Kamis, Mei 12, 2011

Transformasi budaya menulis dalam budaya akademik

1. Latar Belakang
Perguruan tinggi adalah bagian tidak terpisahkan dalam kerangka menciptakan kecerdasan berbangsa dan bernegara. Perguruan tinggi dengan tri dharma perguruan tinggi yakni Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian masyarakat. Menjadi kekuatan untuk melahirkan alumni-alumni yang memiliki kompetensi atau skill, sikap dan pengetahuan yang mampu bermanfaat dalam dunia kerja maupun masyarakat banyak. Tujuan dan arah pendidikan Tinggi di Indonesia seperti yang tertuang pada Bab II pasal 2. Keputusan Menteri Pendidikan No.232/U/2000 adalah menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dalam menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya kasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian, serta menyebarluaskan dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan dan memperkaya kebudayaan nasional. Perguruan tinggi sebegai sebuah organisasi menciptakan dan memiliki budaya tersendiri dan khas.
Budaya merupakan istilah deskriptif sebagai system yang dianut bersama atau penciptaan nilai yang disepakati bersama menetapkan tapal batas. Budaya perguruan tinggi memiliki perbedaan dengan budaya organisasi perusahaan yang memiliki orientasi penciptaan laba. Salah satu nilau utama dari budaya akademik adalah budaya menulis. Budaya menulis (lectary) berbeda dengan budaya bicara (oral). Budaya menulis dalam ruang lingkup perguruan tinggi menghasilkan produk berupa jurnal, skripsi, makalah. Namun bukan kualitas produk ini mengalami stagnasi yang menjadi rutinitas kehilangan makna. Banyak karya ilmiah menjadi kuburan dalam makam bernama perpustakaan. Dibutuhkan sebuah transformasi budaya menulis untuk mendorong lahirnya karya ilmiah yang bisa membumi yang bermanfaat bagi stakeholder perguruan tinggi.
Mencermati budaya menulis dalam lingkungan perguruan tinggi dengan ini penulis tertarik untuk menelaah tentang bagaimana melakukan transformasi budaya menulis dalam budaya akademik. 2. Defenis budaya Budaya Perguruan tinggi dengan core aktivitas dalam intelektual melahirkan budaya akademik. Budaya adalah ”the complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society” (sekumpulan pengetahuan, keyakinan,seni, moral, hukum, adat, kapabilitas, dan kebiasaan yang diperoleh seseorang sebagai anggota sebuah perkumpulan atau komunitas tertentu) . Sedangkan Budaya menurut Djoyodiguno yang di kutip oleh Notowidagdo adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa . Perguruan tinggi sebagai sebuah produk penciptaan budaya memiliki pengetahuan yang menjadi landasan dalam aktivitas akademik, hukum-hukum sebagai aturan bagi pimpinan, dosen dan karyawan.
Budaya yang tercipta di perguruan tinggi memiliki perbedaan antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lainnya. Faktor internal meliputi tentang kurikulum, tenaga pengajar, visi dari pemimpin. Sedangkan pembentuk budaya secara ekternal adalah perubahan dalam bidang pendidikan, ekonomi, social dan politik.
2.1 Budaya menulis
Menulis adalah tingkatan terakhir dalam keahlian manusia dalam bidang aksara. Pertama adalah mendengar, berbicara dan terakhir adalah menulis. Menulis adalah kegiatan mental dalam menciptakan ide dan gagasan yang mempunyai nilai dan manfaat. Budaya menulis merupakan nilai utama budaya akademik. Dimana terdapat aktivitas budaya akademik lain yang menjadikan nilai utama sebuah perguruan tinggi. Sebuah fakta sebagaimana disampaikan oleh Prof. Ir. Amrinsyah Nasution M.E.S.E.,Ph.D bahwa budaya menulis kalangan dosen di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan dosen di luar negeri. Dari 1.200 dosen yang ada di Institut Teknologi Bandung (ITB), hanya sekitar 400 orang atau 30% yang mempunyai kemampuan menulis. Salah satu kelemahan budaya menulis kalangan dosen di Indonesia, yakni para dosen Indonesia kurang memiliki kemampuan dalam menuangkan buah pikiran melalui sarana pendidikan Di kalangan intelektual, seperti para akademisi Perguruan Tinggi, gagasan lebih sering disampaikan secara lisan melalui seminar atau diskusi, yang seringkali tidak disertai dengan bahan tulisan. Membuat karya tulis ilmiah masih merupakan pekerjaan yang dipandang berat bagi sebagian orang, termasuk para mahasiswa dan dosen Perguruan Tinggi.
