Tampilkan postingan dengan label Spiritual-Religius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual-Religius. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Oktober 22, 2016

Islamic Center Transformasi Surau?



Perjalanan waktu berlari kian kencang dikhawatirkan akan menggilas sisi kemanusiaan hasil karya cipta mansia sepanjang sejarah. Revolusi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merubah bahkan merombak secara total mindset kita dalam menatap masa depan.

Artinya ukuran usang seakan tak lagi bisa digunakan untuk mengukur segala sesuatunya termasuk dalam mendalami ilmu-ilmu agama. Seperti cita awal didirikannya surau di Minangkabau untuk melahirkan Alim Ulama, Cerdik Pandai dan Niniek Mamak. Ketiganya berinduk ilmu kepada adagium Adat Basyandi Syarak Syarak Basyandi Kitabullah (ABS/SBK).  

Ulama abad ke- XVI-XVII seperti  Syeh Burhanuddin sepulang dari Mekah mendirikan surau di Ujung Tanjung (Ulakan) Pariaman. Diikuti Syeh Batuhampar Kab 50 Kota Payakumbuh, Koto Berapak Bayang ( Syeh Abdul Wahab), Ipuah Muko-Muko (kini Bengkulu, Calau ( Sijunjung), Sumani Solok.  Canduang ( Bkt /Agam), dan beberapa surau awal/tuo.  

Web dengan genre 3.0 menjadi bentuk baru nyantri, popular dengan istilah “Mukidi” (murid kiyai digital). Pembelajaran keagamaan saat ini, tersedia dengan melimpah. Cukup ketik sejumlah kata kunci. Maka muncul berbagai ulasan dari berbagai pihak, blog, video, slide, buku. Sebagian berasal dari otoritatif keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagian berasal dari kemampuan Amati, Tiru dan Modifikasi.

Seakan belajar agama cukup dihadapan layar monitor, hp android. Hampir jarak dan interaksi dapat dibangun dengan demikian cepat dan mudah. Tidak perlu berlama-lama berkehidupan seperti santri di surau atau pondok pesantren dulu.


Trakat madinah, tradisi belajar para ulama dari satu guru kepada guru yang lain. Berlainan tempat dan kedudukan. Masing-masing adalah ahli dalam bidang masing-masing. 

Surau Dulu

Melihat kebelakang bagaimana surau menjadi candradimuka pembentukan karakter regenerasi alim ulama, cadiak pandai dan niniak mamak. Memasuki bagian terdalam untuk mendedah prinsip, nilai-nilai, metode dan budaya. Menjadikan generasi minangkabau pasca kolonialisasi Belanda menjadi entitas kaum terpelajar berkarakter, secara bersama membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan kaum berbeda etnis dan kebudayaan. 

Tradisi belajar surau adalah belajar sampai tuntas. Belajar dari seorang syekh pemimpin surau. Kemudian setelah selesai, belajar kembali sesuai dengan kehendak atau ilmu yang didalami. Syekh Sulaiman Arrasuli. Adalah murid dari berbagai surau-surau tuo. Mulai dari malalo, sugayang, sampai ke Makkah Almukarramah. Sepulang dari Makkah dan belajar langsung dengan Syekh Khatib Alminangkabawi mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah. 

Menjadikan santri dari berbagai surau dan guru. Bagian pembentuk karakter dalam rentang waktu panjang. Tidak seperti pendidikan pesantren saat ini selama 6 tahun. Proses belajar seorang santri menyelesaikan pendidikan satu surau, menyelesaikan satu disiplin ilmu dan kemampuan menjelaskan. Atas ridha guru, santri disarankan untuk berguru ke guru lain di surau berbeda.

Perbedaan mendasar dengan pendidikan pesantren adalah menghasilkan standar mutu yang sama, dengan metode yang sama. Pengakuan kemampuan adalah ijazah dan angka-angka. Sedangkan metode surau tidaklah demikian. Proses pendidikan surau membentuk karakter utama. Sebagian ada yang mampu menyelesaikan pembelajaran dari buya dengan cepat, ada yang mesti berpuluh tahun untuk mendapatkan putuih kaji dari guru. 

Sedangkan Ibrahim Dt. Tan Malaka, belajar dari 2 surau di daerah suliki, 1 surau di batuhampa, tempat surau kakek Muhammad Hatta, surau pincuran bawah di Nagari Canduang dan surau bonjol. Kemudian tidak menyelesaikan tahap terakhir yakni bamusajik. Maka, ia mengambil jalan menjadi niniak mamak, sesuai dengan amanah menjadi Panghulu suku Koto dengan gelar Dt. Tan Malaka di Nagari Suliki.

Surau adalah tempat bersama belajar tentang pembentukan karakter dan nilai-nilai tauhid-intelektual-sosial. Tauhid sebagai kerangka dasar membentuk karakter, kemampuan intelektual santri. Kemampuan intelektual ini melahirkan berbagai pemikiran untuk melakukan perubahan social masyarakat. Dari proses belajar di surau, tiga kecendrungan utama alumnus surau.

Pertama, golongan alim ulama. Buya Hamka “Falsafah Hidup” dan “Tasawuf Modren”, Syekh Sulaiman Arrasuli, Dr. Abdul Hamid Hakim.

Kedua, golongan cadiak pandai. Dr. Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, H. Agus Salim

Ketiga, golongan niniak mamak. Ibrahim Dt. Tan Malaka, Syarifuddin prawiranegara. M. Asaad,

Metode surau telah mampu menciptakan generasi emas dan jaringan luas. Perjalanan untuk menjadi buya/guru/syekh adalah perjalanan hidup menempa diri berdiri penuh dalam Tauhid-Intelektual-Sosial.

Penempaan tauhid dalam diri dengan melakukan perjalanan (merantau) dari satu tempat belajar (surau) hidup menetap belajar. Menempa keyakinan pengorbanan menuntut ilmu sebagai sebuah kewajiban. Kemudian belajar mempelajari berbagai ilmu alat memahami alQur’an, Hadist dan realitas kehidupan. Pada akhirnya mendirikan surau dan membentuk masyarakat bertauhid menjalankan syariat Islam secara paripurna.

Telusur tentang rangkaian santri surau dan penambahan surau demi surau dapat menggunakan runut berguru masing-masing ulama diMinangkabau. Dimana sampai saat ini “ranji kaji” diwariskan dalam halaqah surau.
Surau Jembatan Besi menjadi Pondok Pesantren Thawalib Padang Panjang. Surau Parabek menjadi Pondok Pesantren Thawalib Parabek. Surau Baru Canduang menjadi Madrasah Tarbiyyah Islamiyah Canduang. Masing-masing memiliki hubungan guru, kitab-kitab dasar rujukan dan beberapa kitab hasil kajian buya. Masing-masing buya memiliki metode berbeda.

