Jumat, Desember 17, 2010

Rumus Sukses

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita semua:

Sukses = Do’a + Berbagi + Kerja Cerdas + Kerja Sama

Sukses dimulai dari do’a yang kita ucapkan, harapkan setiap saat dan waktu. Berdo’a memberikan energi dari Allah Swt untuk hambanya. Hadist Rasulullah menyatakan bahwa do’a adalah senjata kaum muslim. Mari kita berdo’a untuk kesuksesan dunia akhirat.

Mari capai kesuksesan dengan berbagi bagi sesama. Dengan menyisihkan sebagian keuntungan bagi kaum yang kurang beruntung. Membantu dengan ilmu, usaha, dan juga apa yang bisa kita bantu sesama. Tiada yang miskin dengan berbagi.

Kerja Cerdas. Setiap usaha membutuhkan perbaikan demi perbaikan untuk hasil yang lebih baik. Bagaimana melayani pelanggan, pengembangan usaha, peningkatan pendapatan dan juga ilmu lainnya untuk peningkatan usaha.

Kerja sama. Untuk sukses dalam kehidupan setelah kita berdoa, berbagi dengan sesama. Bekerja cerdas maka kerjasama mutlak. Dengan kerjasama banyak hal yang bisa dimaksimalkan dan menghasilkan karya-karya terbaik

Kamis, November 18, 2010

Harmoni nada kehidupan

Musik adalah bahasa universal. Mampu menghubungkan banyak perbedaan yang dilatar belakangi oleh suku, budaya, ras, pendidikan dan warna kulit. Dalam alunan musik yang kita dengar dan nikmati terdapat nada-nada yang saling bersinergi satu sama lain. Masing-masing nada memiliki keunikan yang mengisi ruang keunikan nada lain.

Mendengarkan musik kala menulis adalah bagian yang dapat mengalirkan kata-kata lebih baik. Lewat gesekan biola, piano, gitar, drum dari musik kitaro kita akan dibawa ke suasana penuh cinta dan harmoni. Lain lagi ketika masuk dalam harmoni nada mozard dan bethoveen yang menghadirkan sensasi berbeda. Tiap-tiap kita memiliki musik pilihan sesuai dengan karakter dan tempat dibesarkan.
Untuk Indonesia, khazanah musik bertebaran pada setiap suku dan etnis. Untuk suku Minangkabau yang terkenal dengan Saluang. Berasal dari sebuah bambu dengan empat lubang pengatur nada. Dengan teknik peniupan yang berbeda dari seruling ia mampu mengeluarkan bunyi dari ritme sedih sampai rimte cepat. Mungkin kita ingat kala bencana 30 September 2009 di sumatera barat. Salah satu stasiun berita nasional yakni Metro Tv menjadikan sebuah lagu saluang sebagia ilustrasi dalam memberikan laporan tentang bencana gempa Sumatera Barat.

Menciptakan harmoni nada dalam kehidupan untuk dapat melahirkan lagu yang indah adalah sebuah kebutuhan. Kala tidak tercipta harmoni maka kehidupan akan bergerak kaku dan keras. Kehidupan menjadi gersang, kering dan melelahkan. Untuk dapat menciptakan harmoni nada kehidupan terdapat beberapa tangga nada dasar yang kita susun menjadi:

Tangga nada Do

Inilah awal menyusun nada kehidupan bernama Do’a. Do’a adalah bentuk harapan dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupan. Dari untaian do’a kita menyusun langkah-langkah dalam kehidupan. Lewat do’alah kita melukiskan visi hidup, lewat do’a kita menata harapan-harapan ke depan. Lewat rangkaian tangga nada do’a-do’a tercipta harmoni saling menguatkan, memberikan perhatian, membantu sesama dengan untaian harapan.

Lewat nada do’a nabi Yunus diampuni oleh Allah Swt atas kekhilafan meninggalkan ummat yang menjadi tanggungjawab membawa kepada kebenaran. Lewat nada do’a nabi Adam meminta ampunan atas kekhilafan melanggar perintah Allah untuk menjauh dari pohon khuldi.

Lewat nada do’a Ibu dan Ayah yang terus berdendang setiap saat dan waktu tertentu kita mampu menjalani kehidupan dengan segala macam problematika dan permasalahan yang selalu mengiringi. Lewat do’a Ibu mampu menembus langit yang menjadikan Malin Kundang menjadi batu ketika ia durhaka kepada ibunya sendiri. Lewat do’a anak seorang ibu dan ayah mampu mengubah batu keras menjadi permata, pekerjaan berat terasa ringan.