2.2 Budaya akademik
Budaya akademik berarti apa yang dipelajari oleh mahasiswa selama periode waktu tertentu dari Universitas, Fakultas atau Jurusannya. Pengembangan budaya akademik ini didasarkan atas dua tantangan yang selalu dihadapi oleh pendidikan tinggi dalam penyelenggaraan pendidikannya yaitu tantangan yang bersifat internal dan eksternal .
Budaya menulis dalam ruang lingkup budaya akademik perguruan tinggi berkaian dengan aktivitas-akativitas seluruh stakeholder perguruan tinggi, yakni dosen sebagai staf pengajar, guru besar, mahasiswa sebagai pelajar yang siap mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan terakhir adalah karyawan sebagai penunjang dari kegiatan perguruan tinggi. Melihat budaya menulis diperguruan tinggi dapat diukur dengan beberapa variable yang saling mempengaruhi satu sama lain. Budaya menulis dalam budaya akademik dipengaruhi oleh berbagai variabel utama
a. Budaya membaca,
Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa bangsa Indonesia berada jauh di bawah jepang, amerika dan inggris tingkat membaca buku. Taufik Ismail pernah menyampaikan sebuah kalimat yang menggambarkan kegeliasauan beliau tentang budaya membaca bangsa Indonesia, khusus pelajar, mahasiswa, dosen dengan istilah Bangsa rabun membaca dan buta menulis. Hal ini bisa dilihat secara kasat mata dalam lingkungan kampus jarang dilihat mahasiswa, atau dosen melakukan membaca buku, berdiskusi tentang suatu topik. Namun lebih banyak melakukan aktivitas berkumpul untuk bercirita dan mengobrol.
b. Metode pengajaran
Proses belajar mengajar antara dosen dengan mahasiswa merupakan factor utama yang mempengaruhi budaya menulis di perguruan tinggi. Metode pembelajaran dosen lebih banyak menekankan kepada penyampaian ceramah tentang mata kuliah, sedangkan mahasiswa adalah pendengar ceramah dari apa yang disampaikan oleh dosen. Untuk beberapa mata kuliah efektif untuk menjelaskan beberapa mata kuliah, namun tidak efektif untuk beberapa mata kuliah dan program studi. Beban mahasiswa untuk menulis dari satu mata kuliah dengan mengikuti kaidah ilmiah jarang ada.
c. Sistem Penghargaan
Setelah budaya membaca dan metode pengajaran sebagai variabel utama mempengaruhi budaya akademik. Maka system penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi dari dunia tulis menulis tidak ada. Keberadaan jurnal internal kampus kehilangan penulis yang diisi oleh para staf pengajar. Koran kampus hanya terbit sekali setahun dan aktivitas lainnya. Sistem penghargaan memberikan daya dorong untuk dosen, karyawan dan mahasiswa untuk melahirkan ide, pikiran dalam bentuk tulis menulis. Sistem penghargaan memberikan dampak kuat bagi motivasi. Mengacu pada hiriearki kebutuhan maslow salah satunya adalah penghargaan atas hasil kerja. Begitu juga dengan menciptakan budaya menulis dalam lingkungan akademik.
d. Perpustakaan
Perpustakaan sebagai tempat pemeliharaan ilmu pengetahuan yang terdiri dari berbagai buku dan jurnal memberikan pilar keempat variabel budaya menulis. Kesan perpustakaan angker, kusam dan tidak terawat turut memberikan andil untuk pengunjung enggan datang. Ketersediaan literature terbaru dan kemudahan untuk mengakses yang ditandai dengan system pelayanan perpustakaan ikut andil untuk menciptakan budaya menulis dalam kalangan akademik Perguruan Tinggi.