Perbedaan adalah pada perjalanan hidup buya, karakteristik budaya masyarakat dan tantangan kehidupan. Surau adalah tempat belajar berbagai ilmu alat, seperti nahu dan sharaf, ilmu mantiq, ilmu balaghah, ilmu tafsir, ilmu hadist, akhlaq, ilmu tauhid.

Orientasi pembentukan karakter, kemampuan menelaah kejadian demi kejadian dan kemudian diambil kesimpulan tentang hukum (fiqih) dan metode pengambilan hukum (ushul fiqih). Pembelajaran surau tidak terlepas dari kemampuan bermu’amalah (ilmu hidup). Anak surau, belajar berusaha tani, berternak, berdagang dipasar dan hidup bersama masyarakat. Tempat keberadaan Madrasah Tarbiyyah Islamiyah Canduang saat ini adalah Pakan Kamih (Pasar Kamis).

Pondok Pesantren adalah ikhtiar pelaku guru surau dan masyarakat untuk menjawab kebutuhan pendidikan sesuai dengan langgam zaman. Pelabelan oleh Belanda, sekolah di surau adalah sekolah menadah ‘mengemis’ menjadi penguat pembentukan model klasikal, yang sebelumnya model lingkaran di surau utama (masjid). Disamping masjid terdapat surau-surau kecil sebagai tempat santri dan beberapa guru/buya.

Islamic Center

Ihktiar dari Buya HAMKA, mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar secara bersama. Bertempat di Kebayoran Baru adalah perwujudan dari Surau dulu menjadi Surau masa kini (Islamic Center). Menggunakan manajemen organisasi modern. Pengelolaan tanah wakaf, berkembang menjadi pusat pendidikan Islam ditengah kota Jakarta. 

Maka lahirlah Masjid Al-Azhar sebagai pusat utama peribadatan sekaligus tempat kajian bagi masyarakat. Pada masa Buya masih hidup, kajian subuh tentang tafsir melahirkan tafsir Al-Azhar. Kajian ini dimulai dari Q.S Almu’minun. Seiring perkembangan zaman berdiri Lembaga Amil Zakat, lembaga pendidikan dari Paud sampai Universitas Al-Azhar. 

Dr. Muchtar Naim, sosiolog dari Minangkabau ikut serta mendirikan Islamic Center di Kota Padang, Sumatera Barat. Jauh sebelumnya Buya Muhammad Natsir beserta KH. Soleh Iskandar mendirikan Pondok Pesantren Pertanian Terpadu Darul Falah, Universitas Islam Indonesia, Universitas Ibnu Khaldun, Dewan Dakwah Islam Indonesia. Sebagai upaya melanjutkan substansi surau di era kekiniaan.

Perkembangan Islamic Center saat ini, dikembangkan oleh Organiasi Masyarakat Nahdhatul Ulama, berupa pembelian gereja-gereja di berbagai eropa dan merubah menjadi Islamic Center. Pengembangan Islamic Center sebagai upaya mempelajari Islam berdasarkan ruang lingkup keyakinan (tauhid), ibadah ritual, mu’amalah dan budaya berbasiskan tradisi keIslaman.

Surau sebagai medium pembentukan karakter santri, berupa aspek ketauhidan dalam hidup, kecerdasan emosional, kecakapan intelektual, dan kecakapan sosial kemasyarakatan, belum tergantikan oleh lembaga pendidikan modren berbasiskan pendekatan paradigm matrialisme dengan berbagai pendekatan kurikulum.

Pendekatan pada daya hafal dan uji kemampuan hafalan. Mengakibatkan bentuk model berfikir seragaman. Efek panjang hasil pendidikan terjadi sebuah perpindahan pengetahuan dari buku dan guru terhadap murid. Sedangkan sisi pembentukan karakter dari dialektika dan keteladan guru, hampir tidak terjadi.

Islamic Center sebagai perwujudan Surau dulu, tidak bisa melepaskan diri dari era Digital. Dimana sumber-sumber bacaan, baik kasus demi kasus, perbandingan kajian literature menjadi bahan utama bagi santri dan para guru. 

Secara sistem penguatan tauhid-intelektual-sosial masyarakat terselenggaranya pendidikan terpadu. Mulai dengan kurikulum pendidikan berjenjang sampai perguruan tinggi, Kajian terstruktur berbasis cendikiawan-ulama, online dan offline. Keberadaan Islamic Center dan orang yang terlibat dalam rekayasa social tidak terlepas dari kehidupan masyarakat. 

Keberadaan Islamic Center, bisa berada dalam kawasan perguruan tinggi, seperti di IPB. Bisa berada di Kawasan Bisnis/Mall seperti Komplek Al-Alzhar yang dekat dengan Blok M. Bisa berada dalam kawasan perindustrian. 

Untuk mewujudkannya ada beberapa pondasi dasar, diantaranya:

Pertama. Teladan pemimpin. Membentuk budaya kesadaran tentang peranan Islamic Center. Hal ini membawa kepada suatu visi bersama secara nyata, nampak dan terukur. Peran ini bisa berasal dari sinergi, ulama, akademisi, pemerintahan, dan masyarakat. 

Kedua. Kepemimpinan cerdas transformatif. Cerdas menjadikan pemimpin mampu menempatkan para ahli dalam bidang masing-masing. Sedangkan pada transformatif tugas pemimpin mengilhami perubahan dan mencapi tujuan bertahap dan terukur. 

Ketiga. Membentuk sistem pendidikan mandiri. Menggabungkan ruh dan metode surau dulu meliputi metode pesantren berbasis realitas kehidupan dimana Islamic Center berada. 

Keempat. Kekuatan sistem finansial. Pengembangan wakaf terpadu dan produktif yang mampu menopang kebutuhan dasar Islamic Center. Bentuk wakaf terpadu dan produktif bisa membangun pasar dengan berbagai kios, lahan pertanian dengan produk organik, perkebunan sekaligus peternakan. 

Kelima. Dukungan Publikasi dan dokumentasi. Islamic Center menjadi tempat rujukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Jawaban yang tidak sekedar normatif konseptual, namun model terapan tempat belajar, berkonsultasi dan berkalaborasi.

Keenam. Jaringan Islamic Center. Jaringan ini membentuk model merantau para santri, belajar tentang kekhasan masing-masing Islamic Center. Ada yang kuat pada ushul fiqih dan fiqih, yang kuat dalam tauhid dan tasawud dan ada yang kuat dalam mengelela mu’amalat.

