Kamis, Juni 10, 2010

Penentuan dalam waktu

Berlalu tiap hari di hadapan kita, ada yang mampu bersahabat dan mendapatkan banyak manfaat, ada yang tidak mampu bersahabat dan mendapatkan banyak petaka, begitulah waktu, dalam satu sisi ia adalah sahabat terbaik dan juga musuh yang kejam, sudahkan kita besahabat dengan waktu, karna ia tidak akan datang kembali apa yang telah berlalu.

Rabu, Juni 02, 2010

Kopi Asin

Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta,
si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis.
Sedangkan si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia,
tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat.
si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.
Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop,
tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa suasana hening ini berlangsung cukup lama,
dan akhirnya si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, "Kita pulang aja yuk...?!?".

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, "Bisa minta garam buat kopi saya?"
Semua orang yang mendengar memandang dengan heran ke arah si pria, aneh sekali!!.
Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.
Si gadis dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?",
si pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut,
saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini.
Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman,
saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen kepada orang tua saya yang masih tinggal di sana ."

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca,
dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu.
Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya,
pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya.
Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana, masa kecilnya, dan keluarganya.
Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua.
Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya,
dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli .. betul-betul seseorang yang sangat baik.
Si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu! Untung ada kopi asin!!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah,
si gadis menikah dengan si pria dan mereka hidup bahagia selamanya,
dan setiap saat si gadis membuat kopi untuk si pria, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.
Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata,
"Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka.
Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu ... tentang kopi asin. Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama?
Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam.
Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus.
Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita!
Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini,
tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.
Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya,
saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak.
Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu,
dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu.
Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku.
Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku,
meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi. Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah.
Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?
Si gadis pasti menjawab dengan yakin, "Rasanya manis !! "

Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain,
tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan.
Sama seperti kejadian kopi asin tadi. Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.


Hidup adalah sebuah seni hidup yang teramat indah, Nikmatilah dengan tanggung jawab dan rasa syukur, Apapun kelebihan dan kekurangan pasangan anda, kalau
Anda tengah mulai punya pasangan terimalah kekurangan-kekurangan pasangan Anda dengan bijaksana.

(Sumber: sebuah milis) dan dipublikasikan oleh Theo Gregory

Jumat, Mei 14, 2010

1001 Masjid

Itulah sebuah fakta yang ada di depan mata, ketika kaki ini menginjak pelabuhan lembar, jam menunjukkan 16.00 waktu indonesia tengah. Mata ini langsung tertuju kepada masjid, karna solat zuhur telah berlalu dan asar telah datang. Maka kaidah dalam fikih kita mesti melakukan solat jamak takhir bagi musafir.

Mesjid untuk pulau lombok memiliki urakan yang sangat besar, hampir di setiap tempat ukuran masjid melampaui kebutuhan masjid itu sendiri. bangunan yang ada adalah masjid sebagai ruanga utama, didukung oleh tempat wudhu' dengan kemampuan yang tidak sebanding dengan kapasitas yang ada.

Beberapa kawasan masjid di pagar sedemikian rupa sebagai pembatas. Tidak menyediakan ruang untuk masuk bagi parkir kendaraan yang beritirahat, khusus masjid yang berada dalam lintasan perjalanan. Kesan yang di dapat adalah sebuah eksekutifitas. Kemudian dalam kawasan ini tidak ada tempat bagi unit usaha yang dapat di nikmati oleh para musafir.

Dalam pandangan sementara bahwa ada sebuah kemakmuran dengan bangunan masjid yang mewah dan seperti istana. Namun di sisi lain tetangga masjid menjadi bagian dari penghisapan seperti tentakel yang ada di gurita. Memang elok pertumbuhan yang kasat mata, namun lebih elok melihat pertumbuhan kualitas, kapabalitas manusia penghuni masjid.

Ada sebuah kontras besar antara 1001 pura di bali dengan 1001 masjid di NTB, akankah ini sebuah pertanda?

Senin, Mei 03, 2010

Singaraja Bali

Pagi yang cerah berangkat dari kota banyuwangi menggunakan kendaraan motor ketum HMI cabang Banyuwangi ke pelabuhan ketapang untuk menaiki kapal feri penyebarangan. Kondisi hujan yang mengguyur kota banyuwangi seakan sedih mengiringi perjalanan Menapak Nusantara selanjutnya.

Dengan biaya 3.700 kita telah bisa menyeberang ke pulau dewata bali. Pulau yang mempunyai keelokan agama hindu dan budha. Pulau tempat tujuan utama para turis. Ada satu hal yang membuat hati ini miris ketika membeli tiket di loket kapal feri. Ketika penulis memberikan uang sebesar Rp. 10.000,- kembalian yang di berikan adalah Rp. 6.000,- dan sisa kembalian 300 rupiah tidak di berikan kepada penumpang. Hal ini bukan hanya bagi penulis ada satu orang penumpang di depan penulis dan juga penumpang lainnya yang antri di belakang. Sebuah perilaku ketidakjujuran. Ketika ada sebanyak 1000 yang melakukan penyebrangan maka dana yang terkumpul adalah sebesar Rp. 300.000,-.

Berada di kapal sambil di sapa oleh laut yang lagi bermanin dengan gelombang sambil disiram oleh hujan yang menemani perjalanan ini. Satu jam adalah waktu tempuh perjalanan dari Ketapang ke Gilimanuk. Karna hujan maka penulis mesti menumpang bus akas asri untuk keluar. Beriringan dengan bus tersebut ada rombngan turi yang melancong dengan menggunakan sebuah biro tour bernama Panorama.

Di tempat keluar dari Pelabuhan gilimanuk maka hal pertama yang perlu di perlihatkan adalah Kartu Tanda Penduduk, seolah seperti masuk sebuah neraga baru saja. Karna penumpang mesti turun dari Bus dan berjalan untuk menunjukkan KTP. Begitu juga bagi penumpang biasa yang tidak menggunakan jasa bus. Untuk para tamu dari luar negri dengan tenang supir membawa mereka dengan mobl dan tidak mesti turun.

Fenomena ini berangkali berasala dari beberapa kasus pemboman bali dahulu. Kebijakan yang sebenarnya lemah dalam sisi pelayanan. Tidak jarang pelayan tidak ramah terhadap bangsa sendiri yang membawa berbagai kebaikan kepada penduduk itu sendiri.

Perjalanan di lanjutkan dengan menggunakan bus menuju singaraja sebuah kota di bagian pulau bali. Dalam perjalanan kita akan melihat berbagai tempat untuk memberikan sesaji di depan rumah penduduk. Setiap rumah penduduk menghantarkan sesembahan setiap hari. Adalah seubuah kepatuhan kepasa Sang Hiyang widie.

Bentuk dan rupa tempat sesaji lebih baik dari bangunan pemilik rumah. Masig-masing menghias dengan berbagai bentuk yang artistik. Ada sebuah perlombaan antar sesama untuk menunjukkan bahwa tempat sesaji mereka lebih baik. Dan beberapa pemandangan indah tetap menemani penulis selama perjalanan antara Gilimanuk ke Singaraja dengan biaya perjalanan Rp. 20.000,-.

Minggu, Mei 02, 2010

Burung Membuat Sarang

Satu persatu lembaran rumput di bawa terbang mengangkasa, kemudian di rajut menjadi sebuah rumah untuk melanjutkan generasi, ada kerjasama dan juga tidak mau mengambil bekas sarang burung lain yang tidak berpenghuni, begitulah burung pipit memberikan sebuah inspirasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak mengambil hak orang lain