Lewat do’a satu demi satu harapan itu terealisasi. Sudahkan kita berdo’a dan mendo’akan untuk kebaikan orang yang kita cintai hari ini?

Tangga nada Re

Dari harapan lewat do’a yang telah disampaikan, maka selanjutnya menciptakan harmoni nada kehidupan adalah Rencanakan aktivitas kegiatan untuk mewujudkan do’a. Lewat rangkaian aktivitaslah do’a-do’a mendapatkan wujud rupa. Tanpa aktivitas sebuah do’a ada harapan yang terus menggantung di langit dan tidak pernah membumi.

Seperti do’a menjadi penulis hebat, tanpa ada rencana aktivitas menulis maka tidak akan terwujud menjadi penulis hebat. Atau seperti do’a mendapatkan usaha yang baik, tanpa pernah merencakan aktivitas mencari jenis usaha apa yang sesuai dengan kebutuhan banyak orang.

Satu do’a membutuhkan banyak rangkaian aktivitas kegiataan. Seperti do’a terbesit dalam hati untuk menulis satu tulisan hari ini yang dipasang tadi pagi. Aktivitas selanjutnya adalah membaca bahan yang tersedia dalam hati, pikiran, koran, buku. Kemudian menganalisa dan baru kemudian menulis dengan menyusun satu persatu huruf yang menjadi kata. Lewat rangkaian kata menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat terciptalah paragrah dan menjadi sebuah tulisan.

Sudahkah kita rencanakan aktivitas dari do’a-do’a kita mulai hari ini?

Tangga nada Mi

Kala aktivitas mewujudkan do’a terkadang kita mengalami pasang surut. Dengan tantangan yang terkadang diluar rencana yang telah disusun, suasana down, kecewa, sedih adalah hal yang tidak dapat dihindari. Disinilah peranan tangga nada Milikilah motivasi mengambil peranan. Motivasi menjadi daya ungkit untuk dapat kembali pasang naik dalam melakukan rangkaian aktivitas mewujudkan do’a.
Memiliki motivasi dapat berasal dari aspek dalam diri sendiri dan dari luar diri. Kekautan motivasi terbaik adalah dalam diri sendiri. Daya dobrak motivasi melekat dengan unsur spiritual, emosional dan intelektual.

Unsur spiritual menjadikan motivasi memiliki kelekatan terhadap aktualisasi kebahagiaan kala melakukan aktivitas rutinitas mewujudkan do’a. Unsur emosional menjadikan motivasi memiliki rasa senang dalam melakukan berbagai aktivitas dan unsur intelektual memberikan alasan logis dan masuk akal.
Sudahkan miliki motivasi yang menguatkan menyusun harmoni nada kehidupan?

Tangga nada Fa

Ketika motivasi telah melekat dalam aktivitas dan menjadi oase di padang pasir kekeringan, maka selanjutnya dalam mewujudkan harmoni nada kehidupan adalah fasilitas. Mengenali beragam fasilitas yang dapat membantu semua rencana aktiviatas.

Seperti do’a untuk menulis sebuah tulisan, maka kita membutuhkan fasilitas bernama pensil, pulpen dan secarik kertas. Atau barangkali kita membutuhkan komputer atau laptop yang tersambung langsung dengan dunia maya. Mengenali fasilitas dapat dilihat dari aspek efektifitas dan efisiensi penggunaan. Ketika tidak ada aliran listrik untuk menghidupkan laptop maka fasilitas kertas dan pulpen telah dapt menjadi fasilitas untuk menulis.

Dalam sejarah telah terbukti bahwa bukan kelimpahan fasilitas orang dapat mewujudkan do’a. Namun memaksimalkan fasilitas yang ada dan menciptkan fasilitaslah yang mampu mewujudkan do’a dalam aktivitas yang berat.

Sudahkah kita memanfaatkan fasilitas yang ada dalam diri dan di sekeliling kita dengan maksimal?

Tangga nada So

Inilah ruang spiritual untuk mewujudkan harmoni kehidupan. Rasulullah Saw mengalami guncangan hebat dengan meninggalnya istri tercinta Khadijah dan kakek yang menjadi pembela kala menyebarkan Islam di tanah Makkah.

Peristiwa ini bernama dengan Isra’ dan mi’raj. Peristiwa besar menjemput ibadah solat. Kala hidup kehilangan harmoni maka lihatlah kembali solat-solat yang kita kerjakan. Apakah telah sesuai dengan rukun dan syarat atau barangkali sering tercecer dalam kehidupan.

Mari kita lihat kembali solat-solat kita apakah telah harmoni sesuai dengan waktu yang indah penempatannya dalam ritme kehidupan kita melakukan aktivitas do’a yang kita munajatkan?