Semoga keberadaan Islamic Center yang ada saat ini, menjadi oase dari keriuhan santri “Mukidi” yang belajar tanpa guru berketeladanan, merantau, dan dangkal ilmu dasar dan alat memahami alQur’an, Hadist dan sejarah peradaban Islam. 
Karena beriman dan beramal shaleh tak hanya tulisan, gelar akademik, status social namun ia adalah keseluruhan perilaku pikiran, perbuatan tangan, buah lisan, dan budaya hidup.
Izzatul Islam wal Muslimin.

Jumat, September 16, 2011

1.000.000 pohon waqaf

Cahaya mentari seakan tidak mampu menembus rimbunnya daun pohon yang berjejer rapi dan apik. Ketika daun bergerak atas irama angin yang berhembus cahaya ikut menari disela daun-daun yang bergerak dinamis. Kicauan burung murai dan pipit saling berebutan menyanyikan simponi kehidupan.

Balutan kain sarung bergantung dileher seorang bapak yang berangkat menuju persawahan dengan menuntun kerbau yang telah menemani selama bertahun-tahun untuk mengolah tanah persawahan. Dengan siulan merdu yang ditimpali suara burung ia mengucapkan rasa syukur.

Jejeran pohon itu adalah sebuah keniscayaan dan realitas yang terlihat mulai 5 sampai 15 tahun di sepanjang jalan Nagari Canduang Koto Laweh Kec. Canduang Kab. Agam Sumatera Barat, Indonesia. Diantara sela pohon tumbuh beraneka ragam bunga indah bermekaran. Terlihat kumbang, kupu-kupu dan lebah berterbangan kemudian hinggap di bunga yang sedang mekar.

Pemandangan ini akan terwujud dengan gerakan waqaf pohon lindung dan produktif. Kegiatan yang diinisiasi oleh Ikatan Keluarga Canduang Koto Laweh (IKCK) Jakarta dan Nagari Canduang Koto Laweh yang telah dimulai penanaman sejumlah 650 pohon produktif dan 500 pohon lindung. Pohon produktif yang telah ditanam diantaranya Pohon Durian Otong, Mangga Harum Manis dan Sukun. Sedangkan pohon lindung berupa trembesi.

Hasil dari pohon waqaf produktif akan dibagi hasil dengan komposisi 60:30:10. 60 % untuk waqaf pendidikan anak nagari canduang koto laweh dan keturunan. 30% untuk tanah warga masyarakat canduang koto laweh sebagai tempat penanaman pohon waqaf produktif sebagai biaya pemeliharaan. 10% adalah pembangunan sarana dan prasarana infra struktur masjid, mushalla, sekolah, madrasah, dan infrastruktur lainnya.

Biaya operasional pengelola waqaf diambil dari pengelolaan zakat, infaq dan shadaqah mengacu pada ketentuan alquran Q.S Al attaubah 60 dan beberpa hadist. Bagian ini berkisar dari 5-12,5% dari hasil pendapatan zakat, infak, shadaqaf dan hasil waqaf.

Pengelolaan waqaf pohon lindung dan produktif untuk pendidikan di kelelola oleh team yang berasal dari Perantau Nagari Canduang Koto Laweh dan juga Anak Nagari Canduang Koto Laweh yang terdiri dari team perumus dan pengelola
1. Muhammad Yunus, SPP, SE, Dosen Universitas Azzahra Kampung Melayu, Jakarta Timur    
2. Zulfison,MA, Dosen Universitas Azzahra Kampung Melayu, Jakarta Timur
3. Muhammad Hasby Jamil, Mahasiswa STAIN Batu Sangkar
4. Unsur Alim Ulama
5. Unusr Cadiak Pandai

Bagi instansi dan juga perorangan yang ikut membantu mewujudkan dapat menghubungi team perumus dan pengelola di Universitas Azzahra.

Penanaman tahap awal tahun 2011 sejumlah 10.000 pohon. Penanaman ini akan mengambil lokasi Jalan sepanjang Nagari Canduang Koto Laweh.

Biaya pembelian bibit dan pemeliharaan selama 5 tahun untuk 1 batang pohon waqaf adalah Rp.25.000,-.Semoga kegiatan sejuta pohon ini menjadi kekuatan ummat khususnya di Nagari Canduang Koto Laweh untuk pendidikan dan mencerdaskan generasi Indonesia.

Anda Ingin Membantu kami dalam mewujudkan ini bersama? Mau Sehat dan mendapatkan Pendapatan Tambahan Jutaan? Klik Disini

Kamis, November 18, 2010

Harmoni nada kehidupan

Musik adalah bahasa universal. Mampu menghubungkan banyak perbedaan yang dilatar belakangi oleh suku, budaya, ras, pendidikan dan warna kulit. Dalam alunan musik yang kita dengar dan nikmati terdapat nada-nada yang saling bersinergi satu sama lain. Masing-masing nada memiliki keunikan yang mengisi ruang keunikan nada lain.

Mendengarkan musik kala menulis adalah bagian yang dapat mengalirkan kata-kata lebih baik. Lewat gesekan biola, piano, gitar, drum dari musik kitaro kita akan dibawa ke suasana penuh cinta dan harmoni. Lain lagi ketika masuk dalam harmoni nada mozard dan bethoveen yang menghadirkan sensasi berbeda. Tiap-tiap kita memiliki musik pilihan sesuai dengan karakter dan tempat dibesarkan.
Untuk Indonesia, khazanah musik bertebaran pada setiap suku dan etnis. Untuk suku Minangkabau yang terkenal dengan Saluang. Berasal dari sebuah bambu dengan empat lubang pengatur nada. Dengan teknik peniupan yang berbeda dari seruling ia mampu mengeluarkan bunyi dari ritme sedih sampai rimte cepat. Mungkin kita ingat kala bencana 30 September 2009 di sumatera barat. Salah satu stasiun berita nasional yakni Metro Tv menjadikan sebuah lagu saluang sebagia ilustrasi dalam memberikan laporan tentang bencana gempa Sumatera Barat.

Menciptakan harmoni nada dalam kehidupan untuk dapat melahirkan lagu yang indah adalah sebuah kebutuhan. Kala tidak tercipta harmoni maka kehidupan akan bergerak kaku dan keras. Kehidupan menjadi gersang, kering dan melelahkan. Untuk dapat menciptakan harmoni nada kehidupan terdapat beberapa tangga nada dasar yang kita susun menjadi:

Tangga nada Do

Inilah awal menyusun nada kehidupan bernama Do’a. Do’a adalah bentuk harapan dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupan. Dari untaian do’a kita menyusun langkah-langkah dalam kehidupan. Lewat do’alah kita melukiskan visi hidup, lewat do’a kita menata harapan-harapan ke depan. Lewat rangkaian tangga nada do’a-do’a tercipta harmoni saling menguatkan, memberikan perhatian, membantu sesama dengan untaian harapan.