3. Transformasi budaya Memulai
sebuah transformasi atau perubahan memulai dari tujuan akhir Tujuan akhir adalah sebuah bentuk pencapaian terstruktur dan sistematis dari transformasi yang meliputi berbagai aspek organisasi, SDM, Managemen, Gaya kepemimpinan. Keberhasilan organisasi pendidikan dibutuhkan core value and concepts yang dapat mendorong untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Suatu organisasi memiliki 10 komponen yang harus dipenuhi untuk melakukan transformasi budaya
3.1 Visionary leadership (visi kepemimpinan)
Perguruan tinggi harus memiliki pemimpin yang memiliki visi untuk menyiapkan arah organisasi dan menempatkan nilai maupun strategi yang dapat dijadikan pedoman bagi semua kegiatan. Memberi motivasi dan inspirasi untuk mendorong keterlibatan semua bagian dalam rangka mensukseskan tugas, dan pemimpin harus dapat menjamin agar proses berjalan baik. Faktor kepemimpinan perguruan tinggi memberikan kekuatan dan daya dorong. Dalam hal ini kepemimpinan sebuah tindakan kolektivitas unsur pimpinan. Kepemimpinan tidak pernah merupakan tindakan perseorangan. Kepemimpinan selalu merupakan kegiatan social, atau kelompok yang melibatkan orang-orang lain untuk melakukan hal-hal yang tepat .
3.2 Academic-driven quality (pengendalian kualitas akademik)
Kualitas adalah hal yang penting bagi sebuah perguruan tinggi untuk dilirik oleh mahasiswa, dosen dan karyawan yang memiliki kualitas terbaik untuk berkontribusi. Dalam transformasi budaya menulis hasil penulisan dari dosen, mahasiswa dan karyawan harus memiliki kualitas unggul yakni memiliki nilai lebih dari perguruan tinggi lainnya. Untuk mendapatkan kualitas akademik dalam bidang menulis dibutuhkan kontribusi tentang menetapkan standar mutu, proses pengendalian, umpan balik sebagai bentuk evaluasi. Menetapkan standar mutu memberikan jaminan kualitas secara keseluruhan aspek-aspek pengelolaan perguruan tinggi.
3.3 Innovation focus (memfokuskan pada inovasi/penemuan baru)
Memfokuskan pikiran pada upaya menjadi budaya menulis terdepan dengan dimensi baru dan berkemampuan tinggi, dan membuat agar melakukan inovasi dijadikan sebagai bagian dari budaya dan falsafah organisasi. Inovasi lahir dari sebuah ruang kebebasan dan dukungan untuk menciptakan hal-hal baru, penemuan baru yang didukung dari visi kepemimpinan perguruan tinggi. Inovasi memberikan sesuatu hal yang baru dalam proses transformasi. Inovasi mampu melahirkan standar baru yang membedakan dengan standar lama sebelum transforamasi budaya dilakukan. Dalam bidang dunia penulisan lahir inovasi tentang melahirkan karya, model atau penemuan baru dalam bidang akademik yang menjadi trend setter terbaru. Perguruan tinggi Jepang menjadikan inovasi sebagai trend setter untuk melahirkan ilmuan baru yang ditopang oleh budaya menulis yang inovatif dan sistematis.
3.4 Organizational and personal learning (belajar secara organisasi dan perorangan)
Pelaku dari perguruan Tinggi harus selalu belajar secara terus menerus mengenai segala hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar, serta menanamkan semangat belajar orang perorang sebagai investasi. Pembelajaran organisasi didukung oleh pembelajaran secara individu. Pembelajaran secara individu didukung dengan ketersediaan ruang untuk berkerjasama sekaligus berkompetisi dalam organisasi perguruan tinggi. Dalam budaya menulis tercipta kerjasama sekaligus kompetisi bagi dosen, karyawan dan mahasiswa untuk terus belajar, melakukan riset yang menghasilkan karya-karya tulisan aplikasi bagi stakeholder perguruan tinggi.
4.5 Valuing people and partners (menghargai anggota dan rekan dari lembaga) Perguruan tinggi memiliki komitmen untuk selalu memberikan kepuasan kepada dosen, karyawan dan mahasiswa dalam mengembangkan dan memaksimalkan kemampuan budaya menulis. Selain memperhatikan kualitas tulisan, namun juga system kesejahteraan atas hasil tulisan dari dosen, mahasiswa dan karyawan. Sistem penghargaan meliputi factor instrinsik dan ekstrinsik bagi budaya menulis. Budaya saling menghargai menciptakan kenyamanan bagi anggota untuk melahirkan karya tulisan. Terjadi sebuah daya dorong secara ekstrinsik berupa penghargaan yang tersistem dan terstruktur dari pihak pimpinan.