Tangga nada La

Memasuki harmoni nada kehidupan tangga nada Lapangkanlah hati dan pikiran. Ketika hati dan pikiran sempit menjadikan alternatif-alternatif berlalu begitu saja. Dengan kondisi hati yang lapang memberikan ruang untuk melihat banyak hal sekaligus. Kelapangan hati menjadikan jiwa tenang untuk memakimalkan fasilitas yang ada.

Lapangnya pikiran menjadikan sesuatu menjadi lebih bermanfaat dan maksimal dalam menggunakan fasilitas yang ada. Lapangnya pikiran menjadikan masukan, masukan berharga seperti advis/saran, motivasi dari orang yang kita cintai atau orang lain menjadi penguat mewujudkan do’a yang kita panjatkan.

Akan berbeda ketika hati dan pikiran sempit. Ia menjadikan segala sesuatu seakan menyiksa dan memperkeruh keadaan. Pikiran sempit menciptakan kepicikan melihat saran dan masukan dari orang lain. Sempitnya hari menjadikan kegelisahan tak menentu dan berhujung kepada depresi.
Sudahkah kita lapangkan pikiran dan hati menyusun harmoni nada kehidupan?

Tangga nada Si

Sebuah kalimat adalah gabungan dari huruf-huruf yang saling menguatkan. Dimulai dari huruf k dan tambah dengan a,l,i,m,a dan t yang menjadi kalimat. Begitu juga dengan mewujudkan harmoni nada kehidupan bahwa membutuhkan sinergi dan kerjasama banyak orang.

Beragam aktivitas adalah hasil dari kerjasama indah dan mempesona. Ketika menulis sinergi sepuluh jari yang masing-masing memiliki peran berbeda, ada ibu jari yang selalu memencet spasi untuk memisahkan kata demi kata. Ada telunjuk kiri untuk memencet huruf u, y dan jari-jari yang lain.
Jangan biarkan hidup menyendiri untuk mewujudkan do’a yang kita panjatkan. Lewat orang lainlah banyak aktivitas terwujud.  Sudahkah kita bersinergi mewujudkan do’a-do’a kita?

Tangga nada do

Dalam kehidupan kita telah banyak menerima kebaikan demi kebaikan. Kebaikan matahari yang menjadi pertanda siang menyinari lewat gerakan pagi, siang dan sore hari. Kala pagi menghasilkan pemandangan indah dan sore juga pemandangan indah yang diburu oleh banyak orang.

Mewujudkan do’a-do’a membutuhkan kemauan untuk berbagi yakni Donasi. Berikanlah sesuatu kepada orang lain. Ketika kita mempunyai waktu maka berbagilah untuk sekedar mendengarkan keluhan orang lain. Ketika kita mempunyai materi sisihkanlah untuk membantu saudara yang sedang kesusahan.
Untuk kita yang mempunyai ilmu maka bagikanlah, karena ilmu yang dipendam sendiri tidak pernah akan berkembang. Berdonasi lewat waktu yang kita punya, uang, ilmu, kesempatan menjadikan harmoni nada kehidupan yang indah dan membahagiakan.

Dalam kehidupan mari kita gubah lagu bernama Do, re, mi, fa, so, la, si, do untuk hidup penuh makna dan berkah. Karena hidup cuma sekali, hiduplah yang berarti.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita dalam Harmoni nada kehidupan di negri ini.

Rabu, November 17, 2010

Interaksi penghuni Kompasiana

Semoga ulasan tulisan ini hanya memberi sesuatu yang sedikit berbeda untuk kita penghuni rumah sehat kompasiana. Banyak hal terjadi dalam langgam tulisan dari kompasianer, hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan anggota yang terus bertambah. Pertumbuhan ini membawa para kompasianer untuk menunjukkan karakteristik pribadi lewat rangkaian kalimat yang tersusun menjadi tulisan.

Tulisan-tulisan menjadi sebuah cerminan bagi penulis sendiri, maupun bagi orang lain. Seperti cermin terkadang ada yang dengan kejujuran ia dapat memantulkan apa adanya, namun tidak sedikit yang mencoba untuk menyangkal apa yang dipantulkan oleh cermin.

Tulisan tetap memberikan terapi terbaik untuk gejolak jiwa, mengobati luka sosial, merangkai silaturrahmi dengan sesama dan tidak sedikit berjumpa menjadi sebuah buah karya bersama. Kompasiana adalah sebuah ekologi penulis. Dimana kompasiana hidup para penulis yang terus berinteraksi satu sama lain dengan saling berbagai informasi, inspirasi, kebermanfaatan dan juga motivasi.

