Tampilkan postingan dengan label Socilica in politika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Socilica in politika. Tampilkan semua postingan

Rabu, Mei 21, 2014

Memilih 'Tuanku' Surau Indonesia

Prespektif Anak Surau Minangkabau

Membaca sejarah dan memahaminya merupakan bagian tak terpisahkan dari membentuk sebuah peradaban unggul. Kemajuan sebuah bangsa dan negara akan terlihat dari kemampuan warga bangsa untuk membaca sejarah masa lalu. Sejarah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses maju dan mundurnya sebuah bangsa.

Bila kealpaan untuk membaca sejarah bangsa sendiri menjadi sebuah keniscayaan, maka ibarat pelaut yang kehilangan pedoman rasi bintang atau GPS saat sekarang ini. Atau ibarat seorang musafir yang kehilangan tujuan dan tersesat dalam perjalanan.

Surau adalah nama khas dari minangkabau. Surau didirikan oleh para ulama, niniak mamak dan kaum. Hari ini masih lestari. Bila ada waktu maka singgahlah kebeberapa surau yang masih eksis sampai saat ini di beberapa daerah pariaman dan daerah batu sangkar. Diantaranya Surau Cubadak di Nagari Sicincin dan Surau Sei talang Nagari Koto Baru Batu Sangkar.

Eksistensi surau dan perubahan model dan bentuk tetap berlangsung sampai saat ini. Sebagian masih mempertahankan kekhasan masa lampau dan sebagian telah melakukan transformasi kelembagaan dan model pengelolaan. Hal ini dipengaruhi oleh kultur dan pendidikan dari alumni Surau.

Surau Jembatan Besi yang didirikan oleh Buya Dr. Abdul Hamid Hakim menjadi Pondok Pesantren Thawalib Padang Panjang. Surau Canduang yang didirikan oleh Buya Syekh Sulaiman Arrasuli menjadi Pondok Pesantren Tarbiyyah Islamiyyah. Dan masih banyak Pondok Pesantren yang berakar dari surau para Buya.

Dalam zaman modern Daarut Tauhid yang didirikan oleh Aa Gym dan Yusuf mansur adalah bentuk lain dari spirit mengembangkan surau. Dan berbagai bentuk lainnya yang terus berkembang. Surau dengan kearifan lokal masing-masing memiliki hal yang sangat mendasar untuk tetap ada. Hal ini terlihat dari pergantian Buya atau Tuanku Surau dari masa kemasa.

Melacak keberadaan alumni dari akademi surau dapat dilihat dan dipelajari dari jejak rekam karya. Prof. Dr HAMKA, KH. Agus Salim dan tokoh-tokoh sekarang yang masih berkomitmen untuk melahirkan Islam Rahmatan Lil'alamiin adalah bagian dari pendidikan akademi surau.

Keberadaan surau dan Buya sebagai pemimpin spiritual bagi kaum atau masyarakat sekitar adalah sebuah identitas dan perekat yang saling kuat menguatkan. Bila surau kehilangan buya atau tuanku dan tidak ada gantinya. Maka hal ini menjadi sebuah proses kehancuran masyarakat secara religius. Tidak ada lagi orang yang memberikan nasehat, panutan dan juga teladan untuk menghadapi dinamika persoalan hidup.

Hal ini sama dengan keberadaan pemimpin dari berbagai level, apakah Pemerintahan republik Indonesia yang sedang memilih 'Buya' dalam konteks memimpin surau besar bernama Indonesia. Atau 'Tuanku' Bupati atau Gubernur.

Dengan hati dan pilihan yang sadar memberikan amanah adalah sebuah kepercayaan. Menerima amanah adalah sebuah pertanggungjawaban. Bila hal ini tidak berada dalam hati dan pikiran yang bersih akan melahirkan konflik dan kekecewaan. 

Merapatnya beberapa tokoh muslim, baik yang berkiprah dalam Partai Politik, organisasi keagamaan ataupun pribadi adalah sebuah indikator dalam menentukan pilihan untuk menentukan 'Buya' Surau Indonesia. Seperti barisan dalam shalat berjamaah yang dipimpin oleh Buya, maka lihatlah barisan saf yang menjadi pengikut dibelakangnya. Apakah sebuah barisan rapi dan teratur. Kemudian lihatlah bagaimana kualitas kedirian seorang Imam yang memimpin.

Bila tidak, maka dapat dipastikan terjadi kekacauan barisan yang tidak memahami dan mengerti bagaimana menjadi pengikut yang baik. Karena seorang 'Buya' memiliki getaran energi, dalam disiplin ilmu kepemimpinan dinamakan passion seorang pemimpin. Ia menentukan kemana arah yang akan dituju dan apa yang hendak dicapai dalam berbagai dimensi kehidupan.

Maka, lihatlah calon 'Tuanku' Surau Indonesia dari mana ia berasal, dididik oleh Buya siapa dan dimana letak suraunya dulu dan sekarang!. Karena salah memilih Tuanku Surau Indonesia, maka kesalahan itu adalah kesalahan bersama dan mesti diperbaiki dengan tidak merusak barisan rapat dan lurus makmum.

Selasa, November 22, 2011

Tips Mudah dan Cepat di layani di kantor kelurahan

Melayani adalah puncak tertinggi dari tangga kepemimpinan. Sebagaimana yang di singgung oleh Ari Ginanjar dalam bukunya ESQ. Kemudian pakar manajemen Philip Kotler juga menyatakan melayani adalah bagian dari kepemimpinan. Berbagai bentuk teori dan standarisasi tentang melayani telah teraplikasi di berbagai instansi. Penerapan paling cepat adalah bisnis dan manajemen. Berebarapa perusahaan telah mendapatkan sertificat pelayanan excellent. Hampir setiap tahun sebuah majalah bisnis Swa sembada melakukan survey tentang kualitas pelayanan oleh perusahaan.

Namun, akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan oleh sektor pelayanan publik dan pemerintahan. Ada rasa rindu bisa menikmati standar pelayanan sekelas perusahaan bisnis. Ada harapan terdapat perbaikan kultural tentang pelayanan publik oleh instansi pemerintah. Perbaikan demi perbaikan sebagian sedang berlangsung namun kalah cepat dari ekspetasi masyarakat yang membutuhkan pelayanan prima.

Hari ini (21/11/2011) kesempatan saya untuk mencoba standar pelayanan publik dari pemerintahan. Pagi ini memiliki waktu untuk memperbaharui Kartu Keluarga. Beberapa bulan yang lalu belum bisa meluangkan waktu untuk mengganti Kartu Keluarga yang lama dengan yang baru. Karena kartu Keluarga yang baru adalah dasar untuk membuat Elektonik Kartu Tanda Penduduk atau E-KTP.
Pemerintah lewat Mentri Dalam negri mengeluarkan peraturan tentang untuk membuat nomor indentitas tunggal untuk seluruh penduduk Indonesia. Lewat peraturan inilah maka lahir pembuatan E-KTP bagi seluruh masyarat Indonesia. Pembuatan E-KTP menjadi database terintegrasi bagi masyarakat dan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan yang tidak tumpang tindih. Beberapa manfaat E-KTP adalah makin sederhana dan terintegasinya database penduduk.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian ketika ingin mendapatkan pelayanan tidak berbelit dan menyusahkan.
  1. Milikilah surat pengantar dari Ketua RT. Surat pengantar ini merupakan syarat utama untuk mengurus berbagai keperluan ke Kelurahan. Dalam surat pengantar akan disebutkan keperluan yang akan di urus. Mulai dari Perubahan Kartu Keluarga, perpanjangan KTP, pembuatan E-KTP, surat keterangan domisili, SIUP, TDP, HO. Tambahan dalam surat pengantar adalah tanda tangan Ketua RW. Dibeberapa RT dan RW terdapat sumbangan bersifat sukarela untuk keperluan operasional RT dan RW.
  2. Persiapkan foto copy KTP, foto copy Kartu Keluarga dan juga foto copy surat pengantar. Hal ini untuk berjaga-jaga apabila terjadi kehilanan data yang telah diserahkan kepada pihak Kelurahan.
  3. Siapkan uang dengan jumlah tertentu. Karena beberapa pengurusan beberapa izin membutuhkan uang ekstra untuk mempermudah urusan. Namun jangan pernah tanya tentang kwitansi pembayaran untuk uang ekstra, hal ini lebih dikenal dengan uang transportasi, makan atau uang rokok.
  4. Carilah informasi tentang biaya dan tata cara pengurusan berbagai administrasi pelayanan publik. Ketikdatahuan akan informasi menjadi ladang yang sangat empuk terjadi berbagai penyelewengan. Apabila tidak memiliki waktu yang cukup minta bantuan kepada pesuruh RT atau RW.
  5. Untuk surat penggantian kehilanan KTP milikilah surat keterangan kehilangan dari Pihak Kepolisian setempat dengan melampirkan foto copy identitas yang masih ada. Hal ini dibutuhkan untuk mempermudah mengeluarkan KTP baru.
  6. Milikilah fotocopy KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Surat Nikah yang tersimpan rapi di tempat yang mudah diambil untuk backup administrasi ketika kehilangan KTP asli, Kartu Keluarga yang rusak atau Akta Kelahiran. Bisa juga melakukan scanning dan menyimpan dalam bentuk digital.
Harapan untuk dapat dilayani sebagaimana pelayanan perusahaan bisnis oleh pelayanan publik terutama pemerintah masih membutuhkan waktu yang panjang untuk perbaikan. Dibutuhkan perubahan DNA aparatur negara pelayanan publik. Sebagaimana mana Renald Khasali menyatakan bahwa perubahan itu bisa berjalan untuk mencapai tujuan maka yang dibutuhkan adalah perubahan DNA dengan model Re-Code (mengkode ulang) sistem pelayanan publik terutama Sumber Daya Aparatur Negara.

