Minggu, Juli 24, 2011

Model keuangan Baitul Maal Masjid


Oleh : Muhammad Yunus

Landasan sejarah
Baitul Maal telah dimulai dari semenjak Rasulullah Saw berada di Madinah. Rasulullah Saw meminta beberapa orang sahabat yang bertugas untuk memungut zakat bagi mereka yang telah sampai nisab dan kemudian membagikan langsung kepada mereka yang berhak sesuai dengan ketentuan dalam QS. Attaubah ayat 60. Zakat adalah kewajiban ekonomi bagi masyarakat muslim yang memiliki kekayaan yang telah sampai nisab. Sedangkan untuk selain non Muslim di kenakan Kharaj dan Jizyah. Dimana penggunaan kedua ini untuk menjamin keamanan non Muslim berada dalam Negara Islam Madinah.
Pada masa Rasulullah Saw menghapuskan pungutan pajak yang memberatkan seluruh penduduk Madinah. Pungutan ini dikenakan kepada setiap orang. Baik yang memiliki kelebihan harta maupun tidak. Kebijakan keuangan ini dihapus oleh Rasulullah dan digantikan dengan kebijakan keuangan berupa Zakat, Kharaj dan Jizyah. Kemudian untuk membiayai operasional perang, paceklik dan permasalahan lainnya Rasulullah mengeluarkan sebuah kebijakan keuangan berupa Infak dan Shadaqah.
Landasaran alqur’an & As Sunnah
  1. Q.S Attaubah :60
  2. Q.S Albaqarah 2-3
Model akuntansi
                Penerapan model akuntasi pengelolaan keuangan Baitul Maal Masjid menggunakan model penyaluran zakat untuk penerimaan zakat, infak, sedekah yang diterima oleh Masjid. Sedangkan Wakaf memilki kekhusan bagi wakaf muqayyadah. Sedangkan wakaf biasa membutuhkan perlakuan khusus berupa zatnya tidak boleh berkurang sedangkan manfaatnya dapat digunakan untuk kepentingan umum. Model pencatatan akuntasi pada penerimaan akan menyebut sumber pendapatan yang dibagi menjadi 4 sumber.
  1. Sumber Zakat. Pencatatan ini diperlukan untuk menentukan penerimaan dan penyaluran zakat yang tidak keluar dari asnaf 8. Dimana penyalurannya dapat diprioritaskan sesuai dengan realitas keberadaan mustahik.
  2. Sumber Infak. Pencatatan ini bersumber dari pendapatan masjid atas jasa yang diberikan masjid. Pendapatan infak bersumber dari penyewaan aula masjid, ambulance dan parkir. Pinjaman qard bagi masyarakat dan pendapatan lain atas kegiatan usaha masjid.
  3. Sumber Shadaqah. Pencatatan ini bersumber dari pemberian jamaah dan masyarakat lewat kotal amal, sumbangan rutin.
  4. Sumber Wakaf. Pencatatan yang bersumber dari wakaf berupa asset tetap seperti gedung, tanah, kendaraan. Maupun wakaf tidak tetap berupa wakaf produktif, wakaf uang.
Pengeluaran keuangan
Pengeluaran keuangan Baitul Maal Masjid tetap menggunakan system pengeluaran Zakat yang dibagi menjadi tiga prinsip utama. Pertama. Peningkatan Perekonomian yang merupakan bagian dari pembedayaan fakir dan miskin di lingkungan masjid. Kedua. Proteksi ekonomi merupakan bagian dari hak inbu sabil, algharimin. Ketiga akselerasi ekonomi yang bersumber dari memerdekakan budak dan muallaf. Pengeluaran keuangan Baitul Maal Masjid bertumpu kepada karakteristik ekonomi masyarakat sekitar masjid.
Pengelolaan keuangan
Sedangkan untuk pengelolaan keuangan Baitul Maal Masjid berdasarkan kepada:
1.       Akuntabilitas. Untuk mendapatkan standar akuntabilitas pengelolaan keuangan Baitul Maal Masjid dikelola oleh Sumber daya minimal telah mengikuti pelatihan akuntansi keuangan dan mengerti tentang system akuntansi.
2.       Transparansi. Pengelolaan keuangan menerapkan system transparansi berupa laporan keuangan berkala dan dapat di audit sewaktu-waktu. Bentuk transparansi adalah pelaporan keuangan bersifat terbuka.
Penutup
Penerapan baitul Maal Masjid dalam lingkungan masyarakat membantu beberapa aspek ekonomi, diantaranya mengurangi pegangguran, menguatkan perekonomian masyarakat dan terakhir adalah membebaskan penggunaan riba oleh masjid maupun jamaah dan tetangga masjid.
Powered by:
Magister Ekonomi Syariah
Univ. Azzahra
Jl. Jatinegara Barat no. 144