Menelisik penghuni kompasiana, termasuk penulis dapat dikategorikan dengan KOMPASIANA. Hal ini mencoba memaparkan karakteristik sebagai bentuk untuk mengenal diri sendiri dan juga kompasianer untuk dapat kebermanfaatan yang makin baik.

Dimulai dengan huruf #K yang dapat diartikan dengan:

1. Kredibilitas. Tulisan-tulisan para penghuni kompasianer memiliki kredibilitas yang didukung oleh kemauan untuk mempertanggungjawabkan tulisan. Bentuk pertanggungjawaban ini adalah menyampaikan sumber foto, referensi, link. Kredibilitas tulisan menjadikan seorang kompasianer mendapatkan apresiasi dari kompasianer lainnya.

Untuk mendukung sebuah kredibilitas tulisan dan penulis pihak admin menetapkan tata tertip sebagai aturan dasar untuk para penghuni rumah sehat kompasiana. Sebuah tata tertip ketika telah menjadi sebuah budaya bersama maka melahirkan kredibilitas bersama.

Namun tidak sedikit yang melanggar hal dasar kredibilitas dalam sebuah tulisan dengan melakukan plagiator murni dengan hanya menggunakan Ctrl  C dan Ctrl V dari berbagai blog orang lain dan tidak dari blog sendiri. Hal ini mengakibatkan memberikan satu titik diatas kertas putih yang terus dijaga oleh penghuni lain.

2. Kritikus. Banyak tulisan lahir sebagai bentuk auto kritik terhadap berbagai permasalahan yang hadir di publik. Kisah ketua DPR RI sampai yang terbaru, Menteri Infokom dan tidak lupa gegap gempita kedatangan Presiden America Barrack Obama dengan segala pro dan kontra.

Tulisan lahir dari sebuah analisa mendalam dan ditunjang dengan kredibilitas mendatangkan sebuah kritikan yang cerdas dan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Namun tidak sedikit yang melakukan kritik yang dapat memperkeruh keadaan.

Untuk huruf #O dapat diartkan sebagai

3. Objektif. Dalam tulisan yang terus melakukan penelahaan secara seksama dan di dukung dengan dialektika logika mendapatkan sikap objektif dalam melakukan kritik terhadap sesuatu. Objektifitas dibutuhkan untuk tidak melakukan kesalahan fatal seperti fitnah dan pencemaran nama baik atau institusi tanpa didukung oleh fakta dan data yang dapat di pertanggungjawabkan.

4. Obrolan. Berbagai penulis dalam berbagai ragam tulisan menjadikan tulisan seperti sebuah obrolan yang mampu menyentil siapapun. Dan terkadang mampu memerahkan kuping bagi yang tersinggung akan obrolan yang menjadi sebuah tulisan.

Media obrolan bagi kompasioner berada pada bagian komentar. Balas berbalas komentar menciptkan obrolan yang renyah dan terkadang menambah serunya sebuah tulisan.
sedangkan untuk huruf #M

5. Mengasyikkan. Beberapa tulisan para kompasianer memberikan sesuatu yang di tunggu-tunggu oleh kompasianer lainnya. Ada yang membuat tulisan serial yang menjadikan penghuni rumah sehat kompasiana terus menerus penasaran. Banyak hal yang mengasyikkan untuk tetap berada dalam rumah ini, dan masing-masing mempunyai pengalaman tersendiri.

6. Menggairahkan. Pada mula bergabung dengan kompasiana pada bulan November 2009 dan mencoba memposting beberapa tulisan yang sebelumnya pernah ditulis di blog pribadi. Mendapatkan tanggapan dan juga sejauh mana tulisan kita dibaca orang lain mendatangkan gairah untuk terus berkarya. Namun beberapa bulan sempat tidak mengirimkan tulisan hal ini disebabkan oleh kegiatan “Menapak Nusantara”.

Mekanisme menjadikan menulis menggairahkan adalah pada atribut tulisan menjadi Headlines, Higthligh, Terpopuler dan tulisan terbaru yang dapat dibaca oleh teman-teman. Dan tidak lupa ada kompetisi penulisan untuk ulang tahun ke-2 kompasiana. Maka semakin menjadikan kompasianer bergairah untuk menulis dan terus menulis.

Untuk huruf #P bisa menjadi

7. Positif. Berbagai latar belakang penulis, dari wartawan, penulis buku, ibu rumah tangga, praktisi dalam bidang yang digeluti, mahasiswa, akademisi, PNS menjadikan sebuah bentuk hubungan positif satu sama lain. Ada ruang untuk berbagi dari sudut pandang berbeda. Baik sudut pandang latar belakang akademik, pengalaman, maupun prespektif.

