Setiap bangku yang tersedia di Stasiun Tanah Abang telah terisi penuh oleh penumpang. Setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang bercerita tentang barang yang barusan di beli di pasar tanah abang. Sebagian bapak-bapak bercerita dengan seorang ibu yang baru selesai belanja. Dimana di depannya terdapat kresek besar berisikan berbagai baju. Sedangkan bapak berkacama duduk tenang dengan mendekap bawaannya berupa buku dan beberapa majalah. Masih banyak para penumpang duduk dengan aktivitas masing-masing.
Matahari masih malu menyinari Jakarta yang mulai ditemani oleh hujan. Berita banjir sudah menghiasi pemberitaan di televisi, koran majalah maupun facebook dengan status, informasi tentang banjir. Sebuah jam besar dalam stasiun di lintasan 6 dan 5 masih nunjukkan jam 01.12 WIB. Kereta yang akan berangkat ke Serpong jam 01.45 WIB yakni KRL Ekonomi.
Stasiun Tanah Abang penuh dengan sesak penumpang adalah potensi keuntungan. Dalam stasiun banyak pedagang yang menjajakan barang dagangan. Namun yang menarik dari seluruh barang dagangan yang dijajakan adalah jasa pengukur tensi darah.
Menggunakan topi hitam, berkacama tebal. Menggunaka kemeja bermotif garis terang. Menggunakan celanan warna merah maroon. Dan tidak lupa menggunakan sepatu berwarna maroon serasi dengan celana. Jasa ini menggunakan alat pengukur tensi darah, dan tidak ada tambahan lain kecuali beberapa orang yang menggunakan tabel tensi darah. Profesi ini banyak ditemui di beberapa tempat. Di stasiun Kota, di pasar dan masjid yang berada di Jakarta.
Secara ekonomi jasa ini tidak membutuhkan modal besar menjadi jasa pengukur tensi darah. Cukup dengan uang 300.000 telah dapat membeli alat pengukur tensi di Pasar Pramuka. Kemudian membeli batrei untuk daya yang dapat di beli tidak lebih dari 5.000. Sedangkan potensi pendapatan ini mampu mencapai 3.000.000 rupiah sebulan.
Secara sederhana setiap orang menggunakan jasa ini membayar Rp. 1.000,-. Maka apabila mendapatkan pelanggan sebanyak 100 orang perhari maka pendapatannya menjadi Rp.100.000 ribu dengan biaya tidak sampai Rp. 25.000,-. Keuntungan di depan mata dan Balik Modal Usaha ini terbilang cepat dan tidak punya resiko besar dalam menjalaninya.
Beberapa hal yang dikuasai adalah tentang penyakit darang tinggi dan apa obat herbalnya. Kemudian penyakit darah rendah dan apa obatnya. Tambahan untuk menjadikan bisnis ini lebih baik gunakan kartu nama, apalagi dengan layaan facebook, atau web.
Kalau memang berada di stasiun tanah abang, jangan lupa mencek tensi darah Anda, karena akan mendapatkan beberapa nasehat baik dari penyedia jasa cek tensi darah Anda. Bisnis yang mendatangkan banyak pendapatan dan juga sedikit resiko.
Anda mau mencoba?
Serial tulisan "Traveling 1 Rupiah dalam episode Tanah Abang menunggu dan di tunggu"
Ketika kereta api jurusan kota menuju bogor melalui ruas jalan tebet, terdengar suara yang selalu menyapa pejalan kaki untuk berhenti dan tidak melanggar plang jalan. Begitulah sistem perkertaapian untuk dapat berjalan diatas rel yang telah ditentukan.
Disudut jalan beberapa orang asik berkumpul ditemani kopi hitam yang dibeli dari pedagang keliling. Bebagai cerita mengalir yang diiringi oleh canda tawa dan selorohan. Sore yang telah menepi di barat sebagai pertanda malam telah mulai betugas menyelimuti jakarta.
Seorang pejalan kaki melangkah tergesa-gesa untuk dapat pulang ke rumah dengan menggunakan sarana kereta api yang setiap sore adalah primadona. Para penumpang dengan cekatan naik ke atas atap kereta yang terus bergerak sampai di tujuan. Disudut stasiun beberapa anak gerbong merebahkan diri sambil menghitung penghasilan menjadi penjaga iman dalam kereta api. Menyapu sampah dari penumpang kereta api ekonomi yang terlupa untuk merealisasikan iman.
Namun ada sesuatu yang terus bergerak seiring tarikan nafas yang terburu. Memenuhi rongga dada melewati kerongkongan. Derai tawa dan selorohan seakan menjadi relung untuk memasukkan vitamin asap untuk membeikan efek dramatis. Kepulan demi kepulan berpacu menghembus keluar seperti tarian.
Dibibir pejalan kaki ia memasuki ruang dada dengan terus berburu kereta yang akan berangkat cepat. Seakan menambah energi untuk berlari untuk tidak ketinggalan kereta sore ini. Dan kegelisahan hidup anak gerbong kereta akan himpitan kehidupan menghilang dalam imajinasi vitamin asap yang menyentuh ruang di hidung.
Walau vitamin asap pada satu sisi adalah keberkahan bagi pebisnis untuk mendapatkan keuntungan yang terus tumbuh dari tahun ketahun. Namun di sisi lain vitamin asap adalah vitamin yang mampu mengobati banyak derita kehidupan.Ia bergerak bersama nafas kehidupan untuk mengobati luka-luka yang terus bertambah setiap saat.
Tulisan yang terinspirasi dari vitamin asap yang terhisap secara pasif, di sela perjalanan dari Pascasarjana Magister Ekonomi Syariah Universitas Azzahra ke ke tempat teman dekat stasiun tebet. Semoga bermanfaat
Jum’at adalah moment terbaik bagi ummat islam laki-laki untuk berkumpul dan melaksanakan kewajiban ibadah. Hari jum’at mempunyai banyak kemulian dan keutamaan yang dapat di dimanfaatkan secara maksimal dan terencana.
Siang ini saya sholat jum’at di masjid Attauhid Arief Rahman Hakim komplek Salemba UI. Berjumpa lagi dengan rektor kampus warung babe yang mengambil lokasi di halte salemba UI, bertemu dengan mahasiswa ojek bupamaneng, penyanyi bisu yang entah kemana dan juga teman-teman mahasiswa kehidupan lainnya.
Derai tawa, kisah hidup yang tetap bergerak cepat di perputaran aneka aktivitas yang terus bergerak. Bertukar kabar dan sedikit cerita tentang bertahan di jakarta. Tulisan ini sekedar untuk mendokumentasikan lintasan pemikiran untuk dapat menjadi sesuatu bermanfaat. judul tulisan diatas adalah sebuah ruang masuk untuk memahami sebuah potret yang menohok sanubari, meledakkan nurani dan mengurai air mata kehidupan.
Menjelang kita solat setelah melepas sepatu dan menitipkannya di tempat penitipan. Mengambil wudhu’ dan memilih tempat yang pas dengan kondisi ruangan. Maka dengan cara marketing yang paling utama yakni menawarkan. Seorang anak kecil berusia 7 tahun menawarkan koran selembar yang dilipat empat seharga Rp. 1000,- kesetiap peserta jum’at yang mau di registrasi oleh malaikat sebagai peserta jum’at hari ini.
Tiada kelelahan di wajahnya yang bersinar, bahwa setiap lembar koran yang ditawarkan berharap menjadi uang yang dapat di nikmati nanti. Menjadi penolong untuk tempat sujud peserta jum’atan yang terus berdoa mengharapkan banyak hal untuk kehidupan. Ada rona optimisme mengejar keberkahan berbinis. Ada daya dorong yang kuat untuk membantu peserta jum’atan menikmati sujud.
Namun entah setelah sajadah koran menumpahkan catatan-catatan laporan berbentuk doa-doa peserta jum’atan dalam laporan jurnalisme malaikat. Namun catatan dalam koran yang menjadi sajadah yang terkadang tidak selaras dengan do’a orang sujud. Terdapat sebuah berita tentang semua pencapaian, kemenangan, dan lainnya. Namun tidak terlihat sebuah optimesme tentang bagaimana menuliskan menjadi pengusaha sajadah koran.
Setelah usai shalat jum’at maka sajadah koran akan menjadi sebuah sumber pendapatan yang diperebutkan oleh penjaga iman/pemulung/pengusaha kebersihan. Terdapat berkah-berkah yang membekas dari sujud peserta jum’atan yang akan memberikan tambahan pendapatan untuk dapat bertahan hidup di Jakarta.
Seorang nenek tua dengan cekatan meminta koran Kompas tertangga 21 januari 2011 yang saya baca. Berita headline adalah tentang bencana lahar dingin di merapi, semoga tidak salah. Dimana dipaparkan tentang bagaimana dahsyatnya alam. Namun di hadapan mata di setelah sujud di sajadah koran terpampang berita, foto hidup tetntang bagaimana dahsyatnya kehidupan. Kehidupan yang memporak-porandakan tentang kemakmuran, keadilan dan juga kesejateraan.
Terima kasih kepada saudaraku yang telah menawarkan sajadah koran, ku tahu di balik sujud dan do’a kami ada action yang mesti kami realisasikan. Terima kasih ibu bagaimana engkau mengajarkan untuk selalu menjadi pejuang iman dengan tidak membuang koran sembarangan.