Bagaimana pengalaman Anda mengakses pelayanan publik? semoga menyenangkan, salam

***
Mau Sehat dan mendapatkan Pendapatan Tambahan Jutaan? Klik Disini

Rabu, November 10, 2010

Menghargai pahlawan dalam lembaran uang

Hampir setiap hari kita menggunakan uang sebagai alat transaksi. Mulai dari membeli rokok bagi perokok yang terkadang mesti meminta tolong kepada anak kecil atau anak sendiri. Sebagai tradisi yang tidak baik dalam sisi pembelajaran. Kemudian membeli keperluan masak memasak bagi ibu rumah tangga yang menjadi pahlawan bagi keluarga. Mulai dari minyak goreng yang melonjak naik, gula, sabun, ikan, cabe, susu dan sayur bayam, toge, wortel. Kenaikan ini tidak sebaik kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan di lantai Bursa Efek Jakarta yang mendatangkan keuntungan bagi pemilik saham. Sedangkan bagi ibu-ibu ini menjadi sebuah ketidakberuntungan karna Indeks Harga Sabun dan Gula naik maka jumlah pilihan terbatas.

Uang sebagai alat transaksi memiliki gambar dua sisi yang saling melengkapi. Setiap lembaran mempunyai karakteristik yang membawa sebuah stata sosial bagi pengguna uang terutama sebagai alat transaksi. Ketika uang lima ratus rupiah seri kertas yang bergambar rumah adat pada satu sisi dan orang utan pada sisi lain menciptakan sebuah lelucon. Pak Si Molek ada pak? tanya Melek kepada bapak molek. Moleknya tidak ada dirumah, katanya ia pergi kekebun untuk mengambil buah rambutan yang lagi berbuah. Kalau begitu pak, biar saya menyusul si molek mengambil buah rambutan”. Dengan sekali balik maka di dapatlah molek lagi duduk santai di atas dahan sambil bergelayutan. Lelucon ini sering diganti dengan nama teman.

Kembali dengan semangat dan spirit kepahlawanan yang telah memberikan sesuatu yang berharga bagi penerus untuk memelihara jerih payah pahlawan. Salah satunya adalah menjadikan gambar pahlawan pada lembaran uang yang kita gunakan sehari-hari.

Pada lembaran uang Rp. 1.000,00 kita akan bertemu dengan senyum Kapitan Pattimura . Sedangkan pada lembaran uang Rp. 2.ooo,00 kita akan disapa oleh Pangeran Antasari. Dan pada lembaran uang Rp. 5.000,00 kita bertemu dengan Tuanku Imam Bonjol, sedangkan pada uang Rp. 10.000,00 kita bisa berbincang Sultan Mahmud Badaruddin II. Ketika bertemu dengan uang Rp. 20.000,00 kita bertemu dengan pahlawan Oto Iskandar di Nata. Namun ketika kita bertemu dengan uang Rp. 50.000,00 kita bisa mempelajari perjuangn I Gusti Ngurah Rai. Untuk uang tertinggi adalah lembaran Rp. 100.000,00 bergambar DR. Ir. Soekarno dan DR. H Mohammad Hatta sebagai proklamator kemerdekaan.

Manfaat dari penggunaan gambar pahlawan dalam lembaran uang memberikan pembelajaran tentang sejarah kepahlawanan untuk anak bangsa. Dengan gambar pahlawan memunculkan pesan yang terus menerus untuk kita melahirkan sejarah kepahlawan sendiri. Mengutip perkataan Jhon F Kennedy “Jangan tanya apa yang negara berikan kepadamu, namun apa yang telah engkau berikan kepada negaramu”.

Namun dalam keseharian ada sebuah budaya yang telah mengakar untuk tidak menghargai lembaran-lembaran uang berupa. Pertama, meremas uang seperti bola, ini sering dilakukan oleh anak-anak yang tidak mendapatkan pembelajaran tentang menghargai selembar uang. Kedua. Menstaples uang, sering dilakukan oleh para pedagang yang takut kehilangan lembaran uang. Akibatnya adalah kerusakan uang dan bentuknya yang terkadang koyak, namun tidak jarang juga para teller bank melakukan hal yang sama. Ketiga, mencoret lembaran uang. Berbagai tulisan numpang di lembaran uang, ada yang membuat kalimat puisi, ungkapan hati, nomor HP dan tidak sedikit ungkapan caci maki.

Namun coba kita bertanya sejauh mana kita mengenal secara jauh tentang pahlawan yang selalu memberikan sapa ketika menggunakan uang untuk melakukan transaksi sehari-hari?
Bagaimana perjuangan Otto Iskandar Di Natta, Tuanku Imam Bonjol yang mesti di buang ke Makassar dan meninggal disana? dan Bagaimana perjuangan Pangeran Antasari dan pahlawan lainnya. Pertanyaan ini semoga menggugah kita untuk mempunyai spirit kepahlawanan yang dibutuhkan negeri ini keluar dari bencana kebejatan moral dan perilaku tidak berpihak kepada kebenaran.

Sudahkah kita bertransaksi dengan uang hari ini dengan senyum pahlawan yang telah mengukir sejarah kebaikan dan kita menghargai jasa mereka dengan hal sederhana tanpa merusak lembaran?
Selamat hari pahlawan nasional

Kamis, Oktober 28, 2010

Dimanakah Pemuda Itu?

Sumpah pemuda yang menggetarkan dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang membuat sebuah daya dobrak untuk penyusunan bangsa Indonesia. Pengucupan sumpah pemuda yang diwakili oleh organisasi kepemudaan mulai dari Jong Sumatera, Jong Jawa, dan Jong Betawi telah menghantarkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pemuda sebagai generasi yang mempunyai spirit dan daya jelajah tinggi di nyatakan oleh Soekarno “Beri aku 1000 orang tua maka akan kupindahkan gunung semeru sampai keakar-akarnya. Berikan aku satu orang pemuda maka akan ku gonjang dunia”. Spirit dan daya juang pemuda telah menghadirkan breakthought dari sebuah kebekuaan.

Pemuda hadir sebagai pencipta sejarah. Langgam sejarah dibelokkan untuk di tulis sendiri oleh pemuda. Sumpah pemuda adalah awal membelokkan sejarah bangsa Indonesia dari ranah penjajahan yang telah lama. Dengan sumpah pemuda sebagai pertanda bahwa sejarah ditulis oleh anak bangsa sendiri.

Dihari momentum sumpah pemuda, berbagai kegiatan lahir dari sebuah spirit memperingati sumpah pemuda, mulai dari seminar, diskusi publik, penghargaan bagi pemuda-pemudi yang berprestasi dari berbagai aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat. Tidak ada yang salah dengan kegiatan yang mampu memberi daya gugah untuk menstimulus pemuda untuk dapat kembali menuliskan sejarah sendiri.

Diantara nada optimis tentang pemuda hari ini, tidak sedikit juga yang menyatakan sikap pesimis tentang realitas pemuda hari ini. Dengan banyak pemuda hanyut dalam pergaulan bebas, terlibat narkoba dan terlempar dari kehidupan bermanfaat dengan menjadi pribadi rapuh di sudut-sudut jalanan.

Melihat potret pemuda hari ini kita akan melihat berbagai karakteristik yang saling mewakili segmentasi realitas pemuda. Pada tulisan ini akan di bagi menjadi empat segmen pemuda yang berlandaskan kepada dua garis pembeda, pertama garis independen sebagai garis horizontal, kedua aktivitas pada garis vertikal.

Dengan perpotongan garis vertika dengan harizontal melahirkan empat segmentasi pemuda yang terdiri dari kombinasi

1. Pemuda Copy Paste. Karakteristik ini terlahir dari pribadi yang tidak mempunyai independen dalam mengambil sikap. Semua pengaruh negatif dan budaya yang merusakan akan menjadi sebuah tren yang mesti diikuti. Pemuda copy paste memiliki aktivitas yang tinggi untuk dapat menyesuaikan didri secara cepat dan hampir sama dengan pengaruh yang datang, tanpa pernah untuk mengkritisi.

2. Pemuda Kreatif. Karakteristik ini terlahir dari sikap independen yang tinggi dan juga aktivitas kegiatan yang bermanfaat. Terlahir sebagai pemuda yang memiliki peranan dalam berbagai bidang kehidupan. Menjadi lokomotif perubahan ke arah yang lebih baik. Mencipta kreatifitas yang dapat membanggakan bangsa Indonesia.

3. Pemuda Statis. Karakteristik ini menggambarkan pemuda yang bersifat dependen dalam menentukan sikap dan juga mempunyai aktivitas yang rendah. Inilah pemuda yang terpinggirkan dari realitas kepemudaannya. Pemuda statis menjadi sebuah penyakit sosial dan menghadirkan dan menciptakan keresahan.

4. Pemuda Pembelot. Mempunyai sikap independen tanpa diiringi dengan aktivitas yang membangun. Mempunyai daya kritis yang mampu menggetarkan siapapun di hadapannya dalam berdiskusi, namun tidak memiliki aktivitas yang merusak kehidupan.
Semoga dengan momentum sumpah pemuda, dengan spirit untuk mengukir sejarah, lahir pemuda Indonesia yang membelokkan sejarah untuk Indonesia Jaya. Selamat hari sumpah pemuda.

Rabu, Oktober 27, 2010

Kotak Pandora Bencana

Silih berganti bencana menghampiri dalam rentang tahun 2010. Seakan tidak menyisakan ruang untuk memulihkan diri. Bencana banjir bandang yang menimpa wasior di provinsi Papua barat, yang sampai hari masih dalam tahap recoveri. Bencana wasioar di sinyalir sebagai akibat dari illegal loging yang telah lama berlangsung.