Kamis, Juli 14, 2011

Kenapa Kuliah membosankan?


Perkuliahan dan interaksi antara dosen dengan mahasiswa memilki banyak cerita. Baik suka dalam prespektif mahasiswa maupun duka yang membekas sampai menjadi warisan dari generasi demi generasi. Dunia perkulihan dan sistem perkuliahan memang memiliki perbedaan pendekatan dengan sekolah. Tidak sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan akademis bagus dalam perkuliahan ternyata selama di bangku sekolah adalah berkemampuan biasa. Namun tidak sedikit yang memiliki kemampuan bagus di bangku sekolah namun sering kandas ketika berada dalam perkuliahan.

Berbagai julukan muncul kepermukaan dari mahasiswa tentang bagaimana perilaku dosen, metode dosen dan juga keputusan dosen yang memberikan nilai terhadap hasil kerja mahasiswa berupa tugas, ujian tengah semester dan akhir semester.  Ada dosen killer yang menjadikan julukan ini sangar di prespektif mahasiswa yang memberi nilai apa adanya atau memang tidak memenuhi standar kualitas yang di harapkan. Ada dosen gaul yang dapat berinteraksi dengan mahasiswa dan menyelami dunia mahasiswa. Dan masih banyak gelar-gelar non akademik lainnya untuk dosen di berbagai perguruan tinggi.

Menjadikan perkuliahan menjadi berkesan dan bermanfaat ada beberapa syarat pengkondisian sebelum perkuliahan berlangsung.
  1. Kontrak belajar. Hal ini mengatur tentang bagaimana perkuliahan akan berlangsung dalam 16 kali pertemuan kedepan. Mengatur tentang jatah untuk tidak mengikuti perkuliahan. Mengatur tentang penilaian dan komposisi nilai untuk mata kuliah.
  2. Satuan Acara Perkuliahan. Berisi tentang materi-materi yang akan didibahas untuk 16 kali pertemuan. Berisikan Tujuan Instruksi Umum dan Khusus serta metode mengajar
  3. Silabus. Berisi tentang pembahasan dan buku pendukung pembahasan. Penyampaian silabus biasanya di berikan awal perkuliahan oleh dosen pengampu mata kuliah.
Keluhan Mahasiswa terhadap dosen

Hal ini menjadi bagian dari ketidakpuasan mahasiswa terhadap dosen pengampu mata kuliah. Hal ini meliputi
  1. Metode penyampaian. Kemampuan dosen dalam mengemas materi perkuliahan tidak mengakomodasi kebutuhan mahasiswa. Hal ini bisa berupa penggunaan slide yang kurang menarik dan terkesan kaku. Dimana slide presentasi dosen tidak eye chating (menarik perhatian mata).
  2. Sikap dan perilaku dosen. Keluhan mahasiswa melihat sikap dari dosen dalam menyikapi beberapa permasalahan. Dalam hal ini adalah disiplin waktu. Ketika mahasiswa terlambat maka hukuman mahasiswa tidak dibenarkan masuk. Jika dosen yang terlambat tidak mendapatkan sanki apa-apa.
  3. Penguasaan Materi perkuliahan. Terkadang beberapa dosen tidak memiliki pembahasan up date tentang mata kuliah yang diampu. Hal ini biasanya terlihat dari materi demi materi yang disampaikan. Rujukan perkuliahan hanya pada satu buku atau terkadang sebuah diklat yang telah tua.
  4. Banyak tugas. Hal ini sering menjadi beban dan sumber keluhan mahasiswa terhadap dosen. Dimana mahasiswa merasa dibebankan dengan tugas-tugas yang menghiasi setiap pertemuan.
Keluhan Dosen terhadap mahasiswa