Kehidupan itu indah dikala sesuatu menjadi pembelajaran dan menggerakkan jiwa untuk berbuat dan berbagi bagi sesama. Semoga kita ketemu kembali.
Serial tulisan Kampus warung babe dan juga Traveling 1 Rupiah.
Kenapa anda takut berbisnis? barangkali pertanyaan tersebut pernah terlontar dari teman-teman yang menawarkan ikut dalam berbisnis. Ada banyak jawaban yang keluar diantaranya. Ketakutan gagal, belum mempunyai kemampuan untuk berbisnis dan saya orangnya tidak berbakat, tidak seperti orang minang dan juga bugis/ makassar.
Rasulullah dalam sebuah hadist menyampaikan bahwa sembilan dari pintu rizki adalah perdagangan. Sering memulai bisnis kebanyakan mentok di modal. Sebenarnya tidak, sering memulai bisnis dari persepsi dan ide.
Persepsi adalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Seperti ketika membeli sayuran di tukang sayur keliling. Persepsi pembeli adalah sayuran ini bagus dan masih segar dengan harga sekian dan itu mesti di dapat dari menawar kepada pedagang. Sedangkan pedagang berpesepsi jika pembeli ini tertarik dan dijual dengan harga sekian maka saya mendapatkan keuntungan sekian rupiah, kemudian menawarkan kembali dagangan yang lain. Berbeda lagi dengan penanam sayur dimana ia melihat bagusnya tumbuh sayuran akan membuat panen lebih banyak dan uangpun akan masuk kekantong.
Bisnis kaki lima adalah bisnis yang menarik sekaligus dahsyat. Pembelajaran bagaimana menawarkan, menjajakan, bertahan dan juga melakukan analisa pasar. Dalam beberapa majalah tentang bisnis banyak mengupas bisnis kaki lima yang hanya membutuhkan modal sedikit. Dari pengalaman saya berbisnis kaki lima, ada yang tidak usah memiliki modal besar berbentuk uang. Hanya membutuhkan keberanian untuk menawarkan kepada konsumen dan siapapun orangnya.
Beberapa hal utama pembelajaran dari pedagang kaki lima:
1. Keberanian. Inilah kaki pertama, bagaimana berani untuk melanggar pakem-pakem bisnis yang telah mapan. Menawarkan barang dangangan. Berani bermain dengan aturan, dimana tidak boleh berdagang maka ia mampu berdagang. Untuk memulai usaha di kaki lima adalah keberanian untuk mencoba, selama ini kita hanya menjadi konsumen dan memulailah menjadi distributor
2. Keuletan. Bertahan dengan perputaran usaha yang terkadang surut dan terkadang naik. Berbisnis kaki lima membutuhkan keuletan. Ketika cuaca tidak mendukung maka mesti cepat untuk menyelamatkan barang dagangan. Inilah pembelajaran ketika saya berdagang kaki lima dan sekarang masih sekali-kali menjadi pebisnis kaki lima, yakni menjual Rendang Telor “SEHAT-I” dan kerupuk kamang di Universitas Indonesia atau Istora Senayan dengan tema “Sepeda untuk Bisnis”
3. Kejelian. Berdagang kaki lima mesti melihat peluang demi peluang. Banyak ragam usaha berada dalam pasar atau di tempat keramaian. Lihat peluang usaha yang sedang naik daun, atau sedikit pesaing.
4. Kebersamaan. Perjuangan berbisnis di kaki lima membutuhkan kebersamaan antara pedagang. Lawan utama pedagang kaki lima adalah tramtib, keamanan dan juga premanisme. Dibutuhkan rasa senasib dan sepenanggungan untuk tetap bisa berbisnis.
5.Kekuatan. Inilah pilar terakhir ketika mencoba bisnis di kaki lima. Mesti mempunyai kekuatan pemikiran untuk mengembangkan usaha, kekuatan emosi untuk bertahan dan kekuatan otot jika suatu saat diperlukan dalam hal-hal tertentu.
Bagi yang akan memulai sebuah bisnis besar, ada banyak pembelajaran terbaik ketika mencoba berbisnis di kaki lima. Dengan tidak menafikan bahwa berbisnis online itu tetap memiliki kurikulum untuk pengusaha. Temukan saya hari minggu esok menjadi pebisnis kaki lima di Universitas Indonesia.
Semoga bermanfaat bagi anda yang ingin memulai berbisnis. Ingin berbisnis silahkan kontak saya.
Koran, koran, koran, koran, koran mas pak beye nangis di barak pegungsi stunami mentawai, koran mas, koran mbak, pengungsi merapi membutuhkan kamar asmara untuk memenuhi kebutuhan biologis. Begitu ia menyapa setiap penumpang yang masih mampu menahan mata yang mulai mengatup akibat kelelahan.
Dengan topi berlogo sebuah koran nasional yang tebit seperti tabloid, ia berlalu lalang menelusuri gerbong kereta api yang mulai sesak di penuhi penumpang. Beberapa koran terbitan nasional, lokal melekat erat dalam genggaman. Deru mesin kereta api seakan berpacu dengan suaranya yang terus menawarkan koran hari ini ke penumpang.
Koran, koran, koran ia terus berdendang, seorang bapak meminta sebuah koran setelah tertarik degan penyampaian singkat sang penjajal berita baru. Berapa mas? seribu lima ratus pak. Setelah koran berpindah tangan ia kemudian melangkahkan kaki yang telah terlatih untuk bergerak diantara penumpang yang mulai banyak berdiri.
Hampir setip hari adalah sebuah perjuangan untuk menjajal kereta api Jakarta Kota-Bogor. Diantara banyak berita tentang musibah yang melanda Indonesia, ia teringat kampung halaman yang telah lama ditinggalkan. Merantau kejakarta adalah sebuah pilihan untuk dapat bertahan hidup.
Bencana gunung merapi di jogjakarta telah meluluhkan kampung halamannya. Namun sekarang hanya menjadi kenangan, karena keluarga dekatnya telah hijrah ke Jakarta ikut menjadi masyarakat urban Jakarta.
Pilihan hidup tidak seenak wartawan yang terus memburu berita baru untuk tenggat deadline sebelum cetak. Sedangkan Ia hanya mampu menjajal berita baru dari satu stasiun kestasiun lain, menyambungkan berita dari wartawan ke pembaca.
Di sela penantian kereta ekonomi selanjutnya ia mencoba membaca beberapa berita. Ada kejadian berita yang bikin ia geram dan berkata, Kok propinsinya kena bencana stunami ee malah gubernurnya keluar negri? Sama saja dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang suka menghamburkan uang rakyat ke luar negri. Berita, berita…belum selesai ia membaca isi berita, petugas kereta api telah dahulu berciloteh bahwa kereta api menuju depok telah masuk stasiun cikini.
Terkadang hidup ini aneh, disatu sisi orang pada kesedihan namun disisi lain malah senang kemana-mana. Begitulah ia bergumam sambil menunggu kereta api yang mulai berhenti, karena tidak cepat maka ia akan ketinggalan dan tidak mendapatkan pelanggan hari ini.
Dengan cekatan ia melompat kedalam kereta api yang mulai melaju, karena jika ia terjatuh maka headline berita akan menuliskan “Penjajal berita baru mati terserempet kereta”. Karena tidak sedikit yang meregang nyawa dalam perjalanan kereta api Jakarta Kota-Bogor yang terus menjadi berita baru.
Koran, koran, koran mas, satu anak gadis kabur dari rumah beberapa hari yang lalu dan yang membawa kabur adalah teman di Facebook, ia menjajakan koran di antara kedipan mata ‘anak gerbong kereta’ yang berpacu menyapu sampah berserakan dalam gerbong kereta.
Jakarta adalah kota hidup 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jakarta tidak berhenti dengan berbagai aktivitas kehidupan. Malam tetap menjadi tempat yang indah dengan pernak pernik kehidupan. Kala siang matahari menjadi cahaya yang terang benderang, ketika malam digantikan oleh lampukendaraan, penerang jalan, lampu pada gedung perkantoran.
Di sudut tiang jembatang layang terminal jatinegara ia hadir duduk menepi dan menyepi. ia masih menenteng sebuah Anjungan Tunai Mangkok yang terus setia menemami kemana pergi. Di hari yang masih terang benderang dengan deruman mesin mikrolet yang berjejal menanti penumpang. Ia kembali mengosongkan Anjungan Tunai Mangkok yang teralah disinggahi oleh beberapa lembar uang bergambar pahlawan terbaik semasa penjajahan di daerah maluku. Ia dengan garang mampu mengusir bentuk penjajahan. Senyumnya gagah, namun sekarang hanya menjadi gambar yang datang silih berganti.
Di balik tas coklat oleh debu jalanan, telah tersusun rapi beberap lembar penghasilan hari ini. Namun sayang sekali bahwa semuanya terdiri dari ribuan dan juga recehan 500an. Tapi apa hendak di kata, uang inilah yang sering diabaikan orang dan sekarang berkumpul dalam jumlah yang cukup.
Satu orang kembali mengelontarkan uang 500 rupiah, kembalian dari ongkos mikrolet jurusan Tanah Abang-Jatinegara. Ia nampak tergegas untuk menaiki sebuah bus mayasari yang mengantarkan pulang dari bekerja. Begitu indahnya pakaian meraka, ada kebanggaan teselip dalam senyumnya ketika ia memberi sambil lalu.