Kemudian disusul dengan Bencana Gempa dan Stunami yang melanda kepulauan mentawai dengan Korban terdiri dari: 154 tewas; hilang 400 org, lk berat 15 org; lk ringan 25. Kerusakan: SD 3 buah;SMP 1 bh; rmh dinas 4 unit; rmh ibadah 5 bh; jembatan rusak berat 5 unit; rmh warga 291 rsk berat,190 rusak ringan( Posko BPBD 14:17 WIB).

Kemudian bencana datang dari daerah tengah pulau jawa. Gunung merapi mengeluarkan awan panas dengan korban meninggal 29 orang dan termasuk Mbah Maridjan sebagai juru kunci gunung merapi. Awan panas mengakibatkan kerusakan lahan pertanian, peternakan. Menghancurkan rumah sarana ibadah, fasilitas publik, sekolah dan alat deteksi yang berada di sebelah selatan. Sedangkan bencana Gunung Sinabung yang sama mengeluarkan awam panas yang merusak lahan pertanian dan juga peternakan masyarakat di sekitar gunung Sinabung.

Sebelum bencana gempa kepulauan mentawai dan gunung merapi di Yogyakarta, Ibukota Jakarta mengalami banjir-dalam bahasa pemerintah genangan-yang mengakibatkan macet total di banyak titik Jakarta. Banjir ini mengakibatkan kerugian yang mencapai milyaran rupiah.

Ketika bencana alam datang yang menghancurkan dan meluluhlantakkan apa yang ia lalui, seperti banjir wasior yang menghanyutkan hampir satu kota. Gempa Mentawai yang menghancurkan Kepulauan mentawai dan juga gunung merapi yang menghancurkan pemukiman di sekitar gunung merapi.
Namun bencana tesebut adalah sebuah pemula dari bencana-bencana selanjutnya. Dalam arti kata penanggulangan korban bencana, recoveri bencana dan juga pemulihan bencana. Terdapat beberapa bencana yang terkadang lebih menyedihkan dan menyakitkan, yang ditimpakan secara segaja oleh kebijakan dan keputusan dari level pemerintah pusat sampai daerah.

Pertama, bencana kekurangan pasokan bantuan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, selimut dan obat-obatan. Teringat bencana stunami aceh yang menghancurkan hampir seluruh wilayah pesisir bagian barat aceh. Keterlambatan pasokan bantuan mengakibatkan munculnya penyakit dan kelaparan pengungsi yang masih hidup. Masih segar dalam ingatan bagaimana korban tsunami aceh berebut makanan yang di lemparkan dari atas helikopter.

Kedua, bencana recoveri pegungsi. Berbagai kebijakan untuk melakukan recoveri keluar dengan ketukan palu dan di kuatkan dengan berbagai peraturan mulai level undang-undang sampai peraturan daerah. Namun recoveri tidak menyentuh kebutuhan azazi. Pasca gempa sumatera barat pada tanggal 30 September 2009 yang telah berlalu satu tahun. Ternya bantuan recoveri bencana gempa yang merupakan hak korban belum di terima sepenuhnya. Bencana ini di tingkahi dengan berbagai kecurangan dan juga penyunatan.

Ketiga, bencana traumatik. Bagaimana trauma yang mendalam masih ada dalam ingatan korban bencana. Penanggulangan ini membutuhkan pendekatan holistik dan sistematik untuk para korban bencana. Dibutuhkan ahli terapi yang terdiri dari psikologi dan pendampingan berkelanjutan.

Keempat, bencana korupsi bantuan. Hal ini bencana yang menghancurkan sisi kemanusiaan. Ketulusan orang membantu korban bencana dengan sengenap ketulusan tidak mencapai sasaran yang diinginkan. Masih ada yang dengan kerakusan dan ketidakmanusiaan mau dan mampu mengkorupsi bantuan. Banyak kasus telah terjadi bagaimana korupsi bantuan menjadikan tragedi bencana seperti kotak pandora.

Kelima, bencana kealpaan dan kelalaian. Beragam bencana telah datang silih berganti dari sabang sampai wasior dengan berbagai bentuk: Gempa bumi yang diiringi dengan stunami, banjir bandang, lumpur lapindo, gunung merapi, longsor dan kebakaran hutan. Namun tidak menjadikan sebuah pembelajaran yang mampu mendidik kita sebagai masyarakat untuk mempersiapkan diri dengan bencana yang akan datang. Dimana masih terjadinya korban yang tinggi dengan pola bencana yang sama.

Keenam, bencana keangkuhan dan kepongahan pengambil kebijakan. Sebuah penyataan pimpinan DPR Ri bahwa korban bencana adalah sebuah konsekwensi yang tinggal di pulau dan tepi pantai. Inilah bencana yang mencerminkan ketidakempatian pimpinan bangsa ini. Dari sikap mereka maka bencana yang diakibatkan oleh kepongahan dan keangkuhan dalam mengakibatkan keputusan yang menambah derita korban bencana.

Pray for Indonesia. semoga mampu menjadi kita masyarakat yang tidak alpa dengan kesalahan dan bersyukur dengan karunia. Bangkit Indonesiaku, Karna badai pasti berlalu.

Bencana alam Vs Bencana Politik

Gempa mengguncang kepuluan mentawai yang dimulai dari pukal 9.45 dengan kekuatan 7,2 SR dengan kedalaman 45 km dan mempunyai potensi stunami. Kemudian susul menyusul gempa yang berkuatan lebih rendah sampai 16 kali lebih. Begitulah sebuah status dari pertemanan di facebook yang diambil dari BMKG beberapa saat setelah terjadinya gempa.

Gempa merupakan efek dari gerakan lempengan bumi yang terus menerus menyesuaikan diri untuk kembali stabil. Gempa bumi mentawai yang dekat dengan pulau pagai selatan telah menghancurkan bagunan fisik dan juga mengakibatkan mininggal korban lebih dari 100 orang.

Dalam sebuah wawancara di metro tv dari ilmuan LIPI menyatakan bahwa gempa mentawai yang menelan korban banyak diakibatkan oleh kurang focusnya dalam sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana melakukan evakuasi ketika terjadi gempa.

LIPI telah melakukan penelitian dan juga penempatan alat-alat pendeteksi gempa. Dibeberapa tempat telah dilakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi ini hanya menyentuh sedikit dari tiga pulau besar di Kab. Mentawai yang terdiri dari Pulau siberut, pulau pagai utara dan pulau pagai selatan.

Dari berbagai pemberitaan belum dapat dilihat berapa kerusakan yang diakibatkan oleh gempa di kepulauan mentawai sampai saat ini. Hal ini diakibatkan oleh sulitnya akses media komunikasi dari tempat bencana.
Kemudian Gunung merapi di provinsi Yogyakarta kembali mengeluarkan awan panas. berita terakhir dalam siran Televisi dan juga laporan dari berbagai media massa, baik secara online dan media cetak. Korban meninggal akibat sesak nafas dari muntahan awan panas berjumlah lebih 25 orang.

Kabar terbaru memberitakan bahwa juru kunci gunung merapi Mbah Marijan telah meninggal dunia, Innalillahi wan innailaihi raajiuun. Beliau meninggal dengan kondisi sujud menandakan tingkat kepasraan akan ketentuan Allah Swt.

Seakan alam bergerak kembali melapaskan kepenatan untuk menanggung beban perbuatan manusia yang hampir pogah dan melupakan bahwa alam memiliki kekuatan yang besar. Gempa bumi dan juga letusan gunung merapi adalah sebuah musibah yang tidak dapat di prediksi kapan terjadi dan bagaimana dampak yang diakibatkan.

Setiap bencana akan membawa duka mendalam, kehilangan orang yang dicintai, rumah tempat berdiam dan juga usaha yang menopang kehidupan. Kemampuan orang untuk menerima dari bencana gempa bumi dan juga letusan gunung merapi sebagai sebuha ketentuan dari Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Berbeda dengan bencana politik yang diciptakan oleh pemimpin dan elit politik. Bencana ini tidak terlihat seperti kehancuran oleh gempa dan juga letusan gunung berapi. Namun ia menghancurkan kemanusiaan yang tertimpa oleh bencana gempa dan juga letusan gunung berapi.

Bencana politik mencabik kemanusiaan dan menambah penderitaan. Menjadi sebuah luka yang akan terus berdarah dan perih ketika kejadian-kejadian bencana alam datang kembali. Berangkatnya anggota Dewan Kehormatan ke Yunani untuk belajar etika menghabiskan dana 5,2 milyar lebih adalah sebuah bencana politik yang menambah luka.

Efek yang ditimbulkan dari bencana politik adalah semakin apatisnya masyarakat tentang negara dan juga wakil-wakil mereka di palemen. Efek bencana politik melebihi kehancuran fisik dan mampu membunuh lebih banyak manusia. Bukan hanya satu generasi namun sampai kepada 2 atau 3 generasi selanjutnya.
Setiap musibah bencana alam membawa sebuah duka mendalam bagi korban dan sanak keluarga, namun musibah dari bencana politik membawa duka dan kerusakan bagi masyarakat secara keseluruhan secara sistematis dan sangat mengerikan.

Turut berduka atas meninnggalnya korban bencana Gempa Bumi di kepulauan mentawai dan Letusan Gunung Merapi Jogjakarta. Semoga bencana ini tidak diiringi lagi oleh bencana politik para pemimpin dan elit bangsa.

