih berada dalam quadran employee dan self-employee, meminjam istilah Robert Kiyosaki.

Pertama adalah aksara A yang berarti Amati. Berbagai bisnis telah memiliki cerita sukses, tidak sedikit pebisnis handal menuliskan resep-resep kesuksesan meraka. Sebahagaian memberikan pelatihan-pelatihan seperti Purdi E chandra yang memiliki Universitas Entreprenuership yang telah melahirkan banyak pengusaha.

Memulai bisnis dapat dielajari dengan mengamati berbagai bisnis. Hari ini bisnis waralaba telah majemuk yang ditawarkan oleh banyak perusahaan. Kita ingat kisah sukses Teh Poci, Qtela, Rafi Kebab, Primagama, KFC, Mc. Donald. Dengan mengamati bisnis yang baru tumbuh dan diprediksi berkembang memberikan sebuah kekuatan untuk berinvestasi dengan resiko sedang. Hal ini disebabkan oleh sistem dan merek yang telah dikenal oleh konsumen.

Kemudian aksara selanjutnya T. Melakukan copy paste usaha. Mengikuti contoh bisnis waralaba adalah melakukan peniruan sistem. Banyak usaha sukses pada awalnya adalah meniru, kita tahu contoh terjelak adalah pembajakan, namun hal ini memberikan sebuah rahasia bahwa berbisnis mesti melakukan copy paste pada tahap awal.

Meniru adalah natural dalam melakukan bisnis pada tahap awal. Hal ini memberikan kemudahan dan keleluasaan untuk tetap survival dalam bisnis.

Selanjutnya aksara M yang berarti Modifikasi. Menarik tetang memodifikasi sebuah bisnis, orang Indonesia terkenal dengan kemampuan modifikasi sepeda motor, mobil dan lainnya. Berbagai ajang pemberian penghargaan modifikasi diberikan untuk hasil karya modifikasi. Dalam berbisnis mesti melakukan modifikasi untuk memberikan sentuhan tersendiri untuk membedakan dengan bisnis yang lain.

Aksara terakhir adalah Inovasi. Melakukan inovasi adalah sebuah keharusan untuk dapat mengembangkan bisnis. Banyak bisnis berasal dari sebuah inovasi. Seperti bisnis berbasis teknologi informasi sarat inovasi. Bagaimana Dell mampu mempercundangi pasar para pesaingnya dengan melakukan inovasi pada sistem pemesanan. Amazon.com melakukan inovasi jual beli yang mengalahkan berbagai bisnis ritel yang telah kuat dan besar.

Bulan okterber dan november adalah momentum penerimaan Pegawai Negeri Sipil. Berbagai kesempatan datang dari berbagai instansi. Penerimaan terbaru adalah kementrian departemen agama Republik Indonesia yang beralamat di www.kemenag.go.id. Sebelum tulisan ini di publish pengunjung ke situs tersebut telah mencapai lebih 2,398,729. Dari beberapa pos yang ditawarkan berdasarkan kebutuhan masing-masing kota dan kabupaten, terdapat sebuah rasio penerimaan dengan yang medaftar sampai 1:200 orang pada beberapa pos seleksi.

Pilihan berbisnis atau menjadi pegawai adalah hak dasar dari setiap orang. Ada banyak cara untuk menjadi pebisnis. Banyak pebisnis berawal dari pegawai yang kemudian melakukan pindah quadrant menjadi pengusaha. Banyak keuntungan ketika memulai usaha dari pegawai, pertama ada rasa aman ketika usaha gagal, kedua memiliki penghasilan tetap untuk menopang usaha yang disisihkan dari gaji.
Namun ketika pilihan datang antara peluang berbisnis dengan peluang menjadi pegawai maka pilihan terbaik adalah menangkap peluang bisnis dengan pegawai sebagai sampingan. Karena dalam bisnis ada sebuah rasio 200 peluang terdapat 1 orang pengeksekusi peluang dan berbanding terbalik 1 peluang diperebutkan oleh 200 orang.