Tidak sedikit pula yang tidak melihat keberadaanku, berlalu beriringan dengan kejaran waktu. ATM ku selalu hadir menyapa, menyapa dan terus menyapa seperti iklan billboard besar yang bergambarkan Gubernur Jakarta berpakaian jas dan disana bertuliskan. Orang bijak bayar pajak, Tidak bayar pajak apa kata dunia, begitulah sepotong koran ku baca yang menjadi alas duduk kala duduk menunggu ATM penuh dari transferan uang recehan.
Aku bukan perampok Anjungan Tunai Mandiri yang mempunyai keahlian maling tingkat tinggi. Namun Ia masih kalah dengan perampok Anggaran Tunai Masyarakat berupa Jaminan Kesehatan masyarakat, beras miskin, program bantuan pemberdayaan masyarakat perkotaan dan juga berbagai ATM bagi kami.
Terkadang untuk apa pajak, namun hanya untuk perompok Anggaran Tunai Masyarakat, masih ada terselip rasa syukur bahwa pendapatan hari ini tidak terkena Pajak Pertamabahan Nilai atau Pajak penghasilan untuk perampok negara.
Di persimpangan ini semua perampok terlihat berlalu lalang di sela kerlip-kerlip cahaya lampu kendaraan yang saling bersusul tak mengenal kata berhenti.
Matahari menjelang terbenam di ufuk barat. Sore itu seperti biasa manusia dari berbagai profesi mulai dari pedagang, pekerja sector swasta, pegawai negri, buruh, guru berpacu dengan waktu untuk pulang kerumah dari bekerja. Waktu sore adalah waktu yang dinanti oleh penikmat kereta api, walau mesti berdesakan dengan penumpang lain. Kereta api ekonomi adalah sebuah entitas kehidupan yang mengikuti dinamika
Menjadi penumpang kereta api ekonomi adalah pilihan paling ekonomis bagi pekerja yang mempunyai keterbatasan dalam gaji dan juga tunjangan. Dengan ongkos sekali jalan 1.500-2.000 dengan menghbiskan 5000 sekali jalan ditambah dengan onkos lainnya maka tidak menghabiskan banyak biaya di bandingkan dengan menggunakan motor atau menggunakan mobil sebagai sarana berangkat dan pulang dari bekerja.
Tegangan listrik bagi Kereta Api Listrik adalah 15000 volt, sekali sengat maka tidak ayal kata hangus adalah resiko yang di tanggung. Tanpa ada jaminan asuransi bagi siapa yang mendapatkan sentuhan listrik ini.
Memilih kereta api adalah sebuah alasan rasional dalam mensiasati pengeluaran. Butuh sebuah kecerdasan dalam mengelola out of cash flow. Hampir setengah atau sepertiga dari gaji karyawan dari kalangan bawah dengan gaji kisaran 800.000 paling bawah.
Kereta api Jakarta Bogor adalah warisan dari kereta api zaman belanda yang telah berumur lebih 100 tahun, tidak ada penambahan signifikan dari system perkeretapian khusus untuk Jakarta dan sekitarnya.
Gerbong-gerbong kereta adalah impor dari negri jepang atau cina. Kereta api ini adalah kereta api yang telah masuk dalam masa habis penggunaan dan di jual ke Indonesia dan di gunakan.
Menggunakan kereta pada pagi hari dan sore adalah sebuah pemandangan dan juga pegalaman yang unik bagi penggunananya. Banyak kejadian yang dapat diceritakan, dari kebaikan penumpang dengan penumpang lainnya. Juga tidak terlepas modus kejahatan tetap mengincar siapa saja dan kapan saja.
Naik keatap kereta api adalah sebuah pilihan yang mengasikkan sekaligus membahayakan. Tapi inilah pilhan yang sebagian masyarakat ikut memilih di atas atap. Berbagai alasan di kemukanan untuk naik ke atap kereta api diantaranya.
Pertama, di dalam telah penuh dengan penumpang. Sudah seperti susunan paku dalam kardus. Inilah salah satu pilihan untuk menjadi penumpang atas kereta api.
Kedua, Mengejar waktu untuk pulang. Ketika memilih kereta api yang bisa berada di dalam membutuhkan waktu sampai malam untuk mendapatkan tempat yang layak untuk duduk atau berdiri dengan lapang.
Ketiga. Jadwal kereta api yang tidak mengikuti siklus pergi dan pulangnya penumpang yang berkerja mengikuti jamkerja. Sebagian penumpang yang pernah bercerita dengan penulis ketika tidak memilih naik ke atas atap maka bersiaplah seperti di masak atau terlambat pulang kerumah
Melihat Jakarta dari atap kereta api adalah sebuah pemandangan kehidupan yang memberikan banyak cerita dan juga permasalahan-permasalahan. Pada bagian pinggir rel adalah kehidupan bagian bawah Jakarta. Teman-teman pemulung dan tunawisma Jakarta banyak bertinggal di sini.
Menjadi pemulung adalah pilihan akhir dari berbagai deretan pilihan yang hadir bagi pendatang ke Jakarta. Berdagang kecil-kecilan juga merupakan pilihan untuk dapat menghidupi keluarga di kampung.
Teman-teman tersebut adalah pahlawan ekonomi bagi keluarga dan juga kampung mereka. Lewat kiriman mereka maka ekonomi bergerak. 300.000,- 700.000 perbulan adalah jumlah yang bisa menghidupi keluarga sederhana. Dengan sepuluh orang mengirimkan uang yang sama telah menjadikan ekonomi pedesaan bergerak.
Dengan bergeraknya ekonomi di daerah juga menjadi sebuah kebaikan bagi produsen-produsen yang memproduksi berbagai jenis makanan. Para operator selular juga menikmati keuntungan dengan beredarnya uang di kampung. Inilah siklus ekonomi yang tidak terlacak oleh berbagai ahli ekonomi yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sekian persen.
Dari atas atap kereta api kita bisa menikmati gedung-gedung pencakar langit yang berjajar sepanjang Jakarta Kota- Bogor yang di selangi oleh pohon-pohon antenna televis masyarakat. Atap atap perumahan yang berada bentuk dan rupa menjadi pemandangan yang mengasikkan.
Hal yang menjadi berbeda adalah ketika hari hujan atau cuaca tidak bersahabat maka naik keatas atap adalah sebuah pilihan yang membahayakan bagi siapapun.
Razia bagi mereka penumpang yang naik keatas atap kereta api telah di lakukan, namun alasan untuk menyediakan jadwal dan kereta api yang mampu menampung jumlah penumpang dengan layak belum bisa. Hal ini lah menjadi asalan menggunakan atap kereta api adalah pilihan terbaik untuk dapat tepat waktu sampai di tempat kerja dan pulang sebelum magrib.
Beraneka ragam view pemandangan indah dan menarik dari atas atap kereta api amat sayang di lewatkan bagi Anda yang menyukai pertualangan.
Sebagai catatan:
1.Anda harus menggunakan jaket untuk melindungi diri dari terpaan angin. Masuk angin menjadikan kondisi kesehatan anda tidak baik yang mengakibatkan Anda tidak dapat bekerja esok hari.
2.Anda mempunyai keberanian untuk dekat dengan resiko tersengat volt listrik dengan kekuatan 15.000 volt dan itu berada dalam gelapnya malam
3.Anda mempunyai sebuah persiapan asuransi jika ingin menimalisir resiko.
4.Anda hanya membutuhkan sebuah kamera untuk mengambil moment dan menjadikan sebagai sebuah catatan yang bermanfaat.
5.Butuh sebuah nyali, keberanian, kebersamaan ketika berada di Atas Atap Kereta Api Jakarta Kota Bogor.
Ditulis oleh
Muhammad Yunus ‘Sang Pemenang Pembelajar’
22 Maret 2010 18:03 WIB, Dari penumpang di atas atap kereta api Cikini –Pasar Minggu
Metromini adalah kendaraan bus sedang dengan warna merah menyala. Metromini telah menemani orang-orang yang berpergian dari berbagai jurusan dan juga tujuan di daerah Jakarta dan sekitarnya. Metromini adalah kendaraan dengan berbagai persoalan, dinamika, persoalan yang menemani supir, knek, penumpang, pengamen, pencopet, dan juga berbagai aktivitas lainnya.
Terkadang banyak hal yang tidak mengenakkan dalam perjalanan bersama metromini. Operan penumpang dalam perjalanan dengan mobil yang dibelakang, ugal-ugalan sang sopir di jalanan yang ramai dan padat. Belum persoalan layanan yang amat jauh dari standar etika ketimuran yang ramah dan santun.
Namun metro mini bisa membikin sehat. Dan itu terbukti dari berbagai seloroh yang disampaikan oleh knek metromini. Tulisan ringan ini terinspirasi dari perkataan knek metromini nomor 49 yang mengantar kami menuju cisarua dalam pelaksanaan sebuah pelatihan.
Pertama. Metromini bikin sehat adalah kesehatan keuangan. Dengan tarif murah hanya Rp. 2.000,- kita telah bisa sampai dari berbagai tempat yang jauh sekalipun selama trayek itu berada. Akan berbeda dengan menggunakan taksi yang hampir memakan biaya lebih Rp. 50.000,- dengan jarak yang jauh dan belum lagi bayar tol. Inilah alasan pertama kenapa metromini bikin sehat. Dan sehat itu adalah kesehatan kantong alis kesehatan keuangan yang lagi tidak punya uang banyak.