Rabu, April 14, 2010

Analogi mempelajari sejarah


Sebuah metromini telah sampai di tempat tujuan. Para penumpang telah turun. Disana terdapat bapak sopir yang menjadi pemegang kendali utama. Knek yang membantu menaikkan penumpang serta menurunkan penumpang. Mengutip bayaran bagi penumpang.
Berbagai aktivitas dilakukan oleh penumpang. Ada yang tidur dengan pulas dengan guncangan kendaraan. Ada yang membaca Koran atau malah bermain dengan hp sambil berbicara atau main smsan. Ada yang menerawang dan hanyut dalam pikiran sendiri. Ada yang menawarkan dagangan kepada penumpang. Ada yang konser dengan berbagai lagu kesukaan dan berbagai aktivitas lainnya.
Dengan menggunakan analogi menggunakan metromini yang berjalan. Apa yang telah di lewati adalah masa lalu menjadi sejarah. Dan sekarang adalah masa sekarang dan didepan adalah sejarah masa depan. Masing-masing orang yang menumpang dalam perjalanan sejarah selalu mempunyai kesadaran untuk menjadi dirinya sendiri.
Barangkali ada yang menjadi pribadi yang mengukir sejarah dengan melakukan hal yang postof dengan membaca atau melakukan sesuatu. Sejarah saudagar atau entrepreneur adalah mencipkatan sebuah peluang usaha dari penumpang sejarah. Bagi sopir adalah orang yang membawa sejarah dari tempat asal sampai tujuan yakni habisnya trayek.
Banyak pandangan yang memberikan sebuah perjalanan berbeda dengan orang lain namun ia tidak mengerti mengapa ia berada disana.
Terdapat empat karakter orang dalam sejarah.
Pertama. Orang yang membuat sejarah. Inilah mereka yang mempunyai kesadaran tinggi tentang realitas dan juga hidup dalam realitas. Ketika kesadara itu menjadi pemicu untuk menciptakan idealitas dengan suara nurani. Berjuang untuk sesuatu yang merupakan hak dasar setiap orang. Mereka adalah para innovator, creator, pahlawan kemerdekaan dan juga para penemu.
Kedua. Mereka yang menyaksikan pembuat sejarah melakukan kerja mereka. Menjadi bagian tengah yang menunggu sejarah apa yang akan terjadi.
Ketiga. Mereka yang hanya bisa membicarakan sejarah dalam kehidupan. Mempelajari dan tidak mendapatkan apa-apa selain sebuah nostalgia belaka.
Keempat. Mereka yang melakukan sebuah perubahan sejarah dengan melakukan beberapa hal untuk mengaburkan kebenaran fakta-fakta sejarah untuk kepentingan.
Dimanakah posisi kita dalam sejarah untuk Islam, dan juga kehidupan yang lebih baik di dunia?

Kamis, Maret 04, 2010

Indeks Harga Sabun dan Garam

Ketika kita mendengat kabar pasar dan market review di dua statiun news televisi milik swasta akan di berikan perkembangan pasar berupa pergerakan saham-saham. Beberapa saham mengalami kenaikan harga, beberapa sahama mengalami penurunan harga. Terdapat Penawaran Saham Baru atau IPO. Kemudian ada analisis bagaimana pengaruhnya kepad Indeks Harga Saham Gabungan.

Tidak hanya sampai disana, koran dengan oplah nasional dan beberapa majalah ataupun tabloid memberikan halaman full untuk mencatat pergerakan harga saham. Pergerakan saham komunity, pergerakan pertukaran mata uang dan juga tidak lupa tentang efeknya terhadap pengambilan keputusan.

Semua itu adalah pasarnya mereka yang memiliki saham, atau perusahaan yang telah menjadikan persusahaan listing di Bursa Efek, efek pergerakan mempengaruhi ekuitas dan keuangan perusahaan, begitu kata dosen saya yang mengajar Mata Kuliah Manajemen Keuangan Lanjutan yang saya hanya mendapat nilai "B" biasa.

Ketika resesi ekonomi dan jatuhnya harga-harga saham di pasar bursa yang mengalami kerugian adalah perusahaan dan pemegang saham. Namun yang menjadi catatan adalah kerugian ini hanya dalam sebuah hitung-hitungan di atas kertas dan bukan menghilangkan uang mereka.

Namun ketika saya berada di pasar tradisional dan beberapa pasar pagi, perubahan beberapa harga komuniti mempengaruhi pengeluaran ibu rumah tangga. Bagi kita yang biasa di kota besar metropolitan belanja kebutuhan dapur melalui Mpok dan Mang yang menggunakan gerobak yang telah menjadi langganan.

Pergerakan harga Sabun dan Garam tidak menjadi berita di kabar pasar dan market review yang terjadi di beberapa tempat. Tidak akan ada analisa efek yang terjadi apabila harga sabun mengalami kenaikan harga atau penurunan harga. Para pakar seolah tidak memeliki pisau analisa atau tumpul sama sekali. Pergerakan kenaikan harga satu komuniti akan mempengaruhi pembelian komuniti lainnya. Ada pergerakan dinamis dari efek bergeraknya satu harga.

Sebagai contoh, ketika sabun yang biasanya di beli seharga Rp. 2.500,- kemudian naik menjadi Rp. 3.000,- maka pada saat itu kita sebagai pengambil kebijakan belanja akan menurunkan jatah pembelian Sampo atau bawang sebagai pelengkap alat masak.

Akibat pergerakan harga ini adalah menurunkan berbagai pilihan untuk hidup sehat dan berkualitas degan mengurangi jumlah item barang yang di belanjakan. Maka ketika ada pergerakan harga yang naik maka ibu-ibu akan riuh dan menjadi berita nasional ibu-ibu karna uang sebagai bentuk saham dalam Indek Harga Sabun dan Gula mengalami penurunan harga.

Inilah kontras pasar yang memeliki karakteristik tersendiri dan juga pelanggan tersendiri. Pemerintah seakan kebakaran jenggot dengan penurunan harga IHSG di Pasar Modal, dan kehancuran harga saham komunitas, dari pada kehancuran pasar tradisional karna pergerakan kenaikan harga komuniti di Indeks Harga Sabun dan Garam.

Inilah realitas keberpihakan yang berketidakadilan antara Indeks Harga Saham Gabungan dengan Indeks Harga Sabun dan Garam.

Presenter Agama Bayaran!

“Bangunlah, lalu berilah peringatan”! (Q.S Almuddatstsir:2)

Seorang pengurus DKM sebuah mesjid tidak menyangka bahwa ustad kondang tersebut memberikan patokan bayaran sejumlah 5 juta rupiah untuk bisa hadir di pengajian untuk memperingati Maulud Nabi satu tahun yang lalu. 5 juta adalah jumlah yang besar untuk memanggil ustad yang telah melang-lang dibeberapa stasiun televisi. Dengan gaya khas telah mampu menghipnotis penonton yang juga merupakan jamaah solat di mesjid.

Atas kehendak rapat pengurus yang mendengar pendapat beberapa jamaah untuk dapat menghadirkan supaya bisa melihat secara langsung, tidak hanya di televisi. Suaranya seakan menghipnotis pemirsa dan juga mampu sekali-kali menguras air mata dengan tausiah yang mengena.

Aktivitas memberikan dakwah adalah sebuah kebutuhan yang merupakan tanggungjawab setiap orang pada tingkatan tertentu sesuai dengan kapasitas, kualitas diri sang pendakwah. Namun fakta dan realitas yang telah berlangsung lama memberikan kenyataan. Bahwa ustad telah memiliki segmentasi pasar dan memasang tariff berdasarkan tingkat popularitas, yang berhubunan dengan upah yang di dapat oleh para presenter bisnis handal, presenter praktisi handal, motivator terkenal, selebriti terkenal, penyanyi handal dan popular. Penyakit ini menjangkiti para presenter agama atau pendakwah atau dai.

Dengan bayaran tinggi yang telah di sepakati dan di bayar uang muka maka janji yang di buat jauh hari akan dipenuhi dan dia akan datang. Ketika tidak mampu memberikan bayaran di depan maka jangan berharap untuk datang dan memberikan tausiyah penyejuk. Karna persoalan dengan bayaran rendah ia mengemukakan alasan untuk mengelak dan tidak mau menyampaikan kebenaran atau pembelajaran tentang agama untuk ummat yang masih butuh pembelajaran.

Akibat yang terjadi adalah ada sebuah lubang besar yang meganga di dalam pemaham ummat islam tentang islam itu sendiri. Bagi mesjid yang jamaahnya adalah mereka yang mempunyai dana besar, mampu untuk mendatangkan orang-orang yang berkemampuan dan berkualitas dengan bayaran yang besar.

Akan berbeda dengan masyarakat yang tidak mempunyai kemampuan untuk mendatangkan presenter agama bayaran, maka cukuplah dengan apa yang ada saja. Dengan kemampuan terbatas dan juga kualitas yang sedang dari seorang da’I maka kualita jamaah sebanding dengan kualitas da’i.

Belajar dari beberapa ulama yang pernah ada, seperti buya Hamka, K.H yang membangun basis di sebuah mesjid sebagai pusat pendidikan ummat tanpa di mintai bayaran. Semuanya mereka mempunyai sebuah tempat berupa sekolah atau pesantren untuk mendidik ummat. Ummatlah yang datang untuk belajar.

Kita kenal dengan buya hamka dengan tetap membina kajian subuh di mesjid alazhar. Kita kenal dengan buya zarkashi dengan tempatnya di gontor, kita mengenal dengan KH. Solehuddin yang menempati pesantren tebu ireng. Buya Inyiak canduang KH Sulaiman Arrasuli dengan mendirikan tarbiyah islamiyyah memiliki tempat yang merupakan pusat pendidikan ummat.

Menetap pada suatu tempat menjadikan mereka secara konsisten dapat membentuk karakter ummat. Mengikuti jejak ini adalah beberapa da’i seperti Da’i Abdullah Gymnastiar, Da’i Arifin Ilham yang membangun halaqah zikir az-zikra. Namun untuk memanggil membutuhkan sebuah bayaran tingkat tingi juga sekian juta.