Sebaliknya dalam prespektif dosen pengampu beberapa mata kuliah dosen memiliki keluhan dan juga menjadi streotip tentang perilaku mahasiswa terkhusus dalam proses belajar mengajar berlangsung. Diantaranya:
  1. Mahasiswa malas membaca. Hal ini terlihat dalam bentuk jawaban dari pertanyaan yang diberikan dosen sebagai pemancing awal perkuliahan. Berbagai alasan sering muncul ketika di tanya apakah telah membaca bahan yang akan dipelajari.
  2. Mahasiswa lumpuh menulis. Hal ini sering terjadi ketika melihat hasil dari tugas membuat artikel atau makalah. Kelumpuhan menulis di perparah dengan kemalasan membaca mahasiswa.
  3. Disiplin diri dan perilaku. Menjadi sebuah model yang membuda dalam kalangan mahasiwa bahwa berpakaian rapi dan sopan adalah berat. Seakan berpakaian menggunakan baju berkrah, sepatu adalah sebuah keberatan. Maka tidak heran di beberapa kampus membuat pengumuman “Mahasiswa yang memakai oblong, sendal jepit tidak dilayani”.
Diluar keluhan dari masing-masing belah pihak dalam interaksi perkuliahan dalam perguruan tinggi. Banyak hal yang dapat menjadikan sebuah perkuliahan itu mengasyikan, mencerahkan dan sekaligus menginspirasi mahasiswa. Pendekatan ini dirumuskan dengan ASK ME yang terdiri dari Attitude, Skill, Knowledge, Meaning of Life dan Energy.

Attitute

Setiap pembahasan materi kuliah menyampaikan aspek sikap yang dibentuk dalam  mempelajari materi perkuliahan. Pendekatan ini berguna untuk mendatangkan passion mahasiswa dan hadir dalam perkuliahan. Pembentukan sikap ini lahir dari pendekatan studi dan pendalam kasus yang berhubungan dengan materi pembelajaran.

Skill

Pertemuan dengan durasi 120-150 menit sekali pertemuan belum mampu memaksimalkan skill mahasiswa dalam materi perkuliahan. Skill lahir dari melakukan sesuatu secara berulang dan terus menerus. Dalam hal ini pendekatan perkuliahan dengan sistem laboratorium, pengerjaan proyek, studi lapangan dapat membantu peningkatan skill mahasiswa. Beberapa mata kuliah seperti Manajemen Pemasaran bisa di gunakan pendekatan mahasiswa menjadi marketing dari berbagai model bisnis yang ada.

Knowledge

Memaksimalkan pengetahuan mahasiswa, maka pendekatan perkuliahan adalah melihat beberapa kasus dan di telaah dalam bentuk tulisan lepas yang menjadi tugas individu maupun kelompak. Dalam hal ini mahasiswa diberikan reward dan punishment. Peningkatan pengetahuan juga bisa dengan menghadirkan bacaan-bacaan terkini yang berhubungan dengan materi kuliah yang akan di sampaikan.

Meaning of Life

Dalam proses interaksi perkuliahan antara dosen dengan mahasiswa terjadi dialog yang mampu merajut makna-makna tentang kehidupan yang berhubungan dengan materi perkuliahan. Sentuhan personal yang membawa pencerahan bagi mahasiswa untuk menapaki kehidupan dengan skill dan pengetahuan yang di dapat mengikuti mater perkuliahan.

Energy

Mengalirkan energy posistif, cara berpikir positif dan bertindak positif. Hal ini merupakan kepiawaain dosen meramu perkuliahan dengan memotivasi mahasiswa dengan berbagai model pembelajaran. Dan hal inilah yang membedakan antara mengajar hanya sebatas transfer pengetahuan dengan transformasi insan terdidik Indonesia.

Bagaimana pengalaman Anda ketika kuliah dan berinteraksi dengan dosen pengampu mata kuliah?