Kedua, sehat jantung. Berpacunya jantung mengiri kencangnya kendaraan. Adrenalin penumpang akan naik seiring dengan berpacunya metromini dengan metromini lainnya. Berpacunya jantung diatas 80 mg/menit memberikan kekuatan bagi jantung. Hal ini sama dengan ketika kita olahraga marathon atau lari pagi di treatmild. Ini adalah versi kedua metromini bikin sehat.
Ketiga, awet muda. Dengan keuangan sehat dan juga jantung sehat. Menjadikan orang awet muda yang disebabkan oleh berkurangnya beban pikiran. Berkurangnya beban pikiran menjadikan perlambatan penuaan sel-sel seluruh tubuh termasuk muka. Dan mempercepat memperbaiki kerusakan sel-sel yang rusak dan peremajaan kulit. Inilah versi ketika metromini bikin sehat dari knek yang asik dengan mainan berasap di hujung bibirnya.
Keempat, perut kencang. Ketika metromini berpacu dengan metromini lainnya. Melakukan pergerakan zig zag untuk mendahului mobil atau motor. Hal ini menjadikan penumpang menahan nafas yang mengakibatkan perut menjadi tegang. Memang ini tidak terdengar logis tapi itulah pernyataan knek metromini. Perut kencang juga berasal dari turun naik ketika mesti berpindah dari satu metromini dengan metromini lainnya dan melakukan jalan beberapa langkah. Dan ini adalah vesi metromini bikin sehat ala teman knek kita.
Kelima, paru-paru sehat, Hal ini logikanya adalah bahwa dengan menggunakan metromini kita mendapatkan udara yang hangat dari panas cuaca jalanan. Berbeda dengan ruangan bus Patas AC yang membuat paru-paru dingin. Dan ini tidak dari sisi ilmu kesehatan alternative berbasis herbal ada benarnya.
Priit, priiit, begitu bunyi pluit yang telah lama bersahabat dengan sang polisi yang betugas hari ini di perempatan menuju Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Dengan seragam tambahan berwana hijau muda yang bercahaya ketika diterpa sinar dari lampu di kala malam hari. Setiap pagi mempunyai tugas untuk membuat lalu lintas penggunan jalan aman, lancar dan selamat sampai di tujuan tempat kerja, berusaha atau berbisnis.
Dengan tangan yang selalu memberikan isyarat untuk penggendara untuk berlalu dengan tertib. Tangan yang melambai bagi pengguna untuk memacu kendaraannya melewati perempatan yang lampu pengatur lampu lalu lintas telah berwarna merah menyala. Tangan yang satu lagi menahan kendaraan dari sisi yang lain.
Dengan pekerjaan yang membutuhkan sebuah kesabaran dan juga dedikasi melayani. Polisi lalu lintas telah menjadi bagian tidak terpisahkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Bagi polisi lalu lintas ucapan sumpah serapah, kemarahan dan juga klakson panjang adalah menu wajib setiap hari. Tidak jarang atau bahkan sebuah kelangkaan ucapan terima kasih di berikan, atau memberikan isyarat dengan jempol. Atau megangkat tangan tanda terima kasih.
Malah sering menjadi tumpahan kemarahan beberapa orang yang mempunyai masalah dengan dirinya sendiri. Mempunyai manajemen waktu yang salah dan mensalahkan polisi lalu lintas yang mengatur pergerakan kendaraan berlalu lalang.
Karna ia hari ini terlambat dan mesti mengejar target, maka dengan seketika lampu merah bari menyala ia tetap memacu kendaraanya. Namun polisi melakukan tugas dengan merentangkan tangannya untuk berhenti.
Dirimu hadir bantu kami selamat sampai tujuan, namun tidak kami bantu dengan sebuah penghormatan yang pantas. Cuma kami beri hadiah asap dari kendaraan kami yang keluar dari pembakaran mesin ketika pedal gas kami injak dan juga tarik dari kendaraan bemotor.
Indah meliuk-liuk kekiri dan kekanan. Sesekali mengibaskan ekornya yang indah dan menawan dengan komposisi warna yang menawan. Gerakan ikan itu tidak bisa bergerak banyak untuk memperlihatkan kecantikannya, sebuah toples tidak besar dan juga tidak kecil menjadi tempat pemajangan.
Berbagai macam ikan hias terjejer rapi di atas gerobak penjaja ikan hias. Ada cupang, mas koki dan beberapa jenis ikan lainnya. Masing-masing asik di dalam genanga air yang tidak seberapa. Ikan-ikan adalah pesona keindahan dan symbol kenyamanan dalam dunia yang ia cintai.
Inilah sunnatullah ikan menjadi amat nyaman berada dalam zona bernama air. Ikan seperti seroang yang memiliki keyakinan yang benar dalam islam. Ia akan merasa nyaman dan tidak ingin berpisah dengan air imannya.
Seorang pembeli berhenti dan memakir mobilnya di pinggir jalan. Membawa seorang anak yang meminta ayahnya berhenti. Ayah saya mau membeli ikan hias untuk dipelihara di rumah. Sebagai seorang ayah yang mengerti tentang bagaimana mendidik anak bertanggungjawab. Ia bertanya benar mau beli ikan dan bertanggungjawab untuk memelihara dengan memberi makan secara teratur, mengganti air ketika telah sampai waktunya.
Mendapat pertanyaan seperti itu sang anak menjawab ‘saya akan bertanggungjawab ayah’. Ini adalah sebuah episode kecil tentang bagaimana menjadikan seorang anak membuat sebuah komitmen kecil yang mempengaruhi jiwanya nanti sampai dewasa.
Proses melihat, memperhatikan dan juga pertimbangan berpacu dalam pikiran sang anak. Kira-kira ikan mana yang akan di pilih. Karna keterbatasan pengetahuan tentang ikan yang kan di jadikan mainan nantinya di kolam atau akuarium.
Abang Pedagang ikan dengan telaten memberikan sebuah advis tentang ikan-ikan yang indah meliuk dalam bejana yang ada. Kalau ikan mas koki ia adalah ikan yang rawan stess. Kalau ikan cupang adalah ikan petarung dan menyukai tempat yang terpisah dari yang lainnya. Kalu ikan yang ini adalah ikan penyapu yang menyukai berada di dasar akuarium.
Dengan seksama dan masih dilanda kebigunang sang anak meminta pendapat ayahnya. Sang ayah juga berusaha dan memberikan penilaian akhir kapada anaknya untuk memilih ikan yang akan ia pelihara nanti.
Maka di pilihlah ikan cupang dengan warna keunguan yang indah meliuk dan terlihat garang. Hal ini untuk diperlihatkan pada teman-temannya nanti di sekolahan.
Beberapa rupiah berpindah dari tangan seorang anak yang diberikan oleh ayahnya uang untuk membeli ikan cupang kesukaannya. Dan inilah penglaris pertama hari ini yang telah beranjak siang kerna matahari telah tegelincir ke arah barat.
Akhirnya terjual juga, yang jelas minum kopi di warung tadi bisa di bayar dan juga sebatang rokok. Karna bekal makan siang mesti di stop dulu dan di jadwalkan untuk malam hari setelah membeli beras dan di masak sang istri tercinta.
Di sponsori oleh:
Rumah Sehat & Apotik Herba
SYIFAAU MUMTAZ
Jakarta -Indonesia
Oleh: Ona Satria
Mahasiswa STIE Hidayatullah depok
Pengalaman ini terjadi pada hari kamis, 4 maret 2010,sekitar jam 13.20 ketika berangkat ke Jakarta menggunakan kereta api,waktu saya di stasiun citayam saya sudah beli karcis dan saya langsung mengantonginya karena biasanya orang yang berada di loket penjualan tak pernah salah dalam memberikan karcis yang di beli,setelah lama menunggu kereta lewat dan berangkat menuju Jakarta.
Ketika telah sampai di stasiun cikini saya turun dan langsung ke loket dan langsung memberikan karcis yang telah saya beli ketika berada di stasiun citayam tanpa rasa bersalah,ya karena saya tidak merasa salah waktu itu,saya berikan karcis dan sayapun berlalu,namun baru beberapa langkah dari tempat itu saya kembali di panggil karena bermasalah dengan karcis yang saya berikan.
Kamu tidak tahu bahwa karcis ini bukan untk loket ini!katanya pada saya sembari memperlihatkan karcis yang memang tidak benar,setelah saya lihat memang benar bahwa karcis itu rutenya dari citayam-pasar minggu,akhirnya karena salah maka saya di bawa ke ruangan yang lumayan sempit dan cukup tertutup,saya sempat menoleh kanan-kiri sepertinya tempat itu di sediakan untuk oang yang menipu dan teledor dalam memakai kereta api.
Saya di tanya kenapa kamu tidak melihat karcis itu setelah beli kata sang introgator itu,saya jawab bahwa saya percaya dengan penjual karcis yang ada di citayam,ya tapi kamu harus membayar denda atas peraturan yang telah di langgar katanya,tapi saya hanya menunjukkan uang 1.000 rupiah dan saya mengatakan bahwa saya tidak punya apa-apa lagi,akhirnya dia bertanya pada saya kamu asli mana?saya menjawab dari depok, saya juga jarang ke kota dan saya juga jarang naik kereta.