4.6 Agility (Ketangkasan) Menciptakan ketangkasan dalam transformasi budaya menuslid dalam budaya akademik membutuhkan ketangkasan dari dosen, karyawan dan mahasiswa. Ketangkasan ini berupa kemampuan untuk menghasilkan karya tulisan. Ketangkasan ini tercipta dari pelatihan terstruktur, system penghargaan yang mendukung. Ketangkasan dari pelaku budaya akdemik mampu dan terampil dalam merespon segala hal yang harus dipenuhi maupun merespon tuntunan perubahan.
4.7 Knowledge-driven system (pengetahuan untuk mengendalikan sistem)
Perguruan tinggi harus mampu menggunakan secara efektif dan maksimal data, informasi dan pengetahuan dosen, karyawan dan mahasiswa untuk menguatkan budaya menulis untuk menunjuang budaya akademik unggul. Perguruan tinggi sebagai institusi berbasis pengetahuan bergerak atas ilmu pengetahuan yang dapat menghasilkan karya tulisan terbaik yang memiliki manfaat dalam proses belajar mengajar. Pengetahuan menjadi penggerak utama dari dosen, karyawan dan mahasiswa yang ditopang system penghargaan. Ketika pengetahuan tidak menjadi penggerak untuk melakukan transformasi akan tercipta konflik yang pada akhirnya merusak proses transformasi budaya menulis.
4.8 Society responsibility (Tanggung Jawab terhadap masyarakat sekitar)
Menciptakan hubungan baik dengan masyarakat sekitar kampus dengan menghasilkan karya yang bisa membantu memperbaiki kualias masyarakat. Dalam melakukan transformasi budaya perguruan tinggi ikut menyertakan masyarakat sebagai laboratorium perubahan. Masyarakat sebagai wadah mewujudkan kebermanfaatan dari hasil budaya kampus. Kampus tidak menjadi menara gading melahirkan praktisi yang tidak bisa bermanfaat bagi masyarakat. Melakukan perubahan budaya dalam bidang akademik berakar dari kebutuhan masyarakat dengan program pengabdian masyarakat yang termasuk dalam tridarma perguruan tinggi.
4.9 Result orientation (berorientasi pada hasil)
Memfokuskan pada hasil tulisan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan memonitor proses penciptaan tulisan. Melakukan perubahan budaya menulis menekan pada hasil yang dapat dicapai berupa output tulisan. Bentuk output tersebut adalah buku, jurnal, esai hasil dari kajian tersistem dan terstruktur. Sedangkan dalam bentuk lain munculnya hasil riset yang mampu disebar lewat berbagai media online dan offline. Orientasi pada hasil dengan komitmen pimpinan perguruan tinggi menghadirkan gerakan bersama dari dosen dengan menghasilkan tulisan jurnal yang mampu menembus jurnal internasional. Tulisan mahasiswa yang mampu berprestasi pada pekan ilmiah mahasiswa yang rutin dilakukan setiap tahun. Berorientasi pada hasil menumbuhkan kompetisi sehat dan banyak metode untuk mencapai hal hasil yang diinginkan.
4.10 System perspective (perspektif sistem)
Yaitu menyetarakan antara budaya menulis dan struktur dengan tujuan perguruan tinggi yang dibantu oleh keputusan dan kebijakan dari tingkat pimpinan perguruan tinggi. Dalam upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan menjaga kualitas budaya menulis dalam budaya akademik, ke depan menetapkan ‘standar mutu’ untuk mengukur kualitas dari budaya menulis dalam budaya kademik. Pencapaian peningkatan mutu dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan mulai dari perencanaan/desain sampai pada pemeliharaan budaya menulis yang telah dicanangkan. Pencapaian mutu tulisan yang diinginkan ini memerlukan kesepakatan dan partisipasi seluruh anggota kampus, yang dimulai dari pimpinan, karyawan, dosen dan mahasiswa. Tanggung jawab manajemen mutu ada pada pimpinan puncak suatu perguruan tinggi. Terciptanya tulisan berkualitas dari dosen, karyawan dan mahasiswa adalah indicator suksesnya secara system dalam transformasi budaya organisasi.