Jumat, Juni 24, 2011

Bank Sentral Bagian Baitul Maal


Oleh: Muhammad Yunus

Sejarah Baitul Maal

Baitul mal adalah suatu model pengelolaan kekayaan Negara versi Islam. Pengelolaan Baitul Maal memiliki peranan penting dalam implementasi ibadah dalam bidang muamalat dalam Islam.  Baitul Maal berperan sebagai tata kelola keuangan, kekayaan, perbendaharaan Negara yang bersumber dari Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf, Fai, Kharaj, Jizyah.

Prinsip pengelolaan Baitul Maal yang sangat luas dan komprehensif. Memiliki prinsip yang berdasarkan keyakinan bahwa semua kekuasaan, termasuk hak akan harta benda di semesta alam, adalah milik Allah, sedangkanmanusia adalah khalifah-Nya dibumi dan hanya memiliki benda-benda ini untuk sementara. Ada tiga macam Baitu Mal: 1. Baitul Mal al Khas 2. Baitul Mal 3. Baitul Mal al Islamin.

Baitul mal al Khas ini adalah perbendaharaan kerjaan atau dana rahasia, dengan sumber pendapatan dan unsur pengeluaran sendiri. Pengeluaran-pengeluaran itu antara lain pengeluaran pribadi khalifah, istana pensiun anggota keluarga raja, pengawal istana dari para khalifah kepada pangeran asing. Pengelolaan pada baitul maal al Khas berperan untuk pengelolaan operasional pemerintahan.

Baitul maal adalah sejenis bank negara untuk kerajaan. ini tidak berarti bahwa ia memiliki semua fungsi bank sentral dewasa ini, tetapi fungsi yang terdapat dalam bentuk sederhana pengelolaan. Kisah Umar bin Khattab ketika melakukan patroli pada malam hari untuk melihat warga Negara madinah. Ketika Umar mendapati seorang Ibu yang sedang memasak batu untuk anaknya yang sedang kelaparan. Suara tangisan dan pertanyaan apakah makanan telah masak terus menyanyat hati sang khalifah (kepala Negara). Umar mengambil Gandum, minyak zaitun dan juga daging dari perbendaharaan Baitul Maal untuk wanita dan anak-anak yang kelaparan.

Baitul maal pada awalnya bertempat di dekat mesjid utama. Penanggungjawab pada tingkat pusat di kelola oleh Qadi.

Unsur yang didepositokan dalam baitul mal adalah (1) sadaqah atau pendapatan zakat (2) Ghanimah (rampasan perang (3) Fai yaitu kharaj dan Jizyah

Bank Central

Melihat dari berbagai hal tentang Bank Central yang meliputi kewenangan dan kewajiban dapat di katakan Bank Sentral sebagai Baitul Maal dalam bidang pengelolaan keuangan. M.A Manan dalam bukunya Ekonomi Islam dari Teori ke Praktek mengilustrasikan bahwa Baitul Maal adalah Bank Sentral. Dimana tanggungjawab Bank Central adalah mengumpulkan Zakat, Infak Shadaqah, Fai yang terdiri dari Kharaj dan Jizyah.

Dalam pengelolaanya Bank Central dapat membentuk sebuah lembaga khusus yang menangai tentang pemungutan zakat. Dalam konteks Indonesia dinamakan Dirjen zakat seperti Dirjen Pajak. Sedangkan untuk Fai maka di bentuk Dirjen Fai dan beberapa Dirjen yang bertanggung jawab atas pengelolaan sumber dan pembangian.

Masing-masng dirjen memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri dalam pengelolaan. Dirjen zakat sebagai lembaga pengumpul zakat, pengelola dan penyalur zakat memiliki aturan yang jelas sebagai bentuk proteksi bagi asnaf yang delapan. Landasan ini termaktub dalam Q.S Attaubah ayat 60. Namun berbeda dengan Dirjen Wakaf, Infak, dan Shaqah yang penggunaan memiliki kekhusasan tesendiri.