Saya mengatakan bahwa saya kuliah di depok dan ke cikini ada pertemuan mahasiswa di secretariat HMI,dia mengatakan bahwa dia tahu demo yang di lakukan anak-anak hmi dan mengtakan bahwa dia tidak suka hal-hal yang seperti itu, dia menyuruh saya untuk menunjukkan kartu tanda mahasiswa(KTM)dan saya mengatakan bahwa ktm saya belum terbit ,mana kartu tanda penduduk(KTP)saya katakan padanya bahwa ktp saya ketinggalan di kampus,akhirnya sang introgator pun sok-sok memberikan nasehat pada saya,kalau kamu pergi itu harus bawa identitas biar jika kamu ada apa-apa bisa di kenali lewat identitas itu.
Akhirnya saya hanya dapat manggut-manggut mendengarkan ‘siraman rohani’ di stasiun,karena saya memang tidak punya apa-apa yang dapat saya gunakan untuk membayar denda 10 karcis depok ,dia menawarkan hukuman yang pantas buat saya,dia menyuruh saya untuk push up sebanyak 50 kali,baru 10 kali dia bilang sudah ,lain kali harus lihat-lihat supaya tidak terjadi lagi hal-hal yang serupa dengan ini, ya sudah kamu boleh pergidan saya pergi dengan aman.ha lega deh.
Sebuah catatan.
1. Membutuhkan sebuah change management dalam pengelolaan perkeretaapian pada aspek Sumber daya manusia yang tidak melayani bangsa sendiri.
2. Membutuhkan sebuah rekayasa ulang bisnis kereta api dan system pelayanan kereta api
3. Membutuhkan pemimpin PT. KAI yang mengerti banyak permasalahan dan persoalan yang mesti di perbaiki untuk menjadi bangsa Indonesia terbaik
Satu persatu sampah plastic makanan ringan itu mengikuti gerakan kedepan dari lambaian sapu yang tidak seberapa panjang. Sapu yang panjangnya tidak lebih dari 40 sentimeter yang telah lama menjadi sahabat setia sampah yang ada di gerbong kereta. Bentuknya yang tidak lagi bersih pertanda bahwa ia telah sangat lama di gunakan dan selalu digunakan.
Sampah plastik makanan yang di makan oleh seorang anak muda adalah sisa yang tidak berharga. Menjadi sampah bagi kehidupan, menjadi persoalan bagi orang lain. Menjadi kebijakan bagi pengambil kebijakan di kota dan juga aparatur pemerintahan.
Begitu nikmat isi dari kantong plastic tersebut. Di goyang oleh lidah ke kiri dan kekanan beberapa kali, dikunyah oleh graham yang kokoh yang menjadi mesin penghancur yang sempurna. Maka seperti itulah paradoks atau sapu yang melambai ke kiri dan kanan beberapa kali. Mengunyak kemiskinan kapasitas, kualitas, kempatan dan pilihan untuk mampu menjadi orang yang lebih bermartabat di sisi manusia dan Allah swt.
Sret-sret sampah itu bergerak seperti pembersih kaca mobil ketika hari hujan atau kabut yang menghalangi pembawa mobil untuk tidak celaka dengan menabrak orang atau keluar dari jalur. Gerakan inilah yang menjadi pertanda bahwa sang sapu menyelamatkan bagian dari sedikit iman yang di jabarkan di oleh yang kita kadang tidak anggap sebagai seorang yang layak di hargai.
Penghargaan kita hanya mampu memberikan sampah, dari hasil makanan yang isinya telah masuk dalam perut kita. Perut berisi makanan yang bertemu dengan makanan lainya hampir setiap hari dan setiap waktu. Menyisakan sampah sampah yang dibersihkan oleh orang-orang tertentu.
Seorang bapak berumur 40 an berjalan dengan kapala di tekuk, hari ini distasiun citayem para penumpang berpacu menaiki kereta api. Berpacu untuk tidak ketinggalan kereta. Karna ketika ketinggalan kereta maka pekerjaan yang lain akan tertunda. Kemarahan jurangan, bos, menejer dengan memotong uang transport dan uang makan hari ini.
Maka kita akan tidak mendapatkan deal bisnis. Calon mitra akan kecewa berat dengan keterlambatan kita. Ketika ia kecewa maka sepersekian dari nilai transaksi tidak bisa membeli makanan yang di kunyah di perjalanan kereta api yang sampahnya di buang.
Sampah ini adalah tambang emas dan juga sumber penghasilan sang Bapak. Berperawakan kurus dengan tulang pipi yang terlihat jelas di warna kulit yang kecolatan di balut oleh debu-debu kehidupan yang singgah di sepatu, sandal, dan dibawa sang angin menpemel lembut di wajah tua yang tidak seharusnya seperti sekarang yang lebih kelihatan tua dari umurnya.
Dengan wajah sekali-kali menengadah sambil menaikkan tangan seperti kita berdo’a atau seperti anak kita minta uang jajan. Ia melihat dengan mata sayu dan belas kasihan. Meminta melebihi sebuah balas jasa seribu, dua ribu atau uang recehan yang sering kita sia-siakan dengan menarok sembarangan.
Satu dua penumpang sudah terbiasa dengan hal ini. Masa bodoh dan biarkan saja mereka begitu. Peduli apa dan bagaimana? Sekali-kali nantilah di kasih uang seribu. Karna mereka akan tetap selalu begitu. Ada juga yang bergumam ini kan tanggungjawab pemerintah kata “laki gagah kerja” yang hari ini mesti berangkat kerja yang berjanji dengan “Cewek Nyantik Juga” bertemu di perjalanan kereta api yang sama karena mereka “jatuh cinta di kereta”.
Namun, seribu dua ribu sebanyak 20-30 lembar telah mampu menjadi ia bisa makan dengan beberapa orang yang menjadi tanggungjawab untuk di hidupi. Karna nanti juga ada pungutan dari yang mengaku “Preman Necis Gagah” yang bekerjasama dengan “Pamsus Nyegir Marah” yang mengetahui bahwa tetap menyapu di kereta api Jakarta Kota-Bogor.
Di gendongan bergelayut manja seorang anak kecil. Anak zaman yang besar dalam gendongan sang Ayah. Ikut melihat bagaimana manusia bergerak, bercerita, bercengkrama, membaca, tertidur, berbicara entah dengan siapa.
Mengucapkan sekian juta, sekian fee untuk saya. Biasalah dapat memang sedikit kalau sekarang proyek mah telah banyak yang mesti di sisihkan. Banyak kata-kata yang masuk dan terekam jelas dalam sorot mata yang bening ingin berkata dan menyatakan.
Sayalah anak zaman yang kalian tindas dengan tidak berperikemanusiaan lewat kebijakan, lewat pendidikan, lewat transaksi belanja yang tidak membeli hasil bumi dekat kami tinggal. Karna uang lebih senang di belanjakan di mal dan juga pasar modern. Membeli produk yang kalian buang sisanya sebagai sampah yang ayahku sapu dan meminta belas kasihan kepada kalian.
Sayalah anak ummat yang di sia-siakan oleh ummat yang selalu katanya sujud dan rukuk di “Mesjid Institusi Pengemis” dan tidak menjadi “Mesjid Rumah Kaum Dhuafa” karna kami telah terbiasa menjadi penginap “Hotel Emperan Mesjid” dan tidak bisa menjadi penghuni “Hotel Bintang 27” seperti “Pengawai Rumah Allah” yang senantiasa bisa bertafakkur.
Membaca dan mendalami ilmu agama yang ustadnya hanya menjadi “Penyeru Agama Bayaran” dan tidak lepas dari “Anjing Agama Menyalak”. Akulah anak ummat yang akan meminta pertanggungjawaban kalian ummat yang terlupakan bagaimana kasih Rasulullah terhadap kalian.
Sayalah anak kehidupan yang akan menggetarkan peradaban. Dengan sapu-sapu yang dapat menyapu seperti angin topan. Menyapu seperti gelombong tsunami. Menyapu seperti lahar panas yang keluar dari gunung berapi yang ganas. Menyapu seperti halilintar yang membumi hanguskan banyak peradaban.
Sayalah anak peradaban dan Sayalah anak cultural social yang tidak kalian hiraukan.
Suapan terakhir dari nasi bungkus paket lima ribu telah masuk dalam mesin penggiling bernama graham dan gigi. Setelah penggilingan akan masuk kedalam gerobak lambung tempat pelatakan semua bernama makanan dan minuman.
Begitu juga dengan gerobak yang telah menemani kemana menelusuri jalanan Jakarta hari demi hari mencari hasil sisa pembuangan orang berupa aneka sampah yang bisa di gantikan menjadi sesuap nasi, hembusan asap yang enak dinikmati, dan sekali-kali membeli kenikmatan nikmat sugawi dunia.
Satu dua motor lewat di jalan menuju bundadaran Hotel Indonesia. Kemudian di susul oleh beberapa mobil yang bermerek aneka banyak yang bukan buatan anak negri sendiri. Katanya produksi dalam negri namun modal dan juga tenaga ahlinya lebih banyak dari luar negri. Itu beberapa ciloteh bapak-bapak di pos kambling yang pernah kami dengar ketika membahas persoalaan negri.
Ketika geraham atas bertemu dengan graham bawah dan lidah sedang asik memutar dan membolak balikan makanan ada yang terasa ngandat dan tersendat mesin kunyah terbaik yang pernah ada ini. Kemudian sekantong air teh tawar menelusuk masuk dari ujung plastic bagian kiri yang sobek oleh gigi depan.