Hari ini peluang banyak hadir di depan kita untuk menjadikan bisnis sebagai pilihan utama, disamping peluang untuk menjadi pegawai.

Sebutir nasi bercerita

Dari sebulir nasi ia mulai bercerita tentang banyak hal. Sebuah episode perjalanan dari berbagai tempat yang terkadang tidak terbayang. Ada kebahagian dan tidak sedikit kesedihan yang datang silih berganti. Namun ia tetap memberi sesuatu untuk layak disyukuri.
Kisah ini bermula sebelum masuk dalam mesin penggiling bernama geraham dan gigi yang di olah oleh lidah yang tidak bertulang, yang terkadang terlupa mengucap sebuah do’a sebagai wujud syukur kepada sang Pencipta.
Sebelum terhadir dalam piring. Perjalanan yang mendebarkan bersama air yang terus menghangatkan diri. Bersama beberapa saat membuat sebuah perubahan mendasar dari bentuk semula bernama beras menjadi nasi. Dengan suhu yang panas atas kebaikan api, air menjadi sahabat dalam perubahan.
Di luar sana terlihat seorang Ibu dengan raut wajah gembira mempersiapkan beberapa lauk pauk untuk menemani kami nanti di dalam piring. Ada bayam yang sedang dicuci. Terdapat potongan bawang putih dan merah yang telah siap untuk bergabung nanti dalam panci. Dengan cekatan dan profesionalitas ia menghadirkan sebuah bentuk pengabdian kepada keluarga yang tercinta. Namun pagi ini ia sedikit terlihat bersedih hati, terlihat dari guratan senyumnya yang tidak begitu indah. Ada kegusaran bahwa beberapa hari ini ia melihat saudaranya tidak bisa menikmati kami, karena di diuji, atau diperingati oleh alam. Bencana stunami dan gunung merapi telah menghancurkan sumber kehidupan.
Berdiam diri dalam periuk yang tertutup rapat. Pada mulanya terasa biasa saja, perlahan ada rasa yang berbeda. Beberapa menit kemudian air terus memberikan rasa yang tidak mengenakkan. Ia mengakibatkan badan ini menggelepar dan bergerak dalam ruang yang sangat panas. Seakan tidak memberikan tempat untuk istirahat sejenak. Apakah ini yang bernama perubahan?
Perubahan itu memiliki hal yang terkadang menyakitkan seperti berada dalam periuk panas. Begitu jugakah dengan beberapa orang yang tidak bertemu dengan kami beberapa hari? atau malah mendapatkan kami dari tong sampah atas sisa yang diakibatkan oleh tidak selera atau loba. Terkadang sedih hati ketika mengetahui kami atau saudara kami yang lain terbuang, namun di tempat lain kami sangat diharap datang.
Namun sebelumnya dalam perjalananku, aku adalah sebutir beras yang sebelumnya bersahabat dengan matahari. Ia memberikan kehangatan berbeda dari air sebelumnya. Dengan cahayanya aku bermandikan panas bersama sahabat-sahabat lainnya di penjemuran. Bermandikan cahaya matahari selama tiga hari, kami berkenalan dengan para pekerja yang dengan sikap mereka yang tidak mengenal lelah membolak-balikkan kami.
Terlihat tetesan keringat mengucur di dahi yang tetap tegar. Setegar batang padi yang tetap tumbuh dan akan menundukkan diri kala ia memiliki sesuatu yang berharga. Ia terkadang mengela nafas dalam untuk mengumpulkan tenaga mendorong kami untuk dikumpulkan di dalam sebuah karung. Ia adalah seorang ayah dari tiga orang anak. Bertempat tinggal yang tidak berapa jauh tempat penjemuran. Ia hidup dengan kesederhanaan dengan mengandalkan upah sebagai penjemur padi.
Hari ini adalah hari terakhir kami bertemu dalam penjemuran, masih kerasan untuk melihat para pekerja membentang kami di terik matahari. Ada kesungguhan untuk mendapatkan upah menjemur dengan beras nanti. Dalam karung kami mesti menunggu semalam untuk mendinginkan tubuh yang telah bermandi matahari, namun terkadang malah langsung masuk dalam mesin penggiling hari itu juga.