4. Kesimpulan dan Rekomendasi
Proses transformasi budaya menulis dalam budaya akademik melahirkan banyak manfaat bagi dosen, karyawan dan mahasiswa serta masyarakat. Namun disatu sisi juga memiliki hambatan dan kendala untuk mewujudkan transformasi budaya menulis. Proses transforamasi bukan sebuah proses dalam waktu cepat, namun membutuhkan proses yang panjang dan berkelanjutan. Komitmen dari pihak pimpinan perguruan tinggi adalah kunci utama melakukan transformasi budaya menulis untuk menciptakan perguruan tinggi unggul dan berprestasi. Sebagai wujud dari proses transformasi yang didukung oleh pemimpin dapat dilaksanakan beberapa kegiatan bernama “Penghargaan Akademik” dengan ketentuan:
1. Mengakomodir seluruh civitas akademika, dosen, mahasiswa, karyawan
2. Kegiatan tahunan yang disandingkan dengan kegiatan wisuda setiap tahun.
3. Mempersiapkan infrasuktur secara manajemen dan juga sumberdaya manusia yang dapat inklut dalam satu divisi atau masuk dalam divisi SDM.
4. Pelatihan dan media publikasi bagi civitas akademika.
Catatan kaki
Brown, Andrew. 1998. Organizational Culture. Harlow. Pearson Education Limited.
Drs. H. Rohiman Notowidagdo, Ilmu budaya dasar berdasarkan Alquran dan hadits. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 1997.
http://akatelsp.ac.id/2009/01/09/akatel/rendah-budaya-menulis-dosen-indonesia/diakses pada 6/5/2011 Supriadi, dalam makalah Khairudin Kurniawan.
Membangun budaya akademik perguruan tinggi Tjipto Atmoko, drs,SU. Makalah disampaikan pada Disampaikan pada acara ‘studium general’ mahasiswa baruProgram Ekstensi FISIP UNPAD, 6 September 2005
Stephen R. Covey, The 8th habit, melampaui efektivitas menggapai keagungan, gramedia pustaka utama, copyright 2005, cet 3 2008
James o’toole, Leadership A to Z a guide for the appropriately ambitious panduan berambisi secara positif, alih bahasa neneng natalina. Editor nurcahyo mahanani, Jakarta erlangga 2003 hal. 10
Daftar pustaka
James o’toole, Leadership A to Z a guide for the appropriately ambitious panduan berambisi secara positif, alih bahasa neneng natalina. Editor nurcahyo mahanani, Jakarta erlangga 2003 hal. 10.
Stephen R. Covey, The 8th habit, melampaui efektivitas menggapai keagungan, gramedia pustaka utama, copyright 2005, cet 3 2008
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Belajar Mahasiswa
Brown, Andrew. 1998. Organizational Culture. Harlow. Pearson Education Limited.
Drs. H. Rohiman Notowidagdo, Ilmu budaya dasar berdasarkan Alquran dan hadits. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 1997.
Prof. Ir. Amrinsyah Nasution M.E.S.E.,Ph.D, http://akatelsp.ac.id/2009/01/09/akatel/rendah-budaya-menulis-dosen-indonesia/diakses pada 6/5/2011 Supriadi, dalam makalah Khairudin Kurniawan. Membangun budaya akademik perguruan tinggi
Tjipto Atmoko, drs,SU. Makalah disampaikan pada Disampaikan pada acara ‘studium general’ mahasiswa baruProgram Ekstensi FISIP UNPAD, 6 September 2005

Lain padang lain ilalang

Pepatah yang menjadi judul diatas diambil dari pepatah ranah minang yang mempunyai arti. Berlainan tempat maka jenis ilalangnya akan berbeda. Begitu juga dengan menulis. Kebiasaan menulis dikompasiana dengan menulis dijurnal memiliki padang penulisan tersendiri dan memiliki kaidah-kaidah tersendiri.
Menulis di blogsosial memiliki model penulisan featur lepas dan tidak banyak mengkikuti kaidah-kaidah penulisan ilmiah. Berbagai lompatan ide keluar dengan kata-kata yang khas sesuai dengan gaya racikan penulis itu sendiri. Berbeda dengan penulisan ilmiah. Inilah yang saya alami menulis ilmiah untuk keperluan jurnal kampus Magister Ekonomi Syariah Universitas Azzahra.