Lewat nada do’a nabi Yunus diampuni oleh Allah Swt atas kekhilafan meninggalkan ummat yang menjadi tanggungjawab membawa kepada kebenaran. Lewat nada do’a nabi Adam meminta ampunan atas kekhilafan melanggar perintah Allah untuk menjauh dari pohon khuldi.

Lewat nada do’a Ibu dan Ayah yang terus berdendang setiap saat dan waktu tertentu kita mampu menjalani kehidupan dengan segala macam problematika dan permasalahan yang selalu mengiringi. Lewat do’a Ibu mampu menembus langit yang menjadikan Malin Kundang menjadi batu ketika ia durhaka kepada ibunya sendiri. Lewat do’a anak seorang ibu dan ayah mampu mengubah batu keras menjadi permata, pekerjaan berat terasa ringan.

Lewat do’a satu demi satu harapan itu terealisasi. Sudahkan kita berdo’a dan mendo’akan untuk kebaikan orang yang kita cintai hari ini?

Tangga nada Re

Dari harapan lewat do’a yang telah disampaikan, maka selanjutnya menciptakan harmoni nada kehidupan adalah Rencanakan aktivitas kegiatan untuk mewujudkan do’a. Lewat rangkaian aktivitaslah do’a-do’a mendapatkan wujud rupa. Tanpa aktivitas sebuah do’a ada harapan yang terus menggantung di langit dan tidak pernah membumi.

Seperti do’a menjadi penulis hebat, tanpa ada rencana aktivitas menulis maka tidak akan terwujud menjadi penulis hebat. Atau seperti do’a mendapatkan usaha yang baik, tanpa pernah merencakan aktivitas mencari jenis usaha apa yang sesuai dengan kebutuhan banyak orang.

Satu do’a membutuhkan banyak rangkaian aktivitas kegiataan. Seperti do’a terbesit dalam hati untuk menulis satu tulisan hari ini yang dipasang tadi pagi. Aktivitas selanjutnya adalah membaca bahan yang tersedia dalam hati, pikiran, koran, buku. Kemudian menganalisa dan baru kemudian menulis dengan menyusun satu persatu huruf yang menjadi kata. Lewat rangkaian kata menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat terciptalah paragrah dan menjadi sebuah tulisan.

Sudahkah kita rencanakan aktivitas dari do’a-do’a kita mulai hari ini?

Tangga nada Mi

Kala aktivitas mewujudkan do’a terkadang kita mengalami pasang surut. Dengan tantangan yang terkadang diluar rencana yang telah disusun, suasana down, kecewa, sedih adalah hal yang tidak dapat dihindari. Disinilah peranan tangga nada Milikilah motivasi mengambil peranan. Motivasi menjadi daya ungkit untuk dapat kembali pasang naik dalam melakukan rangkaian aktivitas mewujudkan do’a.
Memiliki motivasi dapat berasal dari aspek dalam diri sendiri dan dari luar diri. Kekautan motivasi terbaik adalah dalam diri sendiri. Daya dobrak motivasi melekat dengan unsur spiritual, emosional dan intelektual.

Unsur spiritual menjadikan motivasi memiliki kelekatan terhadap aktualisasi kebahagiaan kala melakukan aktivitas rutinitas mewujudkan do’a. Unsur emosional menjadikan motivasi memiliki rasa senang dalam melakukan berbagai aktivitas dan unsur intelektual memberikan alasan logis dan masuk akal.
Sudahkan miliki motivasi yang menguatkan menyusun harmoni nada kehidupan?

Tangga nada Fa

Ketika motivasi telah melekat dalam aktivitas dan menjadi oase di padang pasir kekeringan, maka selanjutnya dalam mewujudkan harmoni nada kehidupan adalah fasilitas. Mengenali beragam fasilitas yang dapat membantu semua rencana aktiviatas.

Seperti do’a untuk menulis sebuah tulisan, maka kita membutuhkan fasilitas bernama pensil, pulpen dan secarik kertas. Atau barangkali kita membutuhkan komputer atau laptop yang tersambung langsung dengan dunia maya. Mengenali fasilitas dapat dilihat dari aspek efektifitas dan efisiensi penggunaan. Ketika tidak ada aliran listrik untuk menghidupkan laptop maka fasilitas kertas dan pulpen telah dapt menjadi fasilitas untuk menulis.

Dalam sejarah telah terbukti bahwa bukan kelimpahan fasilitas orang dapat mewujudkan do’a. Namun memaksimalkan fasilitas yang ada dan menciptkan fasilitaslah yang mampu mewujudkan do’a dalam aktivitas yang berat.

Sudahkah kita memanfaatkan fasilitas yang ada dalam diri dan di sekeliling kita dengan maksimal?

Tangga nada So

Inilah ruang spiritual untuk mewujudkan harmoni kehidupan. Rasulullah Saw mengalami guncangan hebat dengan meninggalnya istri tercinta Khadijah dan kakek yang menjadi pembela kala menyebarkan Islam di tanah Makkah.

Peristiwa ini bernama dengan Isra’ dan mi’raj. Peristiwa besar menjemput ibadah solat. Kala hidup kehilangan harmoni maka lihatlah kembali solat-solat yang kita kerjakan. Apakah telah sesuai dengan rukun dan syarat atau barangkali sering tercecer dalam kehidupan.

Mari kita lihat kembali solat-solat kita apakah telah harmoni sesuai dengan waktu yang indah penempatannya dalam ritme kehidupan kita melakukan aktivitas do’a yang kita munajatkan?

Tangga nada La

Memasuki harmoni nada kehidupan tangga nada Lapangkanlah hati dan pikiran. Ketika hati dan pikiran sempit menjadikan alternatif-alternatif berlalu begitu saja. Dengan kondisi hati yang lapang memberikan ruang untuk melihat banyak hal sekaligus. Kelapangan hati menjadikan jiwa tenang untuk memakimalkan fasilitas yang ada.

Lapangnya pikiran menjadikan sesuatu menjadi lebih bermanfaat dan maksimal dalam menggunakan fasilitas yang ada. Lapangnya pikiran menjadikan masukan, masukan berharga seperti advis/saran, motivasi dari orang yang kita cintai atau orang lain menjadi penguat mewujudkan do’a yang kita panjatkan.

Akan berbeda ketika hati dan pikiran sempit. Ia menjadikan segala sesuatu seakan menyiksa dan memperkeruh keadaan. Pikiran sempit menciptakan kepicikan melihat saran dan masukan dari orang lain. Sempitnya hari menjadikan kegelisahan tak menentu dan berhujung kepada depresi.
Sudahkah kita lapangkan pikiran dan hati menyusun harmoni nada kehidupan?