Dengan gerobak yang menjadi teman setia mengantar kami dari penjemuran ke dalam sebuah tempat yang tidak begitu besar. Terlihat seperti pasir hisap yang tidak menyisakan apa-apa. Ada ketakutan besar datang menghampiri, apakah tubuh akan terhisap dalam pasir hisap? Aku melihat terkadang ada sebagian orang yang berperilaku seperti pasir hisap, yang menghisap sisi kemanusiaan dan tidak menyisakan nurani.
Terlihat seorang Bapak tua sibuk memencet beberapa tombol dan mengamati bebrapa teman kami yang lebih dahulu masuk dalam pasir hisap. Suara degungan yang memekkan telinga telah menjadikan Bapak mengalami penurunan daya dengar. Degungan mesin yang meraung-raung seperti nyanyiaan banyak kepentingan, hujatan, kritikan dan terkadang keluh kesah kepada pemimpin negeri. Namun ia telah telah mengalami penurunan pendengaran dan tidak bisa lagi membedakan mana keluhan, nasehat atau hujatan.
Dalan pasir hisap ini kami bertemu dengan sejenis alat yang mampu melepaskan baju kami yang kuat menahan panasnya matahari, siraman air hujan. Terasa kesedihan mesti berpisah dengan pakaian yang telah bersama semenjak dalam rahim batang padi di sawah.
Di sawah kami adalah kebanggaan para petani yang dengan telaten semenjak awal merawat kami. Hari demi hari melihat semenjak pagi, siang dan sore hari. Ia mengetahui kapan mesti kami mendapatkan air dan mesti tidak memberikan kami air sama sekali. Kami dipelihara dari rumput-rumput yang mengganggu. Subur dan menghijaunya dedauanan kami mampu mengobati luka hati Pak tani dengan harga kami yang menyakitkan petani atas ketidakberpihakan para pengambil kebijakan.
Disuatu kesempatan kami diberikan nutrisi dan vitamin untuk dapat tumbuh subur. Bentuk kami yang menghijau adalah sebuah ungkapan terima kasih telah dipelihara. Dimasa itu aku berada dalam rahim dalam batang padi. Disanalah kami dipersiapkan untuk tampi kedepan. Ada akar yang tetap setia memberi nutrisi yang disalurkan lewat pembuluh-pembuluh tersusun rapi di batang padi.
Kala mineral dan vitamin mencapai pucuk daun yang terus melambai ditiup angin, ia memasak dengan bantuan sinar mentari yang besinar penuh. Setelah makanan jadi ia kembali mengirim ke akar untuk makan siang, dan tidak melupakan kami yang masih terbungkus dalam rahim. Bentukku yang masih cair berwarna putih susu adalah kebanggaan dari segenap anggota padi.
Perayaan kesuksesan kami ketika telah menjadi bulir-bulir padi adalah dengan merubah warna daun dan batang menjadi kuning yang bercampur dengan warna coklat dan hijau tua. Inilah masa terindah bagi petani, dan juga beberapa teman burung yang sesekali singgah untuk menikmati kami. Namun pada moment inilah perpisahan akan dimulai. Kami akan berpisah dengan sahabat-sahabat terbaik yang saling melengkapi.
Karena hari ini diantara kami ada di piring sebuah keluarga berada makan di restoran padang, warteg, rumah makan pasar atau mall, dan juga ada diantara kami yang hadir di piring para pengungsi gunung merapi, stunami di pagai di kepulauan mentawai, diantara kami ada di depan para petinggi, di depan relawan yang terus membantu pegungsi, dan di depan jutaan orang yang menikmati makan siang bersama kami: Nasi.
***
Selamat menikmati makan siang, semoga kita mengucapkan sepenggal do’a sebagai wujud syukur kala memulai dan mengakhir suapan terakhir.