Jika dalam setahun terjadi 4 moment peringatan hari besar yang terdiri dari Maulid Nabi Muhammad Saw, Isra dan mi’raj, Nuzulul Quran, Idul Firti dan Idul Adha, tahun baru hijriah, dan juga peringatan lainnya yang lebih banyak kepada pesta-pesta dan belum kegiatan lainnya yang mengandung syirik seperti sedekah bumi, laut yang sampai hari ini masih di pelihara oleh pemerintah sebagai asset pariwisata.

Menelisik lebih lanjut tentang presenter memiliki beberapa keunggulan dari pada da’i, pertama kualitas peyampaian yang di dukung oleh media audio visual yang mumpuni, data terlengkap dan terbaru. Bahan berupa makalah atau hand out.

Menimbang tentang biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini membayar Presenter Agama. Jika khatib jum’at dibayar 200.000 dikalikan dengan 52 minggu = 10.400.000,- ditambah dengan bayaran pengajian rutin sebesar 100.000 sebanyak 52 minggu = 5.200.000, kemudian beberapa kegiatan hari besar berupa honorium yang sampai pada 3.000.000,- secara keseluruhan berjumlah 18.200.000,- sebuah dana yang besar.

Menelisik sebagaian dari kondisi mesjid baik dari fasilitas tempat berwudu’, ketersediaan alquran yang memiliki terjemahan. Buku-buku dan kitab hadist, yang amat jarang dimiliki sebagai sebuah bentuk pencerdasan ummat dengan membaca. Yang tidak butuh lagi mengeluarkan uang puluhan juta untuk membayar sekali event memanggil para presenter agama bayaran.

Menjadi sebuah keprihatinan ketika WC sebuah mesjid tidak menyediakan tissue untuk membersihkan sisa dari buang air kecil dan cucian buang air besar yang masih tesisa dalam bentuk tetesan yang menjadi perhatian kita, pengurus mesjid atau DKM. Karna sibuk mencari dana yang dapat di mobilisasi dari masyarakat membayar pengeluaran untuk kegiatan peringatan-peringatan yang lebih mubazzir dan banyak kesia-sian.

Dari berbagai tempat tidak tersedia tissue akan berbeda dengan toilet tempat perusahaan bonafit yang menyediakan untuk mengeringkan tangan atau mengelap sisa dari buang air kecil dan buang air besar.
Dana yang besar itu bisa digunakan untuk banyak hal, pertama untuk peinjaman berkala qardul hasan bagi jamaah yang membutuhkan dan untuk usaha supaya ia bisa bebas dari rentenir. Kedua melengkapi multimedia untuk khutbah yang bisa memberikan sentuhan dengan metode penyampaian lebih baik. Ketiga. Membantu membuat perpustakaan mesjid dan bisa dijadikan tempat kajian dan pendidikan berkala dengan melakukan bedah buka sesudah solat subuh atau magrib menjelang isya.

Maka saatnyalah memboikot Presenter Agama Bayaran yang telah menjadi “Dai Selebriti Agama” yang butuh bayaran sekian dan sekian sekali datang.

Sebagai sebuah peringatan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”, (Q.S Ali imran 102-105)

Muhammad Yunus

Hasil Kajian
Beyond Mesjid
Baitul Muslimin MUZAKKI

Jumat, Februari 26, 2010

Indonesia vs China

Catatan ini adalah sebuah anekdot dan itu ternyata terbukti hari ini, bahwa produk cina mampu mengalahkan produk Indonesia. Datanglah ke sudut-sudut kota dan perhatikanlah buah-buahan yang di jual di kaki lima atau di gerobak yang berjejer baik. Atau barang-barang lainnya baik jepit kuku, baju batik pabrikan silahkan tanya pada pedagang di Tanah Abang.

Bagaimana cina mampu mengalahkan usaha kita. Ini adalah sebuah catatan yang saya kutip dari buku The Celestial Management.

Alkisah seorang pejabat Indonesia pascakrisis melakukan kunjungan makan malam di kediaman seoran pejabat Cina.

"Bukankah penghasilan Anda rendah? Tapi, mengapa rumah Anda sanat bagus dan mewah? Bagaimana bisa demikian?" tanya pejabat dari Indonesia itu.

Pejabat Cina mengajak rekannya ke jendela besar yang menghadap pemandangan indah di luar rumah.

"Anda lihat jembatan itu? ANda lihat bendungan itu?" sahut sang kolega dari Cina.

"Ya, ya," jawab pejabat Indonesia cepat.

"Sepuluh persen, sepuluh persen," lanjut pejabat Cina membuka rahasia pundi-pundi kekayaannya dari komisi proyek yang diperolehnya.

Tahun berikutnya, giliran pejabat Cina berkunjung ke kediaman pejabat Indonesia. Dengan keheranan yang sama, ia bertanya, "Bukankah neraga Anda sedang krisis dan penghasilan pegawai negeri sangat rendah? Saya lihat rumah dan hidup Anda sanat mewah. Bagaimana bisa demikian?"

"Mari kita lihat lewat jendela. Lihat gedung tinggi diluar sana?" tanya pejabat Indonesia yang di sambut gelengan kepala koleganya. "Kalau jembatan besar di sudut sana?" Si pejabat Cina itu dengan penuh keheranan menyambung "Saya tak lihat apa-apa"

"Seratus persen, seratus persen!" jelas pejabat Indonesia bangga sembari menyebut keuntungan 100 persen itu diperoleh karena memang gedung dan bangunan yang dimaksud fiktif adanya...

Mentalitas ini lah persoalan besar bangsa Indonesia yang mempunyai penduduk mayoritas agama besar, namun kalah dari bangsa yang kecil karna persoalan mentalitas. Save the Indonesia. save the muslim

Kamis, Februari 25, 2010

oom, oom, oom

Siang itu di hari jum'at yang lalu, terik matahari menerpa seluruh langit jakarta dan tanah abang. Terang benderangnya memberikan kehidupan untuk mereka yang berusaha dan berikhtiar menjemput rezki yang telah di sediakan.

Jum'at sebagai sebuah ibadah muktamar besar dalam islam. Ibadah jum'at tidak hanya sebuah ritual kosong dan juga kegiatan tafakur terdengkur di sela istirahat karna capek menjemput rizki.

Seperti biasa di awal prosesi jum'at ada laporan-laporan dari pengurus takmir mesjid tentang uang kas mesjid, yang terdiri dari uang masuk dari jum'at kemarin sampai dengan jum'at sekarang. Uang keluar dan juga sisa Kas sampai saat ini.

Tujuh ratus dua puluh dua juta rupiah lebih (722 juta) itulah penyampaian tertulis yang dibacakan oleh takmir mesjid. Ada sesuatu yang lain yang menjadi kebiasaan pada mesjid jami' almakmur tanah abang. Pemabacaan infak dari Si Anu, Si Ono dan si lainnya dengan jumlah 50 ribu, seratus ribu dari toko ini dan toko itu.

Pesan adalah mohon minta alfatihah dan do'a kesembuhan dan berbagai niat lainnya. Sebuah kekuatan filontropi yang di acungi. Kemudian takmir memberikan beberapa pengumuman tambahan untuk kegiatan majlis taklim dan bedah buku dan kegiatan lainnya.

Di pimpin oleh seorang khatib yang telah menyampaikan wasiat bertaqwa (bertanggungjawab) terhadap Allah dan hiduplah dalam islam dan kemudian baru mati (Q.S Ali Imran 101) dan juga nasehat-nasehat kebaikan lainnya.

Di akhir ruku dan sujud yang ikuti oleh ratusan orang di muktamar besar ummat islam kita mengucapkan Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh kekanan dan kekiri. Kemudian dengan istigfar, tahmid, tasbih dan takbir berpacu memenuhi ruang mesjid yang kemudian di tutup dengan rangkaian do'a "Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannar" Yaa Allah berilah kami dalam kehidupan dunia kebahagian dan juga di akhirat dan jauhkanlah kami dari azab api neraka. Itulah lantunan akhir dari do'a-do'a kita.

"Kami" meminta kepada Allah datangkanlah uang 50.000, untuk bisa hasanah (bahagia melihat, memegang, membelanjakan) di dunia kehidupan dan juga nanti di akhirat (hari esok untuk tidak lagi meminta di hari jum'at) dan dengan uang itu maka kami terjauh dari kemeralatan, terjauh dari tidak punya pendidikan, keterasingan dan ketermarjinalan.

Itulah do'a-do'a mereka di penghujung prosesi muktamar jum'atan. Oom, oom, ooom dengan suara lirih ia memberikan Anjungan Tunai Mangkok (ATM) kehadapan orang-orang yang telah selasai dari muktamar besar Ummat Islam dari bocah kecil berusia tidak kurang dari 5 tahun.

Ia mengacungkan ATM ke kita yang sedang asik membuang polusi asap ke udara, mengotori jiwa yang telah kita bersihkan dengan doa "atina fiddunya hasanah" dan juga mengotori cinta kita sesama yang bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah.

Untuk mu yang telah ajarkan aku akan sebuah makna akan syahadat kehidupan dalam bait-bait do'a dan makna rukuk dan sujud.

Gumam Gelapan

Oh negri, mesti dengan bom nuklirkah aku meledakkan di istana, biar mereka mati semua.

Mesti dengan senapan anginkan aku tembakkan di istana, biar mereka mati satu saja.

Mesti dengan ketapelkah aku bidikkan di istana, biar kepala mereka jedot, saja.