Tangga nada Si

Sebuah kalimat adalah gabungan dari huruf-huruf yang saling menguatkan. Dimulai dari huruf k dan tambah dengan a,l,i,m,a dan t yang menjadi kalimat. Begitu juga dengan mewujudkan harmoni nada kehidupan bahwa membutuhkan sinergi dan kerjasama banyak orang.

Beragam aktivitas adalah hasil dari kerjasama indah dan mempesona. Ketika menulis sinergi sepuluh jari yang masing-masing memiliki peran berbeda, ada ibu jari yang selalu memencet spasi untuk memisahkan kata demi kata. Ada telunjuk kiri untuk memencet huruf u, y dan jari-jari yang lain.
Jangan biarkan hidup menyendiri untuk mewujudkan do’a yang kita panjatkan. Lewat orang lainlah banyak aktivitas terwujud.  Sudahkah kita bersinergi mewujudkan do’a-do’a kita?

Tangga nada do

Dalam kehidupan kita telah banyak menerima kebaikan demi kebaikan. Kebaikan matahari yang menjadi pertanda siang menyinari lewat gerakan pagi, siang dan sore hari. Kala pagi menghasilkan pemandangan indah dan sore juga pemandangan indah yang diburu oleh banyak orang.

Mewujudkan do’a-do’a membutuhkan kemauan untuk berbagi yakni Donasi. Berikanlah sesuatu kepada orang lain. Ketika kita mempunyai waktu maka berbagilah untuk sekedar mendengarkan keluhan orang lain. Ketika kita mempunyai materi sisihkanlah untuk membantu saudara yang sedang kesusahan.
Untuk kita yang mempunyai ilmu maka bagikanlah, karena ilmu yang dipendam sendiri tidak pernah akan berkembang. Berdonasi lewat waktu yang kita punya, uang, ilmu, kesempatan menjadikan harmoni nada kehidupan yang indah dan membahagiakan.

Dalam kehidupan mari kita gubah lagu bernama Do, re, mi, fa, so, la, si, do untuk hidup penuh makna dan berkah. Karena hidup cuma sekali, hiduplah yang berarti.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita dalam Harmoni nada kehidupan di negri ini.

Jumat, Oktober 29, 2010

Haji sebuah Perjalanan

Ibadah haji adalah rukun kelima dari rukun Islam. Rukun Islam yang dimulai dengan pernyataan kemerdekaan pribadi dari berbagai ketergantungan terhadap benda, ketergantungan terhadap bentuk dan rupa, ketergantungan terhadap manusia dan ketergantungan terhadap mitos dan klenik. Dengan kalimat syahadatain bahwa kita telah meletakkan seluruh ketergantungan kepeda Allah sebagai pencipta Alam semesta. Mengabdikan diri kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang mengikuti metode dan tata cara yang dicontohkan oleh utusan Allah Swt, yakni nabi Muhammad Saw. Tiada metode lain sebagai bentuk pengabdian kepada Allah selain contoh paripurna oleh utusa-Nya.

Kemudian ketika syahadat telah mampu membebaskan manusia dari segala ketergantungan, maka dibutuhkan sebuah komitmen kuat untuk selalu terhubung dengan Allah Swt. Keterhubungan ini memberikan sebuah bentuk pembaharuan terus menerus untuk tidak terlepas dari Allah Swt. Inilah ibadah shalat yang menjadikan selalu online dengan Allah Swt. Shalat membentuk karakter loyalitas dan kesetiaan paripurna.

Ketika karakter kesetiaan dan loyalitas telah terbentuk, terdapat bentuk pembersihan diri dari tarikan ketergantungan terhadap keinginan fisiologis dan dorongan dan kehendak yang terlepas dari pengabdian kepada Allah Swt. Inilah puasa yang memberikan pembentukan karakter sabar. Puasa memberikan ruang untuk menahan dorongan-dorongan fisiologis dan kehendak hewaniah. Puasa membentuk karakter manusia unggul yang mampu mengolah jiwa dan raga untuk tidak terdorong memenuhi semua hasrat fisiologis dan nafsu yang cendrung tidak bertepi.

Selanjutnya ketika kemerdekaan diri tidak tergantung dengan selain Allah Swt dan tetap berhubungan lewat shalat dan mengelola kehendak fisiologis dan nafsu. Maka tindakan untuk berbagi dengan sesama. Kekuatan berbagi melahirkan sikap toleransi dan saling keterhubungan kuat. Zakat menciptakan karakter manusia unggul yang tidak mau mengekploitasi manusia lain. Menguatkan dimensi kemanusiaan untuk hidup setara dan sederejat.

Bentukan karakter dari syahadat yang diringi dengan shalat, puasa, dan zakat disempurnakan kala melaksanakan ibadah haji. Haji ke baitullah di Negara Arab saudi adalah sebuah perjalanan multidemensi. Perjalanan yang membutuhkan sebuah kemerdekaan diri. Menguatkan komitmen dan loyalitas serta mampu mengelola diri dan kemauan untuk bersinergi.

Perjalanan haji meliputi dimensi.

Pertama. Perjalanan Spiritual. Perjalanan yang lahir dari sebuah kemerdekaan diri dari ketergantungan selain kepada Allah Swt.  Perjalanan yang membutuhkan kekuatan daya dorong untuk dapat mewujudkan totalitas spiritual. Dengan mengenakan pakaian ihram semua ketergantungan terhadap duniawi ditanggalkan.

Kedua. Perjalanan Emosional. Dalam melaksakan ibadah haji membutuhkan kedewasaan emosi. Ketika mesti meninggalkan orang yang cintai: anak, orang tua, tetangga, suami atau istri. Dalam melaksanakan ibadah haji membentuk kesadaran akan makna dari mencintai, berpisah, kehilangan dan bekerjasama dalam sebuah kesatuan besar. Dalam perjalanan ibadah haji menciptakan kalaborasi emosional yang menghimpun dalam satu ritme bahwa kita adalah sebuah kesatuan yang mempunyai tujuan bersama. Tidak ada perbedaan rasa bahwa status sosial berbeda disebabkan oleh kedudukan, pangkat, kekayaan, gelar akademik.

Ketiga. Perjalanan Intelektual. Perjalanan yang membutuhkan pemahaman akan makna simbol-simbol dalam ibadah haji. Penggalian hikmah dari sa’i dimana melepaskan status sosial dan menyatakan diri sederajat dengan orang lain dari berbagai kalangan, ras dan suku bangsa. Menggali makna dan juga hikmah dari thawaf mengelili ka’bah dalam penyatuan manusia. Inilah visi Islam tentang globalisasi. Meletakkan bahwa kesatuan ummat manusia di bumi adalah sebuah keniscayaan yang bersinergi bukan untuk saling menghancurkan.