Ada beberapa tahapan untuk mendapatkan sebuah tulisan berkualitas ilmiah untuk mutu tulisan. Semoga setelah tulisan tersebut selesai insya Allah di publish di kompasiana.
1. Melakukan pemetaan judul tulisan ilmiah. Hal ini bermanfaat untuk tersambung dengan yang akan ditulis. Menulis ilmiah sebaiknya berangkat dari dasar pendidikan di perguruan tinggi. Seperti ekonomi, maka tulisan tentang ekonomi lebih mudah.
2. Meriset tentang judul tulisan ilmiah yang akan ditulis. Hal berguna untuk mengetahui tentang tulisan-tulisan ilmiah sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan dengan studi lewat mbah google dan miss yahoo, atau melakukan studi di perpustakaan.
3. Meresume riset sebelumnya. Manfaat ini adalah untuk memberikan panduan untuk melahirkan tulisakan kita jauh dari budaya salin abis atau copy paste. Budaya salin abis adalah ketidakjujuran intelektual yang merusak integritas intelektual.
4. Menulis kerangka tulisan. Menulis kerangka memberikan peta dasar untuk penyelesaian tulisan. Hal ini berguna bagi kefocusan tulisan dan tidak mengambang kemana-mana.
5. Membaca literatur. Membaca berbagai artikel dan juga buku-buku yang berhubungan dengan kata kunci dari tulisan ilmiah. Hal ini berguna untuk mendukung tulisan, landasan teori dan kualitas bahasan.
6. Penyelarasan akhir. Hal berupa pengeditan, penambahan dan perbaikan tulisan baik berupa isi, tata letak, kaidah penulisan.
7. Deadline. Buatlah deadline atau batas waktu untuk penyelesaian tulisan. Hal ini bisa dipermudah dengan membuat tahapan-tahapan penulisan.
8. Berbahagialah dan bersyukur telah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama. Menyelesaikan pekerjaan memberikan sebuah kebahagian mencapai sesuatu yang berarti bagi diri sendiri. Disamping memberikan manfaat bagi orang lain.
Menulis ilmiah adalah sebuah pertanda sehatnya perguruan tinggi dengan melakukan upaya menciptakan kualitas tenaga pengajar, karyawan dan mahasiswa. Ketika budaya menulis telah menjadi bagian dari budaya akademik maka kampus telah memulai sebuah pencapaian pemaksimalan tridarma perguruan tinggi yakni pendidikan dan penelitian.
Tulisan ini sebagai penghangat suasana menulis tulisan ilmiah di Magister Ekonomi Syariah Universitas Azzahra.
Semoga tulisan ini sebagai penghangat untuk tulisan ilmiah yang diterbitkan di jurnal kampus Universitas Azzahra. Sebagai tambahan judul tulisan ilmiah yang sedang digarab adalah “transformasi budaya menulis dalam budaya akademik”, selamat menunggu. terima kasih

Seputar intelektual

Kaum intelektual adalah orang yang memiliki berbagai kelebihan dari orang biasa. Kaum intelektual adalah mereka yang pernah menikmati proses pendidikan dalam berbagai bentuk institusi formal maupun informal. Pendidikan formal meliputi pendidikan dari jenjang Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi dengan deretan gelar kesarjanaan. Namun disisi lain pendidikan di ruang informal memberikan sentuhan lain untuk mengasah kaum intelektual lebih bermanfaat dalam membimbing masyarakat.
Ada beberapa hal yang menggelitik tentang seputar intelektual. Lahir dari sebuah diskusi kecil dalam kegiatan syukuran sekretariat baru Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Proklamator Univ. Bung Hatta pada hari Senin, tanggal 18 April 2011 di jl. bahari Kel. Ulak karang Padang. Disambung dengan beberapa selorohan di diskusi terbatas di universitas azzahra beberapa hari sebelumnya.
Pertama. outsourcing intelektual. Fenomena ini telah menjadi fakta tidak terbantahkan dalam kalangan akademisi. Terutama dalam pengerjaan tugas akhir, propolsal dan bebrapa tugas mata kuliah bernama artikel atau makalah. Fenomena ini adalah meminta pihak ketiga diluar mahasiswa dan pembimbing akademik untuk mengerjakan pembuatan skirpsi, thesis dan makalah yang nantinya akan di klaim sebagai hasil karya.