Mesti dengan tulisankah aku goreskan luka, nestapa, sengsara, merana,

atau mesti dengan kata ku sampaikan bahwa aku melukis, memahat, mematung, menggores dan mengucapkan dan bergumam "negriku di pimpin budak bidak budek bodok badak"

University of Pak Unus

Ketika mentari pagi beranjak mengikuti nyanyian burung di atas pohon mahoni yang telah berbuah beberapa bulan lalu. Di sela-sela itu sebuah “ulat-ulat intelektual” yang telah menjadi “kempompong aktivis merana” beberapa hari lalu. Beberapa hari hari lagi akan menjadi “kupu-kupu pemimpin” akan tebang di “taman bunga masyarakat” yang melakukan “penyerbukan bibit revolusi” lewat “gerakan kuldesak troya”.

Seorang tua yang telah berambut putih menyiapkan beberapa alat untuk keperluan perkuliahan hari ini. Di fakultas “Politik Semau Gue” yang telah lama berdiri seiring dengan keberadaan beliau di kampus ini. Kampus yang telah berdiri lebih kurang 30 tahun yang mampu melahirkan beberapa “Selebriti Politik Nasional” yang menjadi mentri-mentri “Negara Korupsi Rebutan Iklan”.

Kampus ini berada di wilayah yang tidak begitu besar. Hanya memiliki 2 buah meja besar yang menempatkan beberapa “menu-menu intelektual” dan “kopi lobi politik” yang di tambah dengan “mie desas desus”. Maka makan dan minum makin enak di tambah dengan “sambal gossip miring” dan “kecap pemanis kata”.

Sebagai seorang “Rektor tanpa Gelar” ada satu nilai-nilai yang selalu dipegang bahwa setiap mengambil “tugas makalah mahasiswa” dari pilihan “menu-menu intlektual” ia tidak mau terlibat lebih jauh bagaimana tugas ini di kerjakan dengan menggunakan metode apa dan bagaimana. Yang terpenting adalah tugas di serahkan di depan “rumah diskusi malam”.

Kampus ini beralamat di jalan Cilosari dengan nomor 17, daerah cikini Jakarta Pusat, Jakarta. Yang menjadi motto kampus ini adalah:

Berpolitik tanpa Ideologi = Oppurtunisme
Berpolitik tanpa Organisasi = Avonturirisme
Berpolitik tanpa Strategi = Ngawur-Nekad

Sudah menjadi sebuah budaya yang mengakar dan mendarah daging bahwa ada yang menjadi nilai-nilai yang menjadi tagline Universitu of Pak Unus yakni “Spiritualisme-Intelektual
isme-Aktivisme” begitulah sebagaimana terdapat pada plang yang mempunyai tanggal terbit dan dibut 30 Januari 2002.

University of Pak Unus memiliki beberapa Fakultas “Kajian Politik Malam”, “Subuh Kesiangan”, “Sarapan siang demonstran” dengan jurusan “Istana Negara Umpan Kemarahan” “DPR-RI Nyalur Aspirasi” “Pelatihan Setengah Hati”.

Adapaun mahasiswa yang kuliah di Univeristy of Pak Unus memiliki beberapa ciri khas pertama “intelektual muda bersemi”, “Demonstran Patah Hati” “Alumni Petapa Sepi dan “Aktivis Suksesi Politik” yang selalu melakukan “Aksi-aksi pesanan” dan menjadi “Orator Kehilangan Nyali” di hiruk pikuk “Kebenaran Telah Mati” yang akhirnya menjadi “Jual-Beli Kolusi”, “Tipu Daya Korupsi” dan “Tarik Ulur Nepotisme” yang makin hari makin menjadi di “Media Nyanyian Siraman”.

Selamat menikmati tulisan Unversitas of Pak Unus, karna disilah di gembleng sebagian politisi yang telah menepati beberapa sangat stategis di Negara Korupsi Rebutan Iklan.

Cilosari, 20 Februari 2010.

Kereta api mogok

Jam menunjukkan 10 30 menit pada jam yang tergantung di stasiun cikini. Telah 30 menit berlalu kereta api yang ditunggu pun tidak datang. Pakuan lewat dengan kecepatan penuh yang tidak mau berhenti untuk menaikkan penumpang yang hanya membayar Rp. 1000 untuk jurusan dekat dari stasiun Cikini-Stasiun Jakarta Kota , murah meriah dan hanya di dapat di kereta api Indonesia. Menurut penulis yang telah terbiasa memanfaatkan transportasi murah nan meriah ini.

Beberapa kereta api jurusan jauh tetap lewat yang menaikkan penumpang dari stasiun gambir menuju seluruh kota di Jawa tengah, Joyjakarta dan jug Jawa Timur, kalau sampai bali entah kapan? Kemudian lewatlah ketera api dengan tariff sekali jalan Rp. 5500,00 jauh maupun dekat. Penumpangnya berjubel, dan penuh. Kenapa ini bisa terjadi, apakah tidak berjalan hari ini kereta api ekonomi langganan saya dan banyak pertanyaan lain yang muncul.

Salah satu penumpang menyapa dan menyuruh untuk naik. Naik aja nga di periksa kok. Kontan aja kaki ini naik karna telah kesal dengan penungguan lebih dari 30 menit. Cerita punya cerita kereta api ekonomi 2 buah mogok di pasar minggu dikarenakan rusak. Sejauh ini penulis hanya bisa diam sambil menikmati ademnya udara kereta api ekonomi AC. Dan ternyata benar tidak ada pemeriksaan karna penumpang lebih banyak adalah mereka penumpang ekonomi biasa.

Satu hal yang tetap menarik dari kebiasaan penumpang kereta api ekonomi adalah bergelantungan di pintuk masuk dan keluar. Pada gerbong kereta api ekonomi hanya terdapat 4 pintu keluar masuk dan itu hanya 2 sisi yang dapat dimanfaatkan untuk turun naik. Berbeda dengan kereta api ekonomi AC yang mempunyai 8 pintu keluar masuk dengan 4 pada masing-masing sisi. Hal ini memudahkan untuk masuk dan keluar penumpang.

Kereta api untuk ekonomi adalah kereta api keluaran tahun 60 dan 70 an. Model yang telah lama ketinggalan dan juga telah sering penyesuaian umur ekonomis. Untuk kereta api ekonomi AC adalah kereta api bekas dalam hal ini masih berkualitas karna jarang mogok di jalanan. Kereta api ini adalah kereta api yang telah habis masa operasionalnya di Negara asal apakah dari Jepang atau cina, barangkali dari jepang karna menggunakan bahasa kanji. Inilah nasib bangsa besar dengan penduduk namun tidak besar dalam sikap dan kemapuan intelektual untuk menciptakan kereta api dari dapur teknologi sendiri.

Dalam perbaikan beberapa kerata api lebih sering mengandalkan kanibalisasi terhadap suatu suku cadang dengan suku cadang yang lain. Dalam hal ini amat membahayakan penumpang dan juga kesalamatan perusahaan dalam citra penumpang.

Kereta api sebagai sarana tranportasi public sering mengalami mogok dalam hal subsidi. Pemerintah lebih senang mensubsidi garuda Indonesia dengan dana yang besar dan merapitulasi bank-bank yang rusak dari pada kebutuhan masyarakat banyak.

Dan satu yang hari ini masih ada terjadi adalah terjadinya kebocoran-kebocoran yang diakibatkan oleh tikus-tikus kereta api yang memakan bagian-bagian kereta api. Mulai dari karcis, perbaikan, pembayaran tagihan listrik dan aspek perkeretaapian.

Maka wajar keterlambatan dan ketidak tepatan waktu kereta api ekonomi dan Indonesia sebuah ketidakwajaran yang wajar. Kereta api tut-tut, tut-tut tetap bagian buntut dari kebijakan mentri transportasi kabiner Indonesia bersatu jilid 2.

Korupsi Jum'atan

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(Q.S Aljumu’ah:9-10)

Ibadah jumlat adalah ibadah solat yang dilaksanakan pada hari Jum’at dengan penyampaian kutbah oleh khatib. Ibadah jum’at yang sering kita lakukan hampir setiap minggu. Hampir menjadi ibadah rutin yang tidak ada evaluasi yang menjadikan ibadah jum’atan lebih baik.

Hampir di setiap jum’atan kita menyaksikan peserta menundukkan kepala dengan mata terpejam.
Mendegar dengan baik penyampain khatib yang menyampaikan materi khutbah sebagai bentuk ajaran memperbaiki diri. Namun tanpa disadari banyak beberapa tindakan yang menjadikan jum’at hanya sebagai sebuah ritual tanpa makan. Belajar tanpa mempelajari dan mendapatkan ilmu. Dengar tanpa memperdegarkan.

Perilaku korupsi.

Pertama. Tidak mengetahui rukun-rukun jum’at atau telah lupa dan tidak mendalami bagaimana dan untuk apa rukun-rukun solat. Prinsip dasar sebuah ibadah adalah rukun-rukun yang saling berkaitan dan tahapan-tahapan yang saling menyempurnakan. Satu rukun maka akan merusak dan mengurangi tahapan lain. Ibarat pakaian maka akan ada bagian yang robek.

Kedua. Tertidur dalam solat hal ini adalah salah satu korupsi jum’atan. Menundukkan kepala sambil mata terpejam adalah indikasi bahwa seseorang tertidur dalam melaksanakan ibadah solat jum’at. Kadang sering kita dengar bunyi dengkuran dari teman sebalah kita. Maka pada saat itu adalah tidur ternyenyak. Banyak terlihat dan hampir menjadi fenomena yang menggelikan.

Ketiga. Datang terlambat. Orang tidak dianggap melaksanakan jum’atan apabila telah datang kemesjid setelah kahatib mengucapkan assalamu’alaikum. Hal ini mengindikasikan bahwa mempunyai nilai hidup indisiplin. Solat merupakan pembentuk nilai kedisiplinan diri dan ummat. Keterlambatan dalam jum’at memberikan konsekwensi bahwa kita ibarat mentimun bungkuk, masuk karung namun tidak dihitung.