Keempat. Perjalanan sejarah. Haji adalah perjalanan menelusuri sejarah nabi Ibrahim beserta keluarga. Siti Hajar dan Ismail dengan kemerdekaan diri dan ketidaktergantungan dari selain Allah Swt. Perjalanan yang menghadirkan pemahaman sebuah pengorbanan. Perjalanan menghadirkan jejak sejarah Rasulullah membentuk sebuah peradaban. Memahami bagaimana sebuah perjuangan mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dalam payung Islam rahmatalill’alamiin.

Dalam ibadah haji semua melebur dan bersinergi dalam satu kesatuan ummat manusia yang memiliki satu ketergantungan terhadap Allah Swt. Dengan satu komitmen dan loyalitas kepada Allah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Satu pengorbanan untuk sesama dengan memberikan yang terbaik bagi saudara lewat qurban. Haji adalah perjalanan paripurna menjadi masyarakat dunia yang egaliter, brotherhood dan inklusif.

Minggu, Oktober 24, 2010

Menuju titik orbit (bagian 2)

Ihram sebagai pelepasan status sosial, menjadikan bahwa manusia adalah sama, tiada perbedaan yang mampu menembus, menjadikan bertikai dan saling menghancurkan. Kemudian melakukan tawaf perlambang sebagai sebuah bentuk penyatuan bersama mengelilingi titik orbit kaum muslimin bernama ka’bah dan penyembahan kepada Allah Swt.

Sa’i perjuangan dalam hidup.

Ketika penyatuan sinergi kehambaan langkah selanjutnya adalah melakukan ibadah sa’i. Ketika derita kehausan mendekap Siti Hajar dan nabi Ismail. Ia mencoba untuk melihat, meneliti apakah ada air yang dapat menghilangkan dahaga kehausan. Dipuncak bukit Shafa terbentang sebuah pemandangan air yang tercipta dari fatamorgana. Dengan segenap tenaga dan keinginan kuat Ibunda Siti Hajar berlari ke bukit Marwa, ternyata ia tidak mendapati air yang dapat di gunakan untuk menghilangkan dahaga.

Tanpa berputus asa ia kembali melihat apakah masih terdapat pengharapan dan juga peluang untuk mendapatkan air minum. Ketika terlihat nan jauh disana air yang tercipta dari panasnya matahari Situ Hajar kembali berlari kecil. Namun ia kembali tidak mendapati air. Sedangkan Nabi Ismail kecil tetap meronta kehausan. Dengan izin Allah setelah berlari dari bukit shafa dan marwa, terbitlah mata air dari telapak kaki Ismail. Dengan wujud syukur Siti Hajar mengucapkan zam-zam.

Pencarian air adalah sebuah perlambang perjuangan dalam hidup. Tidak ada kehidupan yang datang dengan begitu saja. Apa yang ingin di dapatkan menempuh sebuah kemauan keras untuk mendapatkan keinginan dan kebutuhan.

Perjuangan hidup tidak terlepas dari penghormatan dari seorang ibu. Pahlawan besar yang mengasuh dari semenjak rahim sampai mampu berdiri sendiri. Ketegaran seorang ibu membersarkan buah hati tergambar jelas dari ibadah sa’i.

Tidak ada putus asa dan harpan dalam perjuangan hidup. Dengan ketekunan dan juga do’a dari ibu telah banyak kisah kesuksesan. Perjuangan dalam hidup membutuhkan ikhtiar maksimal dengan melihat potensi dan peluang yang ada. Peluang itu akan tetap ada ketika memaksimalkan ikhtiar dan pertolongan Allah datang tanpa pernah terbayangkan datangnya dari mana.

Wuquf mengenali diri.

Wuquf adalah salah satu wajib haji. Para jamaah haji kaum muslimin melalukan berdiam di padang Arafah. Arafah adalah miniatur Padang Mahsyar. Disinilah tempat untuk mengenali diri. Kembali memutar masa lalu, mengingat penggalan-penggelan kejadian dalam hidup.

Penggalan hidup dimana melakukan usaha maksimal mendapatkan “air” sumber kehidupan. Terkadang terdapat kealpaan dan kesilapan. Di Padang arafah membentang seluruh kehidupan yang telah berlalu. Bermunajat meminta ampun kehadirat Allah. Mengingat peran hidup di bumi dan tugas-tugas kemanusiaan yang terlupakan.

Mengenali diri melakukan dialog mendalam dengan hati, kemanakah selama ini hati bertaut dan mengharap. Mengenali diri melakukan dialog dengan tangan dan kaki yang selalu membantu dan setia membawa diri berkelana mencari air kehidupan. Mengenal diri melakukan dialog dengan mata, telinga dan hidung yang menjadi pertimbangan melihat, memperhatikan dan melirik berbagai bentuk “air” kehidupan.

Di Padang Arafahlah semua anggota tubuh dan jiwa memohon ampunan, penghapusan dosa dari kesalahan dan kealpaan. Tiada penyembuian terhadap kesalahan dan kealpaan. Padang arafah menghantarkan kefitrahan diri.

Lempar jumrah lawan musuhmu

Ketika kefitrahan diri dan ampunan Allah Swt menjadikan hidup bersih dari noda dan dosa. Maka langkah selanjutnya adalah melempar jumrah. Jumrah sebagai perlambang dari penggoda diri yang membawa kepada kealpaan dan juga kelalain.

Musuh utama adalah dorongan untuk tidak taat kepada Allah Swt. Godaan yang datang dari musuh utama bernama Iblis. Mendatangkan berbagai godaan untuk berbuat kerusakan, proposal untuk berbuat korupsi. Bisikan untuk berbuat curang dalam berbisnis. Surat kuasa untuk melakukan penipuan. Intrik dan tips untuk melakukan kejahatan dunia nyata dan maya.

Dengan melempar jumrah disanalah kebulatan tekad untuk menolak proposal untuk korupsi, bisikan untuk berbuat curang dalam berbisnis, surat kuasa untuk melakukan penipuan, dan tanda tangan palsu serta intrik dan tips melakukan kejahatan dunia nyata dan maya.

Ketika telah menundukkan musuh, tibalah saatnya untuk mencukur rambut. Membuang semua kejahiliyahan yang barangkali masih ada tersisa. Di ujung dari haji melakukan pengorbanan. Disinilah letak bahwa bekorban adalah pertanda kemenangan dan membuang sisi kebinatangan yang masih berdiam di dalam diri.