Tidak sedikit yang pertama tidak bisa menulis dan menuangkan berbagai ide dalam pikiran, namun dengan membaca beberapa tulisan maka ia pun memulai mendaratkan tulisan dan terus dan terus. Barangkali dalam pendaratan pertama mengalami sedikit ketakutan akan tidak diterima oleh pembaca. Hal ini wajar dan itu sangat alamiah sekali.

Salah satu bentuk positif adalah memaksa untuk membaca sebelum menulis. Melakukan analisa sebelum merangkai kata demi kata menjadi sebuah tulisan.

8. Popularitas. Hal ini tidak bisa dinafikan sebagai natural effect penghuni kompasiana. Dengan tulisan-tulisan bernas dan cerdas serta bermanfaat dari kompasianer melahirkan popularitas tersendiri yang dapat mendatangkan pendapatan. Beberapa orang telah di pinang oleh penerbit untuk menerbitkat tulisan dalam bentuk buku.

untuk huruf #A yang terdapat tiga huruf berarti

9. Atraktif. Masing-masing penulis kompasianer memiliki karakteristik yang nampak dalam berbagai tulisan yang telah di publikasikan. Dalam pembahasan satu permasalahan dapat mendatangkan sisi pandang yang banyak. Masing-masing memberikan argumentasi. Inilah menjadikan tulisan-tulisan menjadi sebuah atraksi menarik untuk terlibat membahasnya.

10. Akrab. Dari motto kompasiana sebagai tempat berbagi. Menciptakan keakraban bagi para penghuni. Saling sapa lewat komentar, atau balas membalas tulisan. Suasan akrab berlanjut kepada pertemuan kopi darat antar penghuni kompasiana. Ada yang melakukan pertemuan sesama daerah regional yang diinisiasi oleh beberapa orang, juga diinisiasi oleh Admin seperti ulang tahun pertama dan kedua insyaa Allah 27 November 2010 nanti.

11. Akuntabilitas tulisan dan penulis. Hal ini terjaga dari kejujuran dalam memakai nama dan foto profil. Akuntabiltas berbanding lurus dengan kredibilitas.  Ketika sebuah tulisan menggunakan prinsip akuntabilitas maka ia memberikan kredibilitas bagi penulis. Hal ini tidak di dapat oleh plagiator yang mempunyai rumusan copypaste.

Untuk huruf #S diartikan dengan

12. Self-publish and marketing. Beberapa penulis menjadikan kompasiana sebagai tempat mempublikasikan diri lewat rangkaian tulisan-tulisan yang sekaligus memasarkan ide-ide bermanfaat. Dalam dunia tulis menulis sebuah tulisan adalah wakil mutlak seseorang memasarkan dirinya sendiri.

13. Sensitif. Lewat tulisan-tulisan kompasianer melahirkan sensitifitas kemanusiaan. Menggugah nurani dan kepeduliaan untuk sesama. Hal ini terpapar jelas lewat pemberitahuan tentang kondisi bencana dari yang berada dalam daerah bencana. Contoh kasus erupsi gunung merapi, sunami mentawai dan banjir bandang wasior.

Masing-masing melahirkan tulisan yang mampu meneteskan air mata keinsafan, air mata penyesalan dan juga air mata kebahagiaan. Lewat tulisan-tulisan lahirlah cerpen-cerpen pembangun jiwa, penguat motivasi dan menjaga sensitifitas kemanusian kompasianer.

untuk huruf #I dapat diartikan sebagai

14. Inovatif. Tulisan-tulisan lahir dari kreatifitas penulis dalam mengelola berbagai sumber daya yang ada. Masing-masing tulisan ada yang lahir diluar dasar keilmuan seseorang, seperti seorang dokter mampu menulis diluar keahlian kedokteran.

Beberapa tulisan mampu melahirkan inovasi-inovasi bagi orang lain setelah membaca dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karya-karya inovasi ini kemudian di bagi lagi untuk menciptakan inovasi selanjutnya.

15. Indah. Lewat rangkaian kalimat terusun sebuah puisi, prosa, tulisan yang kita terhipnotis untuk selalu berada didalamnya. Inilah kepiawaian seni menulis yang lahir dari jam terbang dan dedikasi cinta dalam menulis. Lewat tulisan kompasianer mampu menjadikan keindahan jiwa lewat asahan-asahan lembut yang lahir dari jiwa yang selalu ingin berbagi dan terus berbagi.