Dalam kerangka bernegara Bank Central bagian dari Baitul Maal adalah lembaga relugasi, pengelola system fiscal. Mengatur bagaimana perputuran keuangan tidak terjadi penyimpangan dan bertumpuknya kekayaan pada satu orang atau kelompok. Kemudian Bank Central memiliki peranan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan distribusi keuangan dari tingkat pusat ke daerah.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab dimana beliau menerima  perbendaharaan Baitul Maal dari Mesir. Beliau meminta bahwa harta tersebut di bagi kembali sesuai dengan peruntukan di Mesir dan bukan di sector Baitul Maal Pusat. Dalam kasus ini terlihat bahwa Umar bin Khattab memiliki kebijakan untuk tidak menumpuk harta di pusat namun mendistribusikannya di daerah pemungutan.

Berkaca dari apa yang telah dilakukan oleh Umar bin Khattab dan juga tata kelola keuangan dalam Islam. Terdapat sebuah kegalauan melihat tata kelola keuangan di Indonesia, dimana 88% ummatnya adalah Muslim. Namun tata kelola keuangan belum menunjukkan bahwa Baitul Maal sebagai keniscayaan tidak berlaku bagi ummat.

Bagaimanakah kita akan menerapkan Bank Indonesia layaknya Baitul Maal dalam bidang keuangan? Jawaban ini dapat kita temukan dalam mata kuliah Islamic Public Finance di Pascasarjana Magister Ekonomi Syariah Universitas Azzahra.

Powered by:
Magister Ekonomi Syariah
Univ. Azzahra
Jl. Jatinegara Barat no. 144

Jumat, Juni 17, 2011

Memimpin Diri


Oleh: Muhammad Yunus

Setiap langkah kaki yang diayunkan. Setiap nafas yang berhembus. Setiap detak jantung yang berdetak. Setiap lintasan pikiran yang bergerak. Setiap gejolak rasa yang mengharu. Setiap kata uang terucap. Tiap setuatu dalam diri kita membutuhkan sebuah keputusan, arahan, kendali, perhatian. Seperti ayunan langkah kaki yang membawa kita kemana kehendak, maka ia membutuhkan arahan tujuan yang akan dicapai. Ketika berangkat pergi kerja. Maka kaki ia akan mengayun melangkah menuju halte, menaiki kendaraan, turun dan berjalan.

Bagaimana kecepatan langkah yang diayunkan. Bagaimana gaya berjalan dan sepatu yang mana digunakan. Dalam setiap bagian terkecil dalam aktivitas kehidupan kita membutuhkan sebuah keputusan, arahan, kendali, perhatian. Aktivitas-aktivitas tersebut telah menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan kita. Setiap langkah adalah hasil dari keputusan. Namun akan menjadi berbeda ketika menghadapi beberapa permasalahan besar dalam kehidupan. Seperti memilih kuliah, kerja atau wirausaha, menikah dengan siapa dan keluar dari tempat kerja.

Semua peran-peran tersebut membutuhkan kepemimpinan diri. Perjalanan kehidupan harus mengambil keputusan demi keputusan. Setiap keputusan membutuhkan arahan untuk mencapai tujuan. Membutuhkan kendali dan perhatian untuk hidup lebih bahagia dan bermakna.

Mencapai pada kemampuan memimpin diri sendiri Richard W. James menyatakan ada tiga hal dasar untuk mencapai personal leadership.

Pertama. Memiliki prinsip (principle-centered)

Prinsip adalah sebuah konsepsi nilai-nilai yang melekat dalam kehidupan diri. Prinsip menentukan sikap dalam menyikapi persoalan yang hadir setiap saat. Ketika tidak memiliki prinsip maka seseorang akan mudah diombang ambing oleh respond an stimulus yang hadir setiap saat. Seperti penggunaan HP sebagai komunikasi. Ketika prinsip sesorang HP sebagai alat penunjang pekerjaan, maka ia akan menggunakan HP dengan spesifikasi memudahkan pekerjaan. Namun berbeda ketika prinsip hidupnya adalah gaya dan model, maka penggunaan HP akan mengikuti perkembangan yang ada.