Labbaikallahumma labbaik. Selamat menunaikan Ibadah agung Ayahanda dan Ibunda, do’akan kami dapat sujud dan ruku di masjidil haram. Dan semoga ibadah haji mampu merevolusi kehidupan dalam orbit sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bahan Bacaan

Dr. Ali Syariati. Haji. Terbitan Mizan tahun 1982
Dr. H. Briliantono M. Soenarwo, SpOT dan KH. Muhammad Rusli Amin, MA. Sehat Tanpa Obat upaya hidup sehat dengan aplikasi rukun Islam. Pustaka Almawardi  2010.
Ary Ginanjar Agustian ESQ, new edition. Penerbit ARGA cet. 24 2006s

Kamis, Oktober 21, 2010

Menuju titik orbit


Labbaikallaahumma labbaik. Labbaikala syarikalalabbaik

Do’a yang agung ketika memasuki kota suci makkah. Makkah adalah kota yang telah berusia ribuan tahun. Dalam beberapa literatur dinyatakan sebagai kota yang dibangun oleh Nabi Adam dan siti hawa. Namun kemudian di bangun ulang oleh nabi ismail beserta ayahnya nabi ibrahim dan istri beliau siti hajar. 

Kisah kepatuhan seorang hamba atas perintah Allah untuk meninggalkan kampung halaman. Dengan bekal keyakinan menuju tempat yang tidak memiliki sumber kehidupan pada awalnya. Keteguhan seorang istri dan kekuatan seorang ibu dalam memelihara amanah yang Allah titipkan. Aktivitas sa’i adalah bagian tidak terpisahkan dalam ibadah haji yang mengikuti perjuangan Siti Hajar mencari air untuk kehidupan.

Kota makkah adalah kota penuh dengan sarat ibadah dan sejarah. Salah satu rukun islam yang terakhir adalah berhaji menempatkan makkah sebagai tempat pelaksanaan haji. Ibadah haji adalah ibadah pemuncak dari seluruh rangkaian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam.

Makkah sebagai pusat kiblat kaum muslimin dalam melaksanakan shalat menjadi kekuatan penyatu tujuan. Makkah menjadi simbol kebersamaan dan juga patokan bahwa setiap muslim yang solat dimanapun dan kapanpun. Makkah menjadi titik orbit dari ibadah shalat dan haji. Kebersamaan titik orbit menjadikan sebuah kekuatan penyatu ketika kaum muslimin melaksanakan ibadah haji. Berbagai suku bangsa menyatu dan beribadah bersama di titik orbit. Keharuan bertemu dengan saudara seiman dan dapat melihat simbol penyatu ummat islam dimanapun.

Ihram melepaskan status sosial

Nuansa keagungan dan religius terbuncah dalam melaksanakan ibadah haji ataupun umrah. Sebelum melaksanakan ibadah umrah. Kaum muslimin mesti melakukan mandi besar. Mandi ini menjadi pertanda pembersihan aspek fisik dari kotoran dan najis. Sekaligus menjadi pembersih niat, jiwa dan akal. Kemudian mememakai pakaian ihram, inilah tahap pertama dalam melaksanakan ibadah haji yang dinamakan miqat.

Pakaian ihram adalah pertanda bahwa tidak ada keagungan pakain yang selama ini menjadi kebanggan status sosial. Apakah orang yang mempunyai pengaruh seperti kepala desa, camat, tokoh masyarakat. Apakah orang yang mempunyai kekayaan besar, pengusaha, pedagang, pemegang saham. Apakah orang biasa dan tidak mempunyai pengaruh atau kekayaan atau gelar akademik yang berderet. Semuanya menyatu dalam sebuah pakaian dalam warna yang sama yakni putih.

Pakain ihram bagi laki-laki adalah dua helai kain putih yang tak berjahit tepinya dan ditambah mukenah bagi jamaah perempuan. Inilah pakaian terbaik ketika menyatu dalam sebuah ibadah yang menyatukan ummat nabi muhamad yang disebut dengan kaum muslimin. Pakaian yang menghadirkan kondisi bahwa manusia adalah sama dari aspek duniawi. Pakaian ihram memberikan pemahaman bahwa kita akan kembali kehadirat Allah hanya berpakaian sederhana.

Pakain ihram perlambangan bahwa ada momentum untuk totalitas meninggalkan semua atribut keduniaan. Meninggalkan bahwa semua yang telah berlalu hanya sebuah pakain sementara yang melahirkan banyak kesombongan dan keegoisan manuiawi. Dari keegoan diri menjadi sebuah kenyataan bersama bernama hamba-hamba Allah Swt.

Thawaf sinergi kehambaan

Ketika status sosial telah dilepaskan dan menjadi hamba Allah yang tunduk dan patuh. Maka dimulailah untuk mengelilingi ka’bah. Gerakan berkeliling ka’bah mengikuti gerakan thawafnya alam semesta yang bergerak dari kiri kekanan. Gerakan thawaf berlawaman dengan arah jarum jam. Sama dengan gerakan atom-atom mengelili inti atom. Gerakan thawaf sama dengan gerakan thawaf planet-planet di alam semesta.

Tidak ada lagi sekat keakuan ketika bersama memutar titik orbit penyatuan. Masing-masing bergerak mensinergikan lewat zikir yang membahana. Mengucapkan perkataan terbaik, ungkapan puji dan syukur yang termaktub dalam kalimat tasbih, tahmid tahlil dan takbir yang tidak henti-henti. Tidak ada lagi ucapan umpatan, cacian, perkataan sia-sia, konspirasi dan ungkapan lain. Ucapan yang dilantunkan secara bersama menguatkan sebuah penyatuan kehambaan.

Dr. Ali Shariati menulis dalam bukunya Haji menyatakan, “...Dengan ka’bah di tengah-tengah, gerombolan manusia tersebut mengelilinginya di dalam sebuah gerakan yang sikular. Ka’bah melambangkan ketetapan (konstansi) dan keabadian Allah, sedangkan manusia-manusia yang berbondong-bondong bergerak mengelilingnya, melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaan-Nya, aktivitas dan transisi yang terjadi terus-menerus.”

Sinergi kehambaan melampaui ras, suku, bangsa dan warna kulit. Tidak adalagi sebuah batasan satu dengan lainnya. Melebur mengikuti gerakan terbaik, menyatu, berpadu dan tidak terdapat penyimpangan. Inilah gerakan peleburan jiwa-jiwa yang tidak saling mengenal pada awalnya menjadi sebuah kekuatan sinergi bernama kehambaan kepada Allah Swt. Tunduk dan patuh dalam sebuah kekuatan mengikuti sunnah Rasulullah.