Keempat. Berbicara dan memberikan teguran. Berbicara ketika khatib memberikan kutbah maka ketika itu ibadah jum’atan batal pada diri seorang. Hal ini berasal dari solidaritas sesama jum’atan untuk menengur mereka yang berbicara dengan isyarat tangan. Atau mengeluarkan kata-kata maka pada saat itu ibadah jum’atan batal demi hokum.

Kelima. Khatib tidak berwasiat dalam taqwa. Hal ini terjadi pengurangan dari rukun khutbah yang mengakibatkan seluruh proses ibadah jum’at batal. Berwasiat kepada taqwa adalah oase dalam padang pasir kehidupan. Taqwa diartikan sebagai rasa tanggungjawab (Toto Tasmara:2000). Ketika khatib tidak menyampaikan wasiat taqwa maka kehausan jemaah akan terjadi satu minggu kedepan. Terjadi dehedrasi spiritual dan berujung pada kematian spiritual.

Keenam. Mengurangi ibadah sunnah jum’atan. Anjuran ini terdiri dari menggunakan harum-haruman. Harum haruman ini dengan tidak mengandung unsur alcohol. Kemudian mandi sunnah sebelum berangkat ke tempat jum’at. Selanjutnya adalah menggunakan jalan berbeda antara pulang dan pergi. Beberapa kebiasaan ini akan berbeda bagi mereka yang hari jum’at adalah hari kerja.

Maka perilaku korupsi adalah sebuah perilaku yang memenuhi seluruh aspek hidup yang terdiri dari nilai-bilai diri, paradigm, kebiasaan dan budaya diri. Maka sudah saatnya kita memberantas budaya korupsi dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil-kecil, dan pada saat ini juga, diadopsi dari konsep 3M Aa Gym.

Ojek BuPaMaNeng

Pagi dengan hujan yang telah membasahi bumi Jakarta. Hujan yang dimulai setelah solat subuh memberikan kesegaran udara dari udara Jakarta yang telah sesak oleh polusi asap kendaraan yang lalu lalang.

Seperti biasa dan telah terbiasa pagi masyarakat kota bergerak untuk berangkat untuk melakukan aktivitas, bekerja bagi “Karyawan Teladan Ramah” yang mendapatkan perhatian dari “Bos Menang Sendiri”. “Kopi Babe” telah tersedia untuk energy bagi tukang “Ojek BuPaMaNeng” yang telah memarkir kendaraan yang belum lunas kreditannya yang tinggal beberapa bulan lagi.

Ketika kredit selesai maka tidak ada lagi degub jantung yang semakin kencang berpacu dengan waktu jatuh tempo pemabayaran. Maka ketika itu kuranglah terkena serangan jantung dan juga di kejar oleh “Pinjaman Rentenir Keliling” yang mempunyai “body guard ganas” yang tidak sengan-segan untuk menganiaya apabila tidak mampu membayar cicilan pinjaman yang bunganya sampai 40% pertransaksi.
Itulah pilihan hidup betahan di Jakarta. Ojek Bu atau Ojek Pa, Mas dan Neng sini pake ojek dengan Intonasi yang menggoda kepada “Karyawan teladan Ramah” atau kepada “Calon Nak Dokter” atau “Calon Bidan Cantik” atau kepada “Sang Notaris Smart” yang selalu menunggu jemputan sepulang dari kuliah.

Dan satu dua penumpang menayakan berapa kalau kesenen atau ketempat yang jauh. Tawar menawar adalah senjata utama Ojek BuPaMaNeng untuk memasang tarif tinggi untuk jasa antar alamat cepat dengan kemampuan akrobatik selib kanan dan kiri diantara deretan kendaraan mobil yang terhambat lajunya oleh lampu merah yang sedang menyala.

Satu penumpang telah diantar ke daerah Cikini yang telah terlambat datang ke kantor disebabkan hujan hari ini. Duit delapan ribu berpindah dari kantong “Penumpang Sekali Datang” yang mempunyai janji penanganan “Kredit Usaha Korporasi” yang akan menciptakan “Lapangan Kesenjangan Usaha” di sebuah daerah yang memiliki kearifan local “Mengelola Hutan Adat”.

Tidak menjadi soallah bagaimana ia dan untuk apa. Delapan ribu cukup untuk beli bensin 5000 sebagai modal ngojek untuk beberapa orang nanti, Kemudian bayar “Kopi Babe” dan juga mentraktif “Penyanyi Bisu” sebatang rokok kretek.

Ketika dapat penumpang yang terpenting adalah kecepatan untuk sampai di lokasi yang dituju. Karna itulah kekuatan service ojek yang bisa menembus lampu merang, menerobos kemacetan dan juga tidak lupa untuk berpacu dari lampu pengatur lalu lintas ke lampu selanjutnya dan menjadi yang pertama di depan, kalau tidak maka akan terjebak oleh mengularnya mobil di jalanan Jakarta.

Mengojek tidak membutuhkan befikir kuat seperti “Calon Nak Dokter” yang membawa diktat dan buku yagn harganya sampai jutaan. Yang penting bisa bawa ia tidak di bayarpun mau, he he, he. Itulah seloroh yang keluar dari kepolosan dan juga ambisi yang entah tersampaikan.

Untuk teman-teman Ojek Halte Salemba UI terima kasih atas sapa hangat dan juga persaudaran di kala hidup mesti tidak berfikir rumit hanya butuh motor untuk menjadi tukang ojek. Dan semuanya pasti dapat, uang dan bawa cewek manis yang disukai hati, namun tidak kesampaian barangkali.

Halte Salemba UI, di Kampus Warung Babe suatu pagi.

Nyanyian Burung Pagi

Apakah ia akan mengalir digelapnya malam ketika alam masih bekerja secara terus menerus memperbaki kerusakan yang terjadi di siang hari. Beraneka tumbuhan tetap berbunga dan menggugurkan dedaunan. Binatang malam tetap waspada terhadap musuh yang sedang mengincar mereka.

Tumbuh dan berkembang dari satu tarikan ke ketarikan. Dari satu kekuatan ke kekutan. Patah tumbuh hilang berganti bergitulah alam dengan kekuatan yang maha sempurna saling melengkapi diri dan juga saling menjaga menjadi harmoni.

Kala pagi tugas sang mentari menyinari yang sebelumnya burung pun bernyanyi dengan merdu dia bercerita banyak hal, sebuah nyanyian kehidupan yang amat menyenangkan, menyedihkan, memilukan dan menakjubkan.

Nyanyian Burung Pagi dalam suara yang menyenangkan. Dengan senang hati mereka melakukan konser langung di suara yang jernih dan bening. Suara yang mempunyai ruh keindahan, kegembiraan menyambut datangnya pagi.

Nyayian yang memberikan semangat hidup, ucapan selamat bagi mereka yang telah bangun pagi untuk rukuk dan sujud kehadapan ilahi

Nyanyian Burung Pagi dalam suara yang menyedihkan. Dengan getar suara yang memilukan, melengking bak sayat pisau tajam hadirkan derita-derita. Kesedihan yang bergetar kuat dari dawai gitar biola yang membuat merinding bulu roma. Ia menangis dengan pagi yang mengutuki

Nyanyian Burung Pagi dalam suara yang memilikun. Ia menyampaikan kabar duka tentang “Hotel Emperan mesjid”, “pertapa kota”. “pengemis Kebaikan” Pemulung Hidup”. “Anak Ibu Lapar”,”Penyanyi bisu”,”Anak Ayah Gendong” dan “Ibu Perabotan” masih berjuang dihimpitan kesusahan di antara “Calon Nak Dokter” “Calon Bidan Ramah” “Politisi Umbar Janji”, “Penguasa Khianati Hati” dan jargon-jargon agama dari “Anjing Agama Menyalak”,” Ulama Boneka Penguasa” dan diantara orang yang berkata “anak-anak ah masa bodoh” dan juga sedikit nyanyian untuk “harga kegagalan pengusaha” dan juga untuk ayah yang tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya “Ayah Panggilan Untuk apa Ayah”

Nyanyian Burung Pagi dalam suara yang menakjubkan. Di kala “Sapa elok mentari”,”Yang termuda di depan” dan obrolan kuliah pagi di “Kampus Warung Babe” dan juga “University of Pak Unus” di cilosari. Dan nyanyian takjub bagi “Ojek BuPaMaNeng” yang hari ini memberikan antar gratis untuk “Ibu Karya Hati”. Kicauan itu mengalun sebagai apresiasi bagi mereka yang bergerak atas dasar hati untuk menari ridho Ilahi.

Graha Insan Cita, suatu pagi. 17 Februari 2010

Selasa, Februari 09, 2010

7 Dosa Kemanusian

Hal ini dirumuskan oleh Mahatma Gandhi. Beliau mampu menjadi pemimpin perubahan di India dengan gerakan swadesi. Sebuah perjuangan tanpa kekerasan.

Persoalan yang di hadapi Mahatma Gandhi dan ia hidup dalam realitas kehidupan masyarakat india maka ia mengeluakan dosa-dosa yang menghancurkan kemanusian.

1. Kekayaan tanpa kerja (wealth without work)

Sering dalam berbagai bisnis kita di tawarkan ini adalah investasi, tanpa bekerja anda akan mendapatkan penghasilan yang melimpah. Cukup dengan membuka deposito, atau menggunakan instrument investasi seperti saham, obligasi, dan lainnya. Maka dapatkan imbal balik sekian persen pertahun. Berapa banyak uang yang parkir di perbankan mulai dari konvensional sampai syariah yang parkir dan di gunakan untuk usaha. Maka kita mendapatkan bagi hasil atau bunga yang kompetitif. Sedangkan tetangga tidak mempunyai modal untuk usaha, mencukupi kebutuhannya atau barangkali membeli susu untuk anaknya. Ia kadang pergi untuk memulung, mengemis untuk beberapa rupiah dan kita dengan senang hari memarkir uang di lembaga keuangan, atau menginvestasikannya di bursa saham dan lain sebagainya.