Dalam dunia kerja, prinsip ini akan membedakan seseorang karyawan dengan karyawan lainnya. Umpama si Boy berprinsip bahwa kerja adalah memberikan terbaik sesuai dengan kemampuan. Maka ia bekerja dengan etos kerja bagus, kinerja yang bagus dan kemauan untuk belajar dan mengembangkan diri. Namun Si Man berprinsip bahwa kerja adalah mendapatkan upah. Maka bekerja ia akan melihat berapa besar upah atau gaji yang ia dapat. Kinerja berdasarkan bonus dan penghargaan.

Dan prinsip adalah panduan utama dalam memimpin diri sendiri.

Kedua. Memiliki sikap (attitude-driven)

Sikap lahir dari prinsip yang diyakini. Dengan contoh penggunaan HP diatas, maka sikap seorang yang menjadikan HP sebagai penunjang pekerjaan akan berbeda ketika sikap yang menjadikan HP sebagai gaya hidup. Sikap adalah bentuk luar dari prinsip hidup. Sikap positif lahir dari prinsip hidup yang positif dan sikap negative lahir dari prinsip negative. Dalam pergaulan sikap menentukan seseorang diterima atau di tolak oleh sebuah komunitas tertentu.

Dalam studi terbaru kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80% sikap hidupnya. Namun kita jarang untuk menelisik sikap-sikap ketika merespon sesuatu. Umpama dalam hal sampah, kita yang memiliki prinsip bahwa kebersihan adalah baik, maka tidak akan membuang sampah sembarangan, walau sampah tisu yang digunakan diatas angkot.

Ketiga. Memiliki komitmen untuk melaksanakan (practice-commited)

Setelah mengetahui prinsip hidup dan melahirkan sikap demi sikap yang terus menerus. Maka langkah terakhir adalah komitmen untuk melakanakan prinsip hidup. Komitmen adalah bagian untuk membentuk sebuah perilaku. Dalam memaksimalkan prinsip baru untuk memimpin maka dibutuhkan komitmen pelaksanaan. Seumpama ketika kita berprinsip bahwa hidup mesti disiplin sebagai prinsip baru. Maka dibutuhkan komitmen untuk datang tepat waktu. Komitmen untuk mengerjakan pekerjaan tepat waktu. Tidak menunda-nunda pekerjaan.
Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinan (H Riwayat Bukhari Muslim) Maka memimpin diri sendiri adalah hal utama sebelum memimpin ke luar diri sendiri. Semoga  bermanfaat untuk hidup lebih berbahagia dan bermakna.

Sabtu, Juni 11, 2011

Dari Pengemis Intelektual ke Wirausaha Intelektual


Menjadi kaum intelektual adalah cita-cita kemulian dalam strata social di Indonesia. Dalam paradigm religious manusia yang berpengetahuan atau kaum intelektual adalah strata tertinggi dalam Islam. Allah menyebut kaum intelektual dalam Alqur’an adalah ulul albab, sering diartikulasikan sebagai ahli berfikir atau ilmuan. Islam juga memberikan landasan ruhiyah, metodologi yang di kuatkan dengan kata iqra. Kata iqra menjadi momentum awal bahwa beragama itu mesti memiliki kemampuan dalam mengolah realitas dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan di dapat dari rangkaian proses pembelajaran sepanjang masa. Tidak semua orang memiliki kemauan kuat untuk terus memaksimalkan untuk belajar. Tidak semua orang mempunyai kemauan yang kuat untuk mendayagunakan akal untuk belajar. Di Indonesia proses pembelejaran dimulai dari Pendidikan Usia Dini sampai Perguruan Tinggi. Proses belajar menelan waktu 17 tahun untuk sampai pada jenjang Perguruan Tinggi. 

Menjadi mahasiswa adalah pilihan terbaik dan kesempatan terbatas untuk masyarakat Indonesia. Tingginya biaya pendidikan menjadikan kesempatan untuk kuliah adalah kesempatan langka. Dari laporan Dirjen Perguruan Tinggi bahwa dari 30 orang murid SD, maka tidak sampai 50% atau 15 orang yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya pendidikan dan tuntunan ekonomi untuk melanjutkan hidup.

Kaum intelektual dalam lintas sejarah panjang Indonesia mengambil peranan melakukan perubahan demi perubahan. Mulai dari kemerdekaan Indonesia yang dipelopori oleh kaum pemuda yang mendapat pendidikan baik yang diselenggarakan oleh Belanda maupun oleh Jepang. Revolusi yang bergulir dan terakhir adalah reformasi yang dimotori oleh kaum intelektual kampus.