Jiwa dan diri berthawaf melambangkan kekuatan revolusi dalam diri yang melebur menjadi kami. Kami yang mengikuti perintah Allah Swt yang dipimpin oleh Rasulullah Saw dalam dimensi thawaf kehidupan yang dimulai dari thawaf di pusat orbit kaum muslimin dengan simbol ka’bah.

bersambung...bagian 2

Catatan untuk keberangkatan Ayahanda dan Ibunda menunaikan ibadah haji 1431 H/ 2010 M. Semoga spirit, makna haji menjadi sebuah pembentukan kualitas kehambaan dan menjadi haji mabrur, amien

Jumat, Oktober 15, 2010

Shalat Kehidupan

(bagian 2)


Ini adalah sambungan dari tulisan shalat kehidupan pertama yang telah mengupas sisi gerakan dari solat dan juga hikmah yang terkandung di dalamnya. Pada tulisan ini coba untuk mengurai lebih lanjut dari shalat dalam kehidupan.

Shalat terdiri dari aspek gerakan fisik, gerakan ini dimulai dari takbiratul ihram dan di sudahi dengan mengucapkan salam ke kanan dan kekiri. Sedangkan gerakan lain dalam shalat adalah gerakan ruh. Gerakan ini membentuk karakter kehambaan yang tunduk dan patuh kepada sang pencipta. Ustad Abu Sangkan dalam bukunya Shalat khusu’ memaparkan bahwa sering orang tidak mengikutkan ruhnya ketika solat. Hal ini menyebabkan sholat adalah beban dan tidak menikmati proses rangkaian solat yang dikerjakan.

Manusia diciptakan memiliki tiga dimensi, pertama adalah dimensi fisik. Dalam shalat dimensi fisik mendapatkan sebuah perbaikan terus menerus melalui gerakan-gerakan shalat. Ketika takbir gerakan tangan yang sejajar dengan telinga memberikan ruang bagi paru-paru untuk bergerak lebih leluasa. Gerakan ini menjadikan paru-paru mendapatkan pasokan oksigen yang maksimal. Ketika takbir tariklah nafas dengan perlahan dan sedalam mungkin. Dari takbir ini memberikan bagi paru-paru memberikan oksigen maksimal ke dalam darah. Banyaknya pasokan oksigen menjadikan metabolisme tubuh meningkat dan sel-sel mendapatkan nutrisi maksimal. 

Sel tubuh seperti tumbuhan yang akan bagus tumbuhnya ketika ia mendapatkan cukup nutrisi. Dan ia akan menjadi rusak dan tidak tumbuh maksimal ketika tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Begitulah sel akan mengalami ketidaknormalan tumbuh yang mengakibatkan tejadi kerusakan ditingkat sel dan berlanjut ke tingkat organ tubuh.

Aktivitas gerakan solat menciptakan sebuah rangkaian penyehatan tubuh dimulai dari sel. Kemudian berlanjut kepada organ-organ penopang tubuh dan tempat ruh berdiam.

Kemudian dimensi kedua adalah ruh. Ruh yang ditiupkan ketika kita masih berusia 4 bulan sepuluh hari. Dalam shalat ruh dibentuk melalui rangkaian ucapan takbir, do’a iftitah, alfatihah, dan bacaan shalat lainnya. Ketika membaca do’a iftitah terdapat sebuha komitmen dasar yang kita ucapkan yani “Inna shalati wanu suki wamahyaya wamamati lillahirabbil’alamiin”, Sesungguhnya shalat yang kukerjakan dan segela aspek kehidupan diriku, hidup dan kematianku untuk Allah pemelihara semesta Alam.

Dalam bacaan shalat inilah dimensi ruh mendapatkan ruang untuk mengambil peranan dalam diri orang yang shalat. Bacaan shalat memberikan kesempatan ruh untuk berbicara langsung kepad Allah sebagai penciptanya. Percakapan ini terasa indah kala dibaca dengan perlahan dan memahami ucapan do’a yang diucapkan. Ketika shalat telah menempatkan ruh bercakap-cakap lewat do’a maka ibadah shalat terasa enak dan memberikan getaran ketenangan dan juga sikap tidak tergesa-gesa dalam mengerjakan. Sering terjadi bahwa ketika shalat sering hanya memperhatikan aspek fisik dan melupakan aspek ruh. Telah banyak ibadah shalat dilakukan dan dilaksanakan namun tidak memberikan aspek ketenangan, kedamaian dan keberatian. Terasa gersang dan kering dalam menjalani kehidupan.

Dimensi terakhir adalah jiwa. Ketika dimensi fisik dan ruh telah masuk dalam kesatuan ibadah solat. Jiwa mengikuti gerakan dan bacaan dalam shalat dan membentuk karakter yang hamba Allah Swt. Karakter inilah yang menjadikan shalat mampu mencengah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar (keingkaran). Dimulai dari mencegah fisik dari kerusakan yang dimulai dari alam sel, kemudian dimensi ruh. Maka jiwa mendapatkan ruang untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang besumber dari sehatnya fisik dan ruh.

Dalam ibadah shalat tiga dimensi ini saling kuat menguatkan dan bersinergi mewujudkan pencapaian tingkat hamba Allah. Ketika ibadah shalat tidak dapat menguatkan dan saling bersinergi satu sama lain maka terciptalah sebuah keguncangan dalam hidup. Guncangan-guncangan inilah yang mempengaruhi tindakan, keputusan, pilihan yang datang kehadapan kita. Sering merasa ada sebuah pertentangan dalam dirinya dalam mengambil keputusan, atau mengambil pilihan. Maka ketika pertentangan ini sering terjadi maka disanalah kehancuran jiwa. Resah yang tidak menentu, kegalauan yang tidak berkesudahan. Dan kehidupan yang hampa.

Mari kita benahi solat kita, karna lewat shalat keseimbangan hidup dan keberartian sebagai hamba Allah terwujud.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan pengingat bagi Penulis.

Selasa, September 14, 2010

Iman online

Seperti sinyal konektivitas dengan dunia maya yang menjadikan online dengan sebuah server besar yang dapat menghubungkan satu sama lain di belahan dunia manapun berkumpul dan berbagi, begitulah kala iman menjadi konektivitas dengan sesama mukmin lainnya hidup berkumpul dan berbagi kebaikan, sudah onlinekah iman anda?

Rabu, September 08, 2010

Idul fitri

Berpisah jua di akhir penantian, bergelayut mencipta kenangan, Ramadhan datang kembali pulang menjelang takbir di kumandangkan. Menetes dimata mengharap bertemu, melipat tangan di dada mengharap maaf, namun hayan lewat status terlewatkan ucapan minal 'aidhin wal faizin.


Diantara derai tawa yang menyenangkan terkadang masih terselip airmata kesedihan. Diantara baiknya percakapan masih terselip ungkapan menyakitkan. Diantara janji dan komitmen masih terdapat ketidakkonsistenan. Diantara kemenangan di hari fitri terdapat saling memaafkan.