Dan huruf terakhir #N adalah

16. Normatif. Hidup akan indah kala menjadikan norma-norma agama dan umum menjadi pegangan setiap kompasianer. Norma menciptakan sebuah nilai-nilai yang selalu menjaga setiap kompasianer terus berkarya.
Tulisan demi tulisan yang berpegang dalam nilai norma akan tetap memberikan kesejukan dan tetap langgeng. Berbeda dengan tulisan yang mengesampingkan nilai-nilai normatif, dengan sendirinya ia disingkirkan oleh kompasianer lainnya dalam pergaulan warga sosial dunia maya.

Semoga dalam ulang tahun ke-2 kompasiana menjadikan kita masyarakat santun, cerdas dan beradab. Terima kasih untuk semua teman-teman kompsianer. Terima kasih dan salam Sang Pemenang Pembelajar

Membaca memerdekakan diri

Sore yang telah menampakkan wajahnya. Matahari telah mulai enggan untuk menyinari bumi yang telah melahirkan banyak kisah dalam kehidupan. Kisah yang menyejarah bagi orang awam, pejabat, wakil rayat, pejuang martabat orang, penjual martabat orang yang bernama kita, anda dan saya. Berlipat-lipat koran memberitakan. Susul menyusul berita mempertontonkan akan aneka kejadian dari hal bencana, derita, karya prestasi dan juga sedikit kebanggaan anak nerti.

Masing masing membawa oleh-oleh diakhir kehidupan yang memenatkan bernama senang, bahagia, gembira, ria atau sedih, duka, kecewa, ajeg dan percampuran rasa. Inilah kehidupan yang selalu hadir dengan dinamika, ada yang masih bisa tertawa diatas kepedihan dan sedikit yang sedih diatas ketawa kebodohan membaca hamparan pembelajaran yang datang setiap saat. Seakan buta dan tidak melihat hamparan pembelajaran.

Telah banyak daya dorong untuk melakukan pembelajaran dengan membaca. Dimulai dari dorong paling indah bernama firman Allah Swt (Q.S Al’alaq 1-5). Ia menjadi perlambang pembelajaran dengan melakukan pembacaan tentang apa yang tecipta. Membaca yang dimulai dari apa yang ada dalam diri kemudian menjurus kepada apa yang ada di bumi.

Kemudian dalam pepatah lebih konkrit disampaikan dalam tutur orang Minangkabau “alam takambang manjadi guru”. Bagaimana alam bergejolak, bergerak memperlihatkan bahwa ia ada menjadi guru untuk dibaca dan ditelaah menciptakan kemerdekaan dari belenggu ketidaktahuan dan keabaian.

Berbagai fenomena kehidupan, bencana yang datang silih berganti menghampiri, kehancuran moral dan perilaku yang seakan tidak berhenti seperti ombak berlabuh kepantai. Seperti kasuh Gayus Tambunan, kriminalisasi KPK, Korupsi beberapa kepala daerah. Pertikaian masyarakat seperti di Tarakan, poso, sambas dan sederet pertistiwa yang semoga kita tidak amnesia dan terkena penyakit alzhaimer tentang dasar pembelajaran.

Membutuhkan sebuah lompatan besar untuk tidak terbelenggu dalam membaca apalagi terpenjara. Membaca untuk memerdekaan namun malah terjerembab dalam membelenggu nurani kemanusian, menumpulkan akal budi, membunuh sikap empati dan mengkebiri kedewasaan bersikap dan tidak memanusiakan manusia.
Lompatan ini mengacu pada rangkaian proses yang terus menerus tanpa henti, kecuali kematian. Ketika kematian datang ia akan menjadi pembelajaran untuk generasi mendatang.

Lahirnya para inspirator ummat manusia, para nabi dan rasul yang dibimbing dengan wahyu dan kemampuan membaca realitas dimana para nabi dan rasul di tugaskan. Muhammad Saw ditakdirkan lahir dalam dinamika kehidupan masyarakat kota, masyarakat berperadaban dengan syair-syair indah namun buruk dalam moral. Kejahatan kemanusiaan bernama perbudakan dan penistaan peran perempuan dalam beberapa lini kehidupan. Dengan sebuah lompatan besar membaca yang memerdekakan di topang oleh wahyu dimulai dengan Iqra mampu menghantarkan peradaban yang mencegangkan.

Para pemimpin besar dunia hadir dengan melakukan membaca memerdekakan diri. Membaca langgam kehidupan yang mampu menggerakkan orang lain untuk merdeka dan berjuang untuk memerdekaan orang lain dari belenggu kerusakan dan kehancuran.