Setelah beberapa teguk ari mengaliri sendatnya kerongkongan dan menghilangkan cenggukan. Maka satu persatu teman lewat ada Pemulung kebaikan yang menyapa bagaimana mas yang kemaren jadi nga’ di usahain untuk di kirim ke rumah di kampung.
Belum dapat ne, susah mencarinya sekarang karna banyak saingan. Aku baru dari lapak ni setor ke bos dan baru beli nasi ma teh tawar. Kemudian asap itu mengepul dari hirupan pertama rokok kretek yang di sulut dari rokok pejalan yang numpang lewat baru kembali dari warung sebelah jalan.
Begitu nikmat hidup dengan beberapa suap nasi di makan diterangnya cahaya lampu rel kereta api ditemani oleh teh tawar dan sebatang rokok kretek itu pasti. Karna malam ini ada sedikit rejeki kita akan kirim nanti untuk anak istri di kampung di sudut negri kaya tapi miskin hati ini.
Lengkap sudah kenikmatan makan malam walau ditemani cahaya lampu penerang rel kereta api Jakarta – Bogor di stasiun cikini dan juga di temani oleh gerobak sebagai perusahaan ternama yang mampu menampung berbagai bisnis sisa hasil kegiatan manusia Jakarta yang tamak dan serakah.
Allahu akbar Allahu akbar, Allahu akbar Allahu Akbar, begitu merdu suara azan bergema memanggil mereka yang telah terbuai dan terlenan oleh pesoalan dunia. Panggilan cinta yang agung pagi pecinta keangunggan. Panggilan revolusi yang mereka cinta sebuah revolusi. Panggilan rindu yang menderu deram bagi mereka yang sedang di mabuk asmara kepada sang Maha Indah.
Inilah pertanda bahwa sudah saatnya perut ini mendapatkan jatahnya. Karna cukup sudah ia tidak mendapatkan haknya selama sehari. Itu dalam rukun puasa menahan lapar dan haus semenjak terbitnya fajar sampai terbenamnya mentari di waktu magrib. Namun perut ini hanya berisi makan sore kemaren dan tidak sahur karena pembeli ganjalan itu tidak ada.
Karna sudah terbiasa untuk menjadi pribadi yang mampu menahan lapar dan juga terbiasa mendengar nyanyian kriuk yang romantic dengan bass sendawa dari angin maag yang telah lama berdendang dari lagu salsa, dangdut, jaipongan dan barang kali lagu pop melayu ketika berada di kampung melayu.
Mendekatlah ke sebuah mesjid tempat sujud dan rukuknya manusia di kampus mahasiswa salemba UI. Mesjid bernama tokoh ampera angkatan tahun 66 bernama Arief Rahman Hakim. Dengan singap di antrian mereka pekerja, mahasiswa, dosen, pedagang, dan juga pegawai, calon dokter, dokter, antri untuk mengambil wudhu’ sebagai pemenuhan kebutuhan bagi sebagian. Memenuhi keinginan sebagian orang. Memenuhi rasa malu sama teman bagi sebagian orang. Memenuhi ingin di lirik dan di lihat oleh seeorang atau bos.
Maka ketika tangan ini bertemu dan bercengkrama ria ia kemudian menjadi waduk kecil dari air terjun kran yang mengalir deras seperti air terjun besar di lihat oleh semut yang sedang mencari makan di atas dinding dibelakang.
Beberapa saat waduk yang di tahan oleh telapak tangan kiri dan kanan itu pun penuh. Kemudian masuk kedalam goa saluran iringasi pertamanan organ tubuh, iringasi persawahan kehidupan badan. Seakan seperti motor yang telah kehabisan bensin yang hidup kembali. Seakan seperti aki yang mendapatkan casan api. Seperti busi yang telah di bersihkan.
Ada sebuah sensasi nikmat sekali air yang telah menyirami tanaman kehidupan yang menahan dahaga dari terpaan panas kehidupan. Terlihat seperti pohon-pohon yang hampir mati ia perlahan menghijau kembali setelah datang hujan yang menyirami.
Satu, dua dan tiga waduk darurat air mengalir kedalam irigasi tubuh yang telah lama menanti sore tiba hari ini. Kemudian ia melanjutkan dengan membasuh anggota tubuh.
Ia mulai dengan membasuh muka yang telah kusam karena berbedak debu jalanan dari hembusan mobil-mobil cicilan, bus hutangan, motor kreditan, dan asap kendaraan penghasil polusi yang bablas secara standar emisi gas buang.
Kemudian ia membasuh tangan yang dekil, berwana kecoklatan dipunggung yang terus bertemu dengan panasnya sinar mentari. Tangan yang telah banyak melakukan kesalahan sebagai bagian dari kegiatan menjadi pak ogah jalanan, sekali-kali mengojek dengan Ojek BuPaMaNeng. Atau memangging Calon Bu Bidan Cantik. Dan terkadang colek Calon Dokter Idaman yang lagi mau naik Bus Tanah Abang Menunggu.
Kemudian menyapu kepala yang tidak tumbuh lebat hutan rambut di kepala yang telah banyak terbungkus kupluk berwana hijau tua dan warna hitam. Kepala yang hanya bisa berfikir hari ini mau makan apa ya? Karna di Kampus Warung Babe Ngopi, atau Nyusu kena dua ribu.
Kepala yang tidak secedas calon notaris yang manis yang aku lihat di diktat perkuliahannya. Kepala yang tidak seencer calon dokter spesialis kulit, jantung yang kemana-mana membawa steteskop. Kepala yang tidak sepintar calon bidan yang mengerti bagaimana menyelesaikan kelahiran.
Ah yang terpenting kepala ini cukup seperti biji kopi yang mesti di masak dengan api sampai gosong. Kemudian di tumbuk dengan mesin sampai halus dan kemudian di seduh oleh panasnya air hangat yang mampu mengeluarkan aroma terapi, aroma sensasi, aroma kenikmatan.
Kemudian membasuh telinga yang sering mendengar gossip terkini tentang persoalan anak negri yang bertarung sesame politisi. Memperebutkankan harta gona-gini, angket itu ini, kasus ini itu dan kebijakan yang tidak memihak kaum marginal seperti Pertapa Kota, Pengemis Bisu, Pemulung Kebaikan apalagi Sopir Pasak Bangku dengan kondektur tn. Abang menunggu.
Telinga yang telah lelah mendengar beribu janji, analisa sang pengamat yang berbunyi ini dan itu. Pernyataan dan konfrensi press di media nasional ini dan itu. Ulasan berita presenter berita televise yang suaranya merdu menggelitik, kadang-kadang tajam menohok itu pun hanya sekali-kali.
Lebih baik selesaikan cepat membasuh kaki yang telah kumal dengan debu-debu dari perjalanan kaki menelusuri ruas jalan jalan cikini, RSCM tempat merawat badan yang sakit ini, sakit itu, sakit gini, sakit gigi sampai yang sakit hati atau tidak tahu sakit apa yang di namakan dengan sakit aneh hari ini. Karna butuh penelitian ini dan analisa laboratorium terkini.
Selesai sudah. Dan ternyata banyak yang pada ngantri membasuh organ badan yang telah kotor oleh banyak persoalan yang mereka sendiri mampu bercerita nanti.
Maka bergegaslah masuk mesjid dengan cukup di temani oleh air kran mesjid Arief Rahman Hakim menjelang nanti mendapatkan kebaikan para teman para pedagang di depan satu goreng dari Penjual gorengan. Satu mangkok ketoprak dari Penjual ketoprak. Satu Otak-Otak dari penjual Otak-Otak. Satu Roti dari penjual Roti dan satu Bubur biji salak dari penjual bubur biji salak. Begitu pikiran melayang ketika imam sedang membaca Surat Alhakumuttakasur hatta zur tumul maqabir.
Karna perut ternyata hebat bernyanyi keroncongan untuk bertahan hidup di jalanan Jakarta yang ganas menghempaskan seperti debu jalanan.
Begitu lampu hijau menyala, maka tuas kopling dengan enjoynya kembali ketempat semula naik kepermukaan yang hampir satu menit lebih dinjak oleh sang kaki teman setia setiap hari menemani antara Tanah Abang-Jatinegara.
Kemudian tidak lupa tuas gas menekan untuk menghasilkan tarikan yang hanya sekali-kali tidak menekan dan itupun ketika penumpang naik dan turun di halte atau di lampu merah sedang menyala. Kadang-kadang mesti berbagi pijakan dengan rem yang selalu menjadi nomor dua ketika aku bersamanya dan kadang aku nomor dua ketika ia bersama tuas kopling. Tidak mengapa aku senang di madu olehnya.
Ada saat kopling bergerak keatas sebelum itu gigi prosneling pertama telah bekerja menanti aba-aba sang kopling. Tidak ada kata tunggu dari solar untuk tidak bekerja dibantu oleh nozel dan juga gerakan seirama piston-piston dan juga semprotan busi-busi untuk menghasilkan gerakan dan ritme yang serupa tapi tak sama.
Begitu lamu hijau menyapa tangan sang supir bergerak memutar bulatan untuk bisa berpacu untuk mendapatkan penumpang yang telah melambai di halter salemba UI yang sama.
Teman-teman setiaku yang kadang dengan senang hati menyapa terima kasih pak. Dan tidak sedikit yang mengucapkan ucapan cacian, umpatan, kemarahan dan juga nada ketus protes karna aku mesti mengejar setoran.