2. Kenikmatan tanpa suaru hati (pleasure without conscience)

Makan di sebuah restoran ternama dengan kolega, atau mitra usaha. Menikmati lezatnya makanan yang di racik dari bumbu yang baik. Pelayanan paripurna dari pelayan yang dengan senang hati memberikan service berkualitas. Namun di depan kita anak kecil dengan tubuh dekil lewat sambil menenteng koran atau mainan musik yang terbuat dari tutup botol minuman. atau terbuat dari pasir yang di bungkus dengan botol plastik minuman yang menyanyikan senandung. Sekilas kita akan hanya melihat dan menikmati lezatnya makanan tanpa pernah coba untuk menwari makan bersama.

3. Pengetahuan tanpa karakter (knowledge without character)

Bertahun berkutat dengan buku dan diktat, belajar di laboratorium dan menghasilan penemuan-penemuan atau rumusan-rumusan. Kemudian bekerja dan menjalan proyek dan mendapatkan penghasilan yang cukup. Namun pengetahuan itu tidak bermanfaat kepada orang yang masih tersisih dalam kehidupan. Tidak bermanfaat megangkat harkat martabat manusia, malah menjadikan dehumanisasi, dan penghancuran tataran nilai etika, moral dan religi.

4. Perdagangan tanpa etika (moralias) (commerce without morality)

Permainan harga, penumpukan barang di kala terjadi kelangkaan atau menciptakan kelangkaan. Menjual dengan spesifikasi yang tidak sesuai. Melakukan dumping dan juga pengurangan timbangan. Melakukan rekayasa-rekayasa harga. Menjual barang yang bukan kebutuhan dan menyatakan bahwa ini adalah kebutuhan.

5. Ilmu pengetahuan tanpa kemanusian (science without humatity)

Nuklir yang menghancurkan hirosima dan nagasaki adalah contoh terbaik bagaimana hasil dari ilmu pengetahuan yang tanpa nilai kemanusian. Senjata biologis yang di ciptakan untuk membunuh. Membuat virus komputer untuk menghancurkan sistem jaringan atau mencuri data. Virus-virus lain yang membuat keresahan dalam dunia teknologi. Penciptaan produk-produk yang menghilangkan sisi kemanusiaan yang mengasingkan manusia dengan manusia lain.

6. Agama tanpa pengorbanan (religion without sacrifice)

Beragama ketika mendapatkan untung secara materi, mendapatkan pahala, maka agama adalah sesuatu primadona dan di elu-elukan. Namun bukan agama ketika meminta untuk mengorbankan harta, jiwa untuk perjuangan agama. Ketika menjalankan sebahagian perintah agama untuk mendapatkan derejat yang lebih baik. Namun enggan menjalankan sebahagian perintah agama untuk mengurangkan derejat atau mengurangkan jumlah asset materi. Agama adalah sumber pendapatan dengan agama dapat hidup dan menjutkan kehidupan. Maka di juallah ayat-ayat di putarbalikkanlah hukm-hukum. Dan di tentanglah semua yang merugikan dengan argumentasi yang masuk akal dan dengan standar ilmiah.

7. Politik tanpa prinsip (politic without principle)

Mengatasnamakan ini adalah aspirasi rakyat. Ini untuk kemakmuran negri. Dan beribu janji-janji yang terpampang di berbagai baliho. web pribadi, facebook dan juga tidak lupa membuat sebuah buku. Ketika ada kesempatan di liput media maka ia akan tampil dengan gaya dan ungkapan yang bagus di tulis dalam kolom seremoni koran atau wawancara dengan televisi. Namun ketika tidak diliput media maka ia tidak mau memberi di jalan ketika rakyat yang di perjuangkan meminta di sela lampu merah yang menghadang perjalannya.

Yang terpenting bagaimana nama saya terpampang di sana dan saya menjadi orang yang diminta pendapat tentang ini dan itu. Ketika tidak menguntungkan lagi dan berpihak maka pindahlah. Maka tidak ada malu mengajukan diri lagi untu memimpin negri menjadi wakil rakyat kembali walau dulu pernah mengkhianati janji-janji.

Inilah dosa kemanusian yang telah menjadikan kita bangsa yang bangkrut yang belum mampu menjadi tuan di negri sendiri. Indonesia di hancurkan oleh anak bangsanya sendiri. Kalau tidak di perbaiki maka kita akan menjadi sebuah catatan bahwa ada namanya negri Indonsia dan sekarang telah tiada.

Selasa, Januari 26, 2010

Bertamasya kemasa lalu 3



#buku petama#
Iki siji bropo mas? Iko ciek bara? Berape ni satu? Dan banyak kata-kata pertanyaan yang bertebaran di ragam bahasa local bangsa Indonsia yang terbentang dari Sabang sampai merouke. Hal yang saya tanyakan tahukah Anda dalam bentuk Bahasa Belanda atau Jepang yang pernah menjajah kita?
Sebahagian kita tahu, namun sedikit sekali, termasuk penulis juga tidak mengetahui dalam Bahasa Belanda dan Jepang. Namun ini berbeda dengan fakta yang saya dapati dengan sebuah buku dengan judul DE GEBIEDENDE WIJS VAN HE BIJWOORD. Merupakan sebuah kamus ucapan dalam bahasa jawa dan bahasa lainnya.
Sing ati-ati/ Ingkang atos-atos, maka terjemahan dalam bahasa Belandanya adalah Voorzichtig!
Akoe wis mangan/ Koela sampoenneda, maka terjemahan dalam bahasa Belandanya adalah Ik aleet (gegeteu)
Hal ini sekali lagi mengerti mengapa bangsa Belanda mampu berlama-lama di Ibu Pertiwi Nusantara Indonesia.
#buku kedua#
VOORWOORD
Een tweeledig doel heft den schijverbij de bewerking vandit boeje voor den geest gestaan.
Hij wilde de lezer open eenvondige en prettige wijze onderrichten in he gebruk der Javaan cbetaal….
Dari buku Van Dorp’s Handleiding Voor de Javaansche taar samengesteld dour K.E. MITTELSTAOT TWEE DE DRUK G.C.T. VAN DORPS COAV, Semarang-Soerabaia-Bandoeng, 1942
Sebuah buku yang diterbitkan sebelum Belanda menyarahkan penjajadan kepada Jepang.
Penjajahan adalah bentuk penguasaan secara fisik, social, system, pola, corak yang tidak mengakui eksistensi suatu Negara, system, pribadi.
Mental terjajah adalah kehilangan kepercayaan diri untuk menyatakan keaslian diri, keautentikan diri dan mampu berdiri diatas kaki sendiri. Ketika kita tidak mampu menentukan diri sendiri pada saat itu kita bertanya tentang penjajahan siapakah yang membelenggu diri kita?
Di selesaikan di PIM 26 Januari 2010 dari catatan harian yang dibaca ulang.

Selasa, Januari 19, 2010

Bertamasya ke masa lalu 2



#buku pertama#
Ia berkata dalam bahasa Belanda. Memperkenalkan nama JAN VAN GENT. Di akhir cerita ia memberikan kenangan sebuah buku. Buku tersebut berjudul SPIONNEN IN HE WEB dengan copyright 19 57 by Jan Van Gent Printed in the Netherlands. Buku ini diterbitkan oleh Baarn Het Werwldvenster Holland.
Ada beberapa tulisan yang dapat di bagikan disini. #1…Het gebouw op de Nievwe Zijds Voorbuigwal, waarin de krant gehuisvest was. Leek vrij rustug. Het was ongerveer vier uur. Bij de srukkerij weden dejuist gereed gekomen avond bladen in auto’s geladen en het wek vour de achtenkrant van de volgende dag was nog niet op gang…hal 4.
#2 De streekriman werd to the einde gescheven ennick zag alle vervolgen in eenflits: de jongen die terug was ge komen ait Dartsland en uit dat avontuur een nievweonafhan kelijk heid had overge houden, die hem sterk genoeg had ge meakt om de oude man terzij de te schuiven…hal 98.
#buku kedua#
ZEVENDE HOOFDSTUK
De secondweijzer van de ekectnsche klokaan de wand diet tragen secuurzijn ronde. Nog een halve cakeent het is prcies drie uur in de spree kkamer van de kliniek.
Andresa start naar de klok zoned hetuur telezen. Ver weg in de muurzoemteen lift. Setoen viel ze. Had hij tot de onderzoekrecher gezaged. Hal 230…
Itulah kata-lata yang tertulis dilipatan halaman-halaman bukunya yang berjudul DE OGENBANK. Ia memperkenalkan namanya. Saya bernama IVO MICHIELS. N.V. UITGEVERIJ P. VINK. Antwerpen. Tilburg Antwepen, Agustus 1952-September 1953
Banyak kata-katanya yang tidak aku mengerti, walau mereka pernah menjajah negri ini selama 3,5 abad. Karna entah mengapa tidak aku dapati kurikulum yang mempelajari bahasa Bangsa yang pernah menjajah Bangsa ini.
Karna ku tahu dari bukti kecil buku ini mereka adalah bangsa secara peradaban-budaya literasi-lebih tinggi dari bangsa yang masih berpegang akan mitos-mitos animesme dan dinamisme dan termasuk budaya oral.
Perjalanan kedua ini memberikan aku sebuah kesadaran bahwa ilmu itu membawa bangsa kecil Belanda mampu menjajah bangsa besar yang bernama Indonesia. Karna hari ini kita juga masih “SEDIKIT MERDEKA”