Kedua. pengoplosan intelektual. Hal ini berkaitan dengan hal yang sangat memiriskan dalam dunia akademik dengan lahirnya ijazah asli tapi palsu. Dimana ijazah menjadi sebuah bisnis yang menggiurkan. Tidak usah mengikuti mata kuliah sampai ratusan Sistem Kredit Semester, cukup dengan menyetor uang jutaan rupiah maka gelar akademik pun dapat.
Ketiga. Pengemis intelektual. Seloroh pengemis intelektual ini tercipta dari fenomena mantan aktivitis kampus atau organisatoris yang memiliki mentalitas pengemis. Dengan kemampuan untuk menyusun proposal kegiatan lengkap dengan data-data dan analisa intelektual. Namun teramat sayang kegiatan tersebut hanya metode untuk mendapatkan dana yang tidak berkaitan dengan kegiatan yang dilaksanakan. Dalam nama lain adalah “pengemis proposal”.
Keempat. menuruat anda apa lagi?

Catatan Ringan

Catatan ringan ini berasal dari beberapa hal kecil yang berserakan dari berbagai kejadian baik dalam kegiatan harian di kampus pascasarja magister ekonomi syariah, kantor iluni fe bung hatta, diatas atap kereta api, di stasiun atau perjalanan dari rumah ke stasiun pasar minggu atau stasiun tebet ke kampus.
Catatan pertama. Yang paling mahal dalam berbagai pekerjaan dan hubungan antar bagian dalam perusahaan, universitas adalah koordinasi. Seringkali banyak pekerjaan besar dan kecil menghabiskan energi, sumberdaya bernama koordinasi antar individu, departemen. Walau telah tersedia teknologi informasi untuk memudahkan distribusi informasi, namun sering macet dalam hal koordinasi. Barangkali pernah mendapatkan perkataan suvervisor “berani-berani kami mengambil keputusan, kok ngak koordinasi dulu?” Rasanya pada saat itu kepercayaan diri untuk mengambil inisiatif tenggelam dalam sebuah budaya yang tidak mendukung inisiatif.
Catatan kedua. Yang paling sulit dalam kehidupan adalah bertukar tempat. Menggunakan kereta api ekonomi jurusan bogor-kota adalah sebuah keniscayaan untuk berebut tempat di dalam gerbong yang penuh sesak. Pemberhentian di setiap stasiun yang kurang memberikan gerak untuk turun secara baik dan naik. Terkadang dan telah menjadi kebiasaan berdesakan. Kecelakaan terinjak, terdorong adalah resiko yang mesti ditanggung. Untuk mensiasati tidak terlambat pilihan terbaik adalah naik ke atas atap bertarung dengan ganasnya angin dan sengatan voltasi listrik 15.000 volt. Bertukar tempat para pengambil keputusan tentang transportasi yang mesti terjepit setiap hari, berdesakan di pintu, menaiki atap. Maka ia akan menciptakan sikap empati dan berfikir bagaimana mengeluarkan kebijakan yang memihak konsumen yang menggaji mereka puluhan juta.
Catatan ketiga. Yang paling berat adalah mengucapkan terima kasih dan memaafkan. rasa bersyukur tercermin dari sebuang ungkapan terima kasih. Ungkapan ini tidak hanya sekedar ungkapan kata-kata, namun termanisfestasi/tercermin dalam cara berfikir, bertindak, berperilaku. Ungkapan terima kasih dalam membuang sampah adalah meletakkan di dalam tong sampah sesuai dengan kategori. Ungkapan terima kasih dalam bertemu saudara, teman sekantor, seperjalanan adalah senyum, sapa dan salam. Ungkapan terima kasih dalam dunia kerja adalah bekerja secara profesional.Terkadang kita juga terlalu berat mengucapkan kepada OB atau teman cleaning service telah membersihkan tempat, ruang kantor dan menjadikannya nyaman. Terkadang sering kita dalam perbuatan memberatkan pekerjaan OB dan Petugas Kebersihan sebagai bentuk kita berat berterima kasih.