Mahatma Ghandi, Dalai Lama, Nelson Mandela, Malcom X, Soekarno, Hatta, Syahril, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, yang hadir memerdekakan diri lewat membaca lingkungan dimana mereka terlahir dan besar disana. Namun didalam membaca memerdekaan diri tidak sedikit yang menjadi lawan mereka membaca yang membelenggu. Telah banyak catatan sejarah perlawanan perjuangan mereka dari orang dekat, teman, kolega dan masyrakat yang bukan buta membaca.

Beberapa tahapan membaca yang melahirkan lompatan besar dan memerdekakan diri.

Pertama, membaca dengan hati nurani. Kepekaan akan realitas-realitas yang saling berkaitan dan berkulindan satu sama lain. Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak hanya melihat apa yang nampak di permukaan semata, namun menukik kedalam dan mendasar. Mencari jawaban dengan mengaktifkan hati untuk menemukan jawaban akan persoalan, permasalahan yang terus melilit kehidupan. Adakah hati membaca ada permasalahan besar yang dihadapi yang merusak kemanusiaan, menghancurkan generasi.

Kedua, membaca dengan akal budi. Penalaran-penalaran yang sistematis dan terstruktur, lewat rangkaian dialektika logika. Tidak hanya sekedar membaca sepintas lalu yang lewat seperti iklan. Membaca dengan bertanya dengan kembali bertanya apakah hal ini menjadi penyebab utama persoalan-persoalan selalu datang ketika satu solusi telah ditemui. Bukan seperti jawaban membakar lumbung padi untuk memusnahkan tikus yang memakan padi.

Ketika, membaca dengan dorongan empati. Tidak berpegaruh apa-apa ketika angka-angka kematian, pengungsi, kehancuran ekonomi dari perilaku korupsi. Malah menjadi tumpul dan terbutakan oleh deratan angka dan aksara. Membaca yang menggerakkan rasa bahwa kita ada dan berada untuk berbuat sesuatu bermanfaat. Bukan membaca yang hanya merating dan mengkalkulasikan angka-angka.

Keempat, membaca dengan berbuat. Mahatma ghandi melakukan gerakan swadesi dengan menanggalkan pakaian kemewahan. Malcom X melakukan orasi dan memimpin gerakan besar dalam menyuarakan kesetaraan. Soekarno melakukan pembelaan dengan membuat pledoi ketika disidang pada pengadilan Belanda. Lewat rangkain perbuatan membaca hidup dan memerdekakan.

Membaca tidak hanya sekedar untuk melihat susunan aksara, namun menjadi sebuah kemedekaan jiwa supaya kita tidak Rabun Membaca, Buta Menulis, Budak Kebodohan dan Pesuruh Keterjajahan. Semoga bermanfaat.

Tulisan gagal, nutri penulis

Telah banyak kata bertali temali mencipta kalimat, paragraf dan buku. Ia lahir dari pergumulan pemikiran, emosi dan juga ruh sang penulis. Sebuah tulisan yang telah lahir selalu memberi sesuatu yang berbeda bagi penulis dan juga pembacanya. Rasa itu memiliki efek berantai, ada yang kecanduan untuk terus berkarya, namun tidak sedikit yang mesti berpuasa menulis untuk beberapa lama. Namun ketika ia masih bisa mendengar aksara yang diucapkan, melihat deretan huruf di sepanjang penglihatan maka ia akan kembali.

Menulis mengikuti suratan takdir kehidupan. Seperti kita berjalan dan mampu berlari kencang, dimana kita sering jatuh bangun. Tidak sedikit perban untuk menutup luka, teriakan histeris bunda dan juga sedikit omelan sebagai nasehat untuk berhati-hati. Dalam pelatihan berjalan dan berlari selalu ada orang yang memotivasi, menggerakkan, menatah dan mendo’akan supaya bisa berjalan. Tata tata tata, kalimat itulah yang sering meluncur untuk memotivasi bisa berjalan dan berlari. Begitu juga dalam dunia tulis menulis ia akan terbiasa berjalan meluncurkan rangkaian kata dan berlari menjemput kalimat.

Dari beberapa penelusuran pada catatan pribadi, baik pada buku waktu sekolah SD, kala masih di penjara suci/pesantren, waktu kuliah dan tulisan mengikuti berbagai lomba. Ada sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan. Kenapa? Dalam berbagai catatan ada coretan-coretan yang tidak tersampaikan pada sebuah penggalan bermanfaat. Ya itulah tulisan gagal untuk di publikasikan dan dibaca oleh orang lain. Dalam dunia web 2.0 tulisan dapat dipublikasikan di berbagai media, seperti blog, note di facebook, dan web pribadi. Barangkali lihatlah ketika kita pertama kali memposting tulisan, disana ada rasa kok tulisan saya begini ya?. Memang ada satu penyesalan yang menggugah untuk berbuat lebih baik.