Memutar stir kekiri dan kekanan, tekan gas kencang, pijak rem mendadak dan juga tekan kopling pindah prosneling gigi adalah keahlian dalam pacuan untuk mengejar setoran.
Kalau hari ini setoran kurang maka Pasak Bangku akan tidak ada lagi esok hari untuk mencukupi beli kopi susu di kedai babe dan sebatang rokok Dji Sam Soe. Karna bos tahu setoran pas dan kalau dapat berlebih, karna kami (Supir Pasak Bangku dan Kondektur Tanah Abang menunggu) ibu bapak, nona, kang, mas, uda, uni, calon dokter, bidan, karyawan, notariatan sebagai penumpang tidak ada jaminan hukum dari pengacara, jaminan berobat dari dokter, tidak ada tunjangan seperti karyawan, tidak punya bisnis seperti uda dan uni.
Maka kami akan tetap menjadi raja jalanan selama kami bisa.
Untuk mu Supir Pasak Bangku terima kasih telah menghantarkan ku dari kehidupan berbuat untuk kebaikan namun di balas dengan aneka cacian dan umpatan.
Serial tulisan "Halte Bus Salemba UI". Jum'at 12/10/2010
Siang itu di hari jum'at yang lalu, terik matahari menerpa seluruh langit jakarta dan tanah abang. Terang benderangnya memberikan kehidupan untuk mereka yang berusaha dan berikhtiar menjemput rezki yang telah di sediakan.
Jum'at sebagai sebuah ibadah muktamar besar dalam islam. Ibadah jum'at tidak hanya sebuah ritual kosong dan juga kegiatan tafakur terdengkur di sela istirahat karna capek menjemput rizki.
Seperti biasa di awal prosesi jum'at ada laporan-laporan dari pengurus takmir mesjid tentang uang kas mesjid, yang terdiri dari uang masuk dari jum'at kemarin sampai dengan jum'at sekarang. Uang keluar dan juga sisa Kas sampai saat ini.
Tujuh ratus dua puluh dua juta rupiah lebih (722 juta) itulah penyampaian tertulis yang dibacakan oleh takmir mesjid. Ada sesuatu yang lain yang menjadi kebiasaan pada mesjid jami' almakmur tanah abang. Pemabacaan infak dari Si Anu, Si Ono dan si lainnya dengan jumlah 50 ribu, seratus ribu dari toko ini dan toko itu.
Pesan adalah mohon minta alfatihah dan do'a kesembuhan dan berbagai niat lainnya. Sebuah kekuatan filontropi yang di acungi. Kemudian takmir memberikan beberapa pengumuman tambahan untuk kegiatan majlis taklim dan bedah buku dan kegiatan lainnya.
Di pimpin oleh seorang khatib yang telah menyampaikan wasiat bertaqwa (bertanggungjawab) terhadap Allah dan hiduplah dalam islam dan kemudian baru mati (Q.S Ali Imran 101) dan juga nasehat-nasehat kebaikan lainnya.
Di akhir ruku dan sujud yang ikuti oleh ratusan orang di muktamar besar ummat islam kita mengucapkan Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh kekanan dan kekiri. Kemudian dengan istigfar, tahmid, tasbih dan takbir berpacu memenuhi ruang mesjid yang kemudian di tutup dengan rangkaian do'a "Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannar" Yaa Allah berilah kami dalam kehidupan dunia kebahagian dan juga di akhirat dan jauhkanlah kami dari azab api neraka. Itulah lantunan akhir dari do'a-do'a kita.
"Kami" meminta kepada Allah datangkanlah uang 50.000, untuk bisa hasanah (bahagia melihat, memegang, membelanjakan) di dunia kehidupan dan juga nanti di akhirat (hari esok untuk tidak lagi meminta di hari jum'at) dan dengan uang itu maka kami terjauh dari kemeralatan, terjauh dari tidak punya pendidikan, keterasingan dan ketermarjinalan.
Itulah do'a-do'a mereka di penghujung prosesi muktamar jum'atan. Oom, oom, ooom dengan suara lirih ia memberikan Anjungan Tunai Mangkok (ATM) kehadapan orang-orang yang telah selasai dari muktamar besar Ummat Islam dari bocah kecil berusia tidak kurang dari 5 tahun.
Ia mengacungkan ATM ke kita yang sedang asik membuang polusi asap ke udara, mengotori jiwa yang telah kita bersihkan dengan doa "atina fiddunya hasanah" dan juga mengotori cinta kita sesama yang bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah.
Untuk mu yang telah ajarkan aku akan sebuah makna akan syahadat kehidupan dalam bait-bait do'a dan makna rukuk dan sujud.
Dengan tongkat yang panjang tidak lebih dari satu meter. Alat yang menjadi penentu apakah ia akan melangkah lebih panjang karna ada lobang. Atau karna di pepet sang motor yang terburu nafsu untuk sampai di tujuan.
Kadang kala mesti bergerak cepat untuk menepepi di jalanan yang penuh pacuan motor dan mobil yang tidak simpati apalagi memiliki empati. Kadang langkahmu tersangkut untuk dapat menghindar dari kemarahan orang yang memiliki motor atau mobil yang parkir di tepi jalan.
Semilir angin menyapu wajahmu yang telah mengeras dan tidak lagi indah yang tidak lelah berjalan. Langkah-langkah itu selalu bercerita bahwa engkau pernah hadir disana bagi malaikat yang menunggu kebaikan-kebaikan mengalir kedalam kantong kecilmu.
Langkah-langkahmu bergerak seiring perputuran tarigan gas motor dan mobil dan langkah dirimu tidak tahu kemana mesti jalan hidup yang di tuju.
Jakarta yang katanya negri seribu satu kebaikan, hari ini telah kulalui di seribu satu penderitaan di seribu satu langkah yang selalu bergerak kemana hati dan tongkat membawa pergi.
Rambut putih dan hitam yang memiliki komposisi hampir sama yang telah lama ia tidak mendapatkan pemerbersihan dari debu jalanan Jakarta.
Kadangkala hanya mendapatkan sapuan air di depan sebuah mesjid atau mushalla yang masih mau memberikan emperan untuk menginap sementara waktu sampai esok pagi datang lagi.
Ku berjalan untuk mengemis kebaikan-kebaikan yang telah Engkau berikan bagi mereka yang mempunyai kesempurnaan dalam hidup baik organ penglihatan dan juga karir cemerlang.
Belantara Jakarta mau siang ataupun malam tetap tidak memliki cahaya yang dapat kulihat. Kadang ada yang membantu dengan memberikan seribu, dua ribu atau lima ribu, dan amat jarang seratus ribu. Namun tidak sedikit juga sindiran pilu, umpatan ngilu dan perkataan kelu.
Ku tetap berjalan di tuntun tonkat yang selalu membawa kebaikan.
Catatan di Halte Salemba UI, terima kasih telah mengajarkan bagaimana menjadi pemberi kebaikan, salam untuk mu Pengemis Kebaikan
Pagi dengan hujan yang telah membasahi bumi Jakarta. Hujan yang dimulai setelah solat subuh memberikan kesegaran udara dari udara Jakarta yang telah sesak oleh polusi asap kendaraan yang lalu lalang.
Seperti biasa dan telah terbiasa pagi masyarakat kota bergerak untuk berangkat untuk melakukan aktivitas, bekerja bagi “Karyawan Teladan Ramah” yang mendapatkan perhatian dari “Bos Menang Sendiri”. “Kopi Babe” telah tersedia untuk energy bagi tukang “Ojek BuPaMaNeng” yang telah memarkir kendaraan yang belum lunas kreditannya yang tinggal beberapa bulan lagi.
Ketika kredit selesai maka tidak ada lagi degub jantung yang semakin kencang berpacu dengan waktu jatuh tempo pemabayaran. Maka ketika itu kuranglah terkena serangan jantung dan juga di kejar oleh “Pinjaman Rentenir Keliling” yang mempunyai “body guard ganas” yang tidak sengan-segan untuk menganiaya apabila tidak mampu membayar cicilan pinjaman yang bunganya sampai 40% pertransaksi.
Itulah pilihan hidup betahan di Jakarta. Ojek Bu atau Ojek Pa, Mas dan Neng sini pake ojek dengan Intonasi yang menggoda kepada “Karyawan teladan Ramah” atau kepada “Calon Nak Dokter” atau “Calon Bidan Cantik” atau kepada “Sang Notaris Smart” yang selalu menunggu jemputan sepulang dari kuliah.
Dan satu dua penumpang menayakan berapa kalau kesenen atau ketempat yang jauh. Tawar menawar adalah senjata utama Ojek BuPaMaNeng untuk memasang tarif tinggi untuk jasa antar alamat cepat dengan kemampuan akrobatik selib kanan dan kiri diantara deretan kendaraan mobil yang terhambat lajunya oleh lampu merah yang sedang menyala.
Satu penumpang telah diantar ke daerah Cikini yang telah terlambat datang ke kantor disebabkan hujan hari ini. Duit delapan ribu berpindah dari kantong “Penumpang Sekali Datang” yang mempunyai janji penanganan “Kredit Usaha Korporasi” yang akan menciptakan “Lapangan Kesenjangan Usaha” di sebuah daerah yang memiliki kearifan local “Mengelola Hutan Adat”.