Sedangkan paling berat adalah memaafkan. Terkadang banyak bintik-bintik hitam kesalahan sahabat, teman, saudara, bawahan, atasan, teman sejawat yang terus dipelihara dan tidak termaafkan dalam memori. Lebih senang berburu gosip, isu di kantor seputar aib teman, bawahan, atasan. Begitu mudah menemukan sisi kesalahan saudara, teman, atasan atau bawahan dan sulit untuk menemukan sisi kebaikan. Awas lho manager kita itu begini, begana.
Catatan keempat. Yang paling membahagiakan. Banyak hal yang dapat membahagiakan. Dalam perjalanan dari rumah bertutur sapa dengan tetangga, atau orang lain. Berangkat kerja?. Dibantu oleh teman yang tidak dikenal naik keatas gerbong kereta api. Jalanan yang telah bersih hasil karya sahabat penjaga kebersihan. Dan banyak hal kecil-kecil yang mampu membahagiakan kala kita berpikir terbuka, menerima sesuatu dalam kacamata positif. Berbuat sesuatu yang bermanfaat walau hal yang terkecil.
Semoga catatan ringan ini bermanfaat dan selamat malam bagi teman-teman yang berdinas malam.

Ekonomi Syariah/Islam dalam tanya?

Tulisan ini lahir dari sebuah bincang sederhana dari beberapa teman di kampus Universitas Azzahra, khususnya Program Magister Ekonomi Syariah (ME.Sy) tentang ekonomi syariah baik dari tataran konsep, maupun aplikasi dalam berbagai transaksi di semua sektor ekonomi.
Tulisan ini adalah bentuk sharing knowledge (berbagi pengetahuan) dengan format pertanyaan yang dikenal dengan 5W+1H yang dicoba dikemas dalam kupasan lugas, sederhana dan bermakna. Beberapa kendala dalam pembahasan ekonomi Syariah/Islam, terdapat beberapa istilah yang belum teredukasi secara baik. Beberapa istilah dalam ekonomi syariah berasal dari kaidah bahasa arab. Seperti Mudharabah (jual beli) Musyarakah (kerjasama) Murabahah (bagi hasil).
Tulisan ini insya Allah akan berlanjut sebagai bentuk berbagi pengetahuan dan memasyarakatkan ekonomi syariah/islam. Beberapa tulisan adalah hasil kajian mingguan yang hadir setiap hari kamis jam 13.00-15.00 wib di kampus Universitas Azzahra dan juga beberapa sinopsis tesis mahasiswa magister ekonomi syariah universitas Azzahra.
Seperti seorang yang baru mengetahui sesuatu yang baru, ada muncul pertanyaan, Apa itu? Pengalaman ketika  mengelola Baitul Mal wat Tamwil Baiturrahman nagari lasi kec. Canduang kab. Agam. Muncul pertanyaan Apa itu ekonomi syariah yang menjadi landasan BMT? Apa saja produk dari ekonomi syariah? dan berbagai pertanyaan lainnya. Hal ini disebabkan basic pendidikan dari Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta yang belum memasukkan kurikulum ekonomi syariah/islam.
Apa itu ekonomi syariah/islam?
Ada beberapa defenisi tentang ekonomi syariah/islam;
1. Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_syariah#cite_note-UIKA-0).
Ekonomi syariah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pengetahuan sosial. Namun ekonomi syariah diilhami oleh nilai-nilai Islam yang kaffah (sempurna).
2. Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang disinari oleh nilai-nilai islam.(http://prodies.syariah.sunan-ampel.ac.id/) dalam penjelasan ini ada sedikit perbedaan yakni pada disinari. Pada dasarnya memeliki kesamaan defenisi.
3. Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.(http://islampeace.clubdiscussion.net/)
Pengertian ini menjelaskan tentang studi perilaku ekonomi manusia tentang segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan, keinginan, dalam memenuhi hajat kehidupan. Perbedaan mendasar dari defenisi ekonomi konvensional adalah menitikberatkan hanya pada perilaku. Sedangkan dalam ekonomi syariah/islam berangkat dari cara pandang, landasan tauhid dan dipandu oleh Alquran dan sunnah yang termanisfestasi dalam tindakan ekonomi pada masa Rasulullah saw dan juga para sahabat.
4. Menurut M. Abdul Manan ekonomi Islam adalah “social science which studies the economic problem of people imbued with values of Islam“. (Dalam buku Korupsi mengkorupsi Indonesia:sebab, akibat dan prospek pemberantasan