Pergerakan waktu dan tuntunan zaman yang berubah dinamis. Memberikan tantangan berbeda bagi kaum intelektual kampus. Bukan hanya sebagai agent of change namun juga sebagai agent of development. Kaum Intelektuan kampus di tuntut untuk memberikan soluli kreatif produktif untuk menyelesaikan benang kusut pengangguran. Benang kusut ini terlihat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan untuk kaum intelektual yang lahir setiap tahun dari Perguruan Tinggi.

Ada dimensi yang hilang dalam sisi intelektual hari ini, dimana kaum intelektual kehilangan dimensi kekayaan intelektual. Kekayaan yang mampu menciptakan nilai lebih atas ilmu yang di terima selama pendidikan di Perguruan Tinggi. Kaum intelektual perguruan tinggi seakan kehilangan kemampuan berdiri atas skill, pengetahuan keilmuan. Hal ini sebabkan terjadi factor. Pertama pendangkalan intelektual. Hal ini ditandai oleh sedikitnya karya intelektual kampus dalam bidang penulisan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Kedua motivasi kuliah hanya sekedar mendapatkan ijazah dengan Indeks Prestasi Kumulatif secukupnya. Kuliah hanya sekedar formalitas dating dan pergi. Ketiga. Kualitas pengelolaan Perguruan Tinggi. Banyak kampus hanya menyediakan proses pembelajaran dan pembentukan intelektual kampus instan.

Dari beberapa factor diatas menciptakan aneka penyakit intelektual kampus. Penyakit ini melahirkan sebuah virus yang mengganas bagi bangsa ini terutama dengan munculnya para pegangguran Intelektual. Data terakahir menunjukkan bahwa hampir dari 80% lulusan perguruan tinggi tidak diserap oleh pasar tenaga kerja. Penyakit itu adalah mentalias pengemis. Mentalitas ini menjadi budaya kaum intelektual kampus yang mampu untuk meminta pekerjaan dengan keilmuan dan skill yang di dapat di perguruan tinggi.

Dari penyakit ini apakah obat terbaik untuk mengurangi dampak virus pengemis Intelektual? Banyak obat yang dapat digunakan, salah satunya adalah mentalias pengusaha. Wirausaha adalah sebuah bentuk mental yang mendorong seseorang untuk memberikan nilai lebih dalam kehidupan. Mentalitas wirausaha intelektual dapat dilakukan beberapa tahap dalam perguruan tinggi diantaranya.

1.      Pembentukan aspek skill dan pengetahuan dari Perguruan Tinggi.
Pembentukan ini dimulai dari pemberian kurikulum yang mampu mewujudkan mentalitas wirausaha Intelektual. Beberapa perguruan tinggi telah memasukkan mata kuliah kewirausahaan. Sebagian Perguruan tinggi memberikan pada tahun pertama perkuliahan, dan sebagian pada tahun terakhir perkuliahan. Dari sisi ini perguruan tinggi beperan dalam memberikan pengetahuan dasar tentang wirausaha bagi intelektual kampus.
2.      Dukungan aspek keuangan dari pihak ketiga diantara berupa industri atau perbankan.
Dukungan ini berupa dukungan modal untuk menjalankan wirausaha intelektual. Banyak usaha yang telah dirintis oleh kaum intelektual kampus tenggelam diakibatkan ketiadaan modal usaha yang mudah dan murah untuk menopang usaha.
3.      Dukungan aspek pemasaran dan pembinaan dari pihak pemerintah
Jaminan aspek pasar dan daya serap pasar menjadi bagian dari memaksimalkan wirausaha intelektual kampus. Sedangkan dari pihak pemerintah melakukan pembinaan lewat Dinas Terkait.

Masih panjang mewujudkan wirausaha Intelektual untuk menyelesaikan kusutnya pengangguran intelektual yang lahir dari mentalitas pengemis dalam lingkungan intelektual kampus.

Siapkah Anda menjadi wirausaha Intelektual?