Tidak menjadi soallah bagaimana ia dan untuk apa. Delapan ribu cukup untuk beli bensin 5000 sebagai modal ngojek untuk beberapa orang nanti, Kemudian bayar “Kopi Babe” dan juga mentraktif “Penyanyi Bisu” sebatang rokok kretek.
Ketika dapat penumpang yang terpenting adalah kecepatan untuk sampai di lokasi yang dituju. Karna itulah kekuatan service ojek yang bisa menembus lampu merang, menerobos kemacetan dan juga tidak lupa untuk berpacu dari lampu pengatur lalu lintas ke lampu selanjutnya dan menjadi yang pertama di depan, kalau tidak maka akan terjebak oleh mengularnya mobil di jalanan Jakarta.
Mengojek tidak membutuhkan befikir kuat seperti “Calon Nak Dokter” yang membawa diktat dan buku yagn harganya sampai jutaan. Yang penting bisa bawa ia tidak di bayarpun mau, he he, he. Itulah seloroh yang keluar dari kepolosan dan juga ambisi yang entah tersampaikan.
Untuk teman-teman Ojek Halte Salemba UI terima kasih atas sapa hangat dan juga persaudaran di kala hidup mesti tidak berfikir rumit hanya butuh motor untuk menjadi tukang ojek. Dan semuanya pasti dapat, uang dan bawa cewek manis yang disukai hati, namun tidak kesampaian barangkali.
Halte Salemba UI, di Kampus Warung Babe suatu pagi.
Dengan kain selendang yang telah robek di beberapa bagian yang warna telah pudar karna sering di cuci dan digundar di tepi kali yang telah tercemar banyak polusi. Menggunakan pakaian lusuh yang telah lama menemani tubuh yang tidak begitu terawa lagi ketika masih muda dan sedikit seksi seperti artis penyanyi yang lagi beraraksi, namun sayang baju ini tidak bisa digantikan oleh pakaian lain.
Berpacu dengan derap kaki penumpang memasuki gerbong kereta api ekonomi yang akan berangkat dari stasiun Jakarta kota menuju tempat masing-masing sehabis berbelanja, bertemu teman lama, membeli berbagai aksesoris di pasar asemka. Dan juga tidak lupa untuk bertamsya ke taman fatahillah dengan nuansa kota tua. Disana ada ojek sepeda onta tua.
Dari stasiun Jakarta Kota kereta api mejaju ke statisun mangga besar dan sawah besar terus ke gondang dia. Satu dua peumpang turun dan lebih banyak naik itulah ritme penumapang kereta api ekonomi. Satu, dua, tiga dan banyak sampah bertebaran di lantai. Inilah saatnya untuk membersihkan gumamnya dalam hati.
Dengan anak yang di gendong di bagian depan yang terus menangis menahan lapar dan juga terhimpit terjepit oleh kegiatan membersihkan lantai dengan sapu ijuk yang tak bertangkai. Sapu ini lah yang setia menemani beberapa hari membersihkan gerbong kereta api ekonomi.
Regekan di kecil mememacah diantara percakapan rombongan “Anak Gaul Bersama” yang bercerita tentang fashion terbaru yang di rilis sebuah majalah wanita dinamis. Dan suasa bising kereta api diiringi music “Punggawa Nada Kecil” yang menyanyikan lagu "langit sebagai atap rumahku, bumi sebagai lantainya dan kereta api sebagai penghidupan diri, belas kasihan untuk beli nasi": dan Alunan dendang dari “Pendendang Lagu Islami” yang sama-sama mencari kebaikan hati penumpang yang tidak begitu sepi.
“Anak gerbong kereta” ikut dalam rangkaian gerbong yang lagi mencari lahan yang belum bertuan untk di bersihkan. Karna kami mempunyai perjanjian tidak tertulis, hanya boleh satu gerbong satu orang diantra kami juga termasuk “Anak Ayah Gendong”.
Beberapa kali membetulkan selendang yang menopang anak yang terus menangis diirigi dengan ingus yang menucur dari lubang hidung. Seperti cucuran air minum yang masuk ke dalam mulut seorang berbaju necis yang membeli Koran dari “Penjajal Berita Baru”.
Tertulis disana sebuah berita angka kemiskinan menurun sekian persen, dari hasil penyelidakan dan perkembangan kasus century menghabiskan dana milyaran rupiah dengan hasil yang tidak tahu. Dan juga kata dan janji beberapa orang yang mau menyalonkan diri.
Itulah sekelumit berita yang aku baca di headline berita hari ini yang dibaca oleh penumpang berbaju necis yang tidak mau melihat berita kehidupan dan mampu melihat dan memperhatikan berita-berita Koran yang dibuat untuk kepentingan yang kadang membnuh kehidupan kami kaum marginal miskin kota yang menyapu sampah.
Secara perlahan bergerak dan menyapu dengan satu dua mereka memberi untuk dapat membeli nasi atau susu nanti. Aku hanya bisa berbisik dalam hati, “Nak kalau engkau besar nanti jadilah orang yang mengerti tentang hidup berkehidupan atas nurani dan kepekaan hati, jangan engkau hidup menjadi orang yang hanya mengerti bagaimana mengekploitasi dan mengumpulkan sendiri kekayaan sedangkan dirimu ibu besarkan dalam gendongan untuk mendapatkan beberapa rupiah dari belas kasihan orang lain.
Serial tulisan “Jakarta Kota-Bogor”
Muhammad Yunus
Presiden Direktur
Baitul Muslimin MUZAKKI
Horaslae Ban itu tertulis di gerobak mu yang selalu datang di waktu sore menjelang magrib di halter salemba UI setiap aku disana. Dengan gerobak yang tanpa cat yang indah apalagi artistik di pandang secara kasat mata.
Dengan satu mesin pompa kompresor, kunci-kunci yang berada dalam sebuah ember, pembakar ban dan beberapa ban dalam baru maupun bekas menggantung di hujung gerobakmu. Dengan sebuah ember berisi air sebagai penanda ada bocor pada ban dalam motor atau bajaj yang selalu lalu lalang.
Segelas kopi hitam kapal api dan sebatang rokok kretek yang sedang mengepul seperti lokomotif yang membawa anak-anak gerbong kehidupan yang sesak dengan berbagai cerita dan kepentingan dan terkadang overload, mesti menumpang naik keatas gerbong.
Asap itu terus mengepul yang berpacu dengan kepulan asap bajaj yang meraung-raung di selangi oleh suara sisa pemabakaran ruang mesin mobil Supir Pasak Bangku dan beberapa pegendara motor yang memacu motor biar tidak terjebak lampu merah arah sentiong.
Satu, dua, tiga, empat dan beratus motor telah berpacu sehabis lampu merah dari arah jatinegara, karna nanti ada satu atau dua motor di papah dan itulah saatnya menambal yang bocor-bocor. Satu tambalan bocor cukup untuk minum kopi segelas dan beberapa rokok kretek peneman.
Pak tolong di tembal ya. Begitu seorang anak muda dengan motor besar, sambil di temani oleh seseorang yang telah lama akrab menyapa. Tolong dipinggirkan dan berdirikan kaki dua.
Dengan sigap ia mulai membuka ban luar dengan sigap ban dalam telah keluar dan diisi dengan angin. Beberpa gelembung keluar dan satu, dua buah ban dalam bocor.
Mas bocornya ada dua, dengan anggukan anak muda menyetujui penambalan. Sambil ia menyalakan alat pembakar penambal iseng-iseng ia mendengar percakapan anak muda dan orang yang bersamanya. Eh kamu udah lihat belum berita kemarin persoalan bank century, dan persoalan lainnya tentang bocoran beberapa soal untuk tes masuk BUMN. Dengan sedikit ketus ia menjawab 'Kasus century mah kebocoran sistem bank dengan paku kebijakan. Tapi kebocoran soal tes itu aku hanya dapat gossip sih di fb.
Beberapa saat kemudian bocor ban dalam telah selesai di tambal dan telah bisa di kendarai lagi. Berapa pak semuanya tambal 2 bocoran ban depan. '15.000,- aja sebagai pasien pertama hari ini, makasih bos begitu ia menerima uang.
Cukuplah untuk bayar kopi rokok dan angsuran koperasi inang-inang yang telah menunggak dua hari. Di hari semakin senja karna jam opersional baru dimulai dan selesai besok pagi waktu subuh tiba.
Bocor satu dapat 8.000, bocor dua 15.000, dan kalau lagi rejeki ganti ban dalam karna pentil yang rusak. Begitu pikiran beliau melayang di sela-sela kepulan asap yang masih setia keluar masuk paru-paru dan keluar lewat hidung dan mulut.
Dalam lamunan itu ia tersadar ternya hanya hayalan karna tambalan itu beberapa hari yang lalu. Kemudian ia menghisap dalam asap rokok kretek yang tinggal sedikit mencoba menerka bagaiimana cara menamal kebocoran biaya pendidikan anakku, biaya jaminan kesehatan, kebocoran biaya banjir, dan kebocoran perbankan seperti kasus century.
Jika aku bisa tambal satu aja bah saja kebocoran tersebut berapa rupiah yang bisa membuat gerobak tambal bocor-bocor di berbagai sudut kota jakarta dan tentu tidak perlu lagi menjadi penambal ban bocor motor atau bajaj karna ku sekarang beralih profesi penambal kebocoran anggaran.
satu sore di Halte salemba UI masih di Kampus Warung Babe,
Adakah yang bersedia menambal kebocoran anggaran untuk rakyat yang menderita dari paku kebjikan?