Kemudian langkah apa yang mesti dilakukan melihat tulisan gagal agar menjadi nutrisi yang mampu menggenjot kembali gairah menulis? semoga beberapa tips ini bisa bermanfaat untuk menulis menciptakan kebahagiaan.

Pertama. Masuklah dalam kondisi emosi ketika itu. Hal ini membantu untuk menguatkan daya ingat dalam memahami aspek emosi. Disana ada rasa kecewa, sedih, jengkel, senang. Kondisi ini memberikan kesadaran emosional yang mampu menerima realitas kejadian tersebut. Ketika hal ini terwujud maka telah memasuki kedewasaan dan kematangan emosi.

Kedua. Melihat dari sisi berbeda. Kala tulisan yang tidak jadi atau dinyatakan gagal. Lihatlah dari cara berbeda, jika ketika itu masih berstatus pelajar yang membuat susahnya matematika dan bahasa inggris, maka dapat dituliskan bagaimana bisa mencintai pelajaran matematika dan bahasa inggris. Hal ini menjadikan tulisan gagal menutrisi penulis. Apalagi ini sangat bermanfaat ketika lagi kemarau ide untuk menulis.

Ketiga. Menambahkan beberapa informasi terkait tentang tulisan gagal tersebut. Seperti sebuah baju yang belum di beri aksesoris untuk terlihat lebih baik yang di sulam dari beberapa potongan kain perca yang nampak tidak bermanfaat. Barangkali bisa menjadi sebuha tulisan dengan merangkai menjadi “tulisan-tulisan gagal dan manfaatnya” atau “mengolah emosi ketika tulisan gagal sesuai niatan”

Dalam beberapa perbincangan dengan teman-teman, sering yang menjadikan seseorang merasa tulisan gagal adalah pada masa kompetisi. Ketika telah mencurahkan segala sesuatunya untuk melahirkan sebuah tulisan, ternyata tidak mendapatkan apa-apa, bahkan tulisan tersebut tidak dikembalikan oleh panitia.

Mengolah kegagalan dan merubahnya menjadi kesuksesan ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, terutama dalam dunia penulis.

Pertama, menata ulang motivasi menulis. Pertanyaan ini bertumpu pada untuk apa saya menulis? Tulislah dari awal menulis dan apa yang didapat baik secara emosi, spiritual, material. Hal ini berguna untuk melihat kebelakang dengan kaca spion jika dianalogikan membawa mobil atau motor. Ketika telah menemukan motivasi awal maka kita akan menata ulang motivasi menulis yang lebih mampu menggugah dan melesatkan tulisan.

Kedua, milikilah komunitas penulis. Hidup bukan untuk dinikmati sendiri dan bersembunyi. Kita dibesarkan pada awalnya dalam komunitas keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan kemudian berkembang menjadi keluarga besar dan komunitas lainnya. Ibarat pepatah, serigala tidak akan memakan domba, kecuali yang tercecer dari kawanan domba.

Ketiga, mempunyai teladan menulis. Hal ini membantu untuk melakukan pembelajaran bagaimana menulis. Telah banyak penulis-penulis hebat lahir dan meninggalkan jejak langkah mereka. Pilihlah beberapa orang guru dalam bidang menulis sebagai tutorial lewat tulisan mereka.

Keempat, milikilah kompetitor dan kritikus. Ketika ada kompetitor kita akan memiliki adrenalin lebih untuk terus memperbaiki tulisan-tulisan lewat perlombaan mendaratkan tulisan. Kompetitor adalah orang paling baik dalam memaksa kita memperbaiki tulisan. Seperti peperangan abadi antra coca cola dengan pepsi.

Kelima, milikilah media yang sehat untuk berkembang. Pemilihan ini sama dengan memilih tetangga untuk dapat saling membantu satu sama lain. Media yang baik ibarat udara yang bersih untuk dapat menyehatkan tubuh yang sakit. Media ibarat udara atau asupan gizi penyeimbang dan penambah nafsu untuk menulis lebih sehat. Dan pilihan menulis di Kompasiana adalah media sehat untuk terus tumbuh menjadi sehat dalam dunia literasi.

Semoga bermanfaat, tulisan singkat yang berawal dari membaca kembali beberapa tulisan di buku dan kertas yang berserakan yang masih berbentuk peta pikiran, gambar dan simbol. Mari menutrisi tulisan dengan membuka lembaran tulisan gagal.

Tags: nutrisi menulis, motivasi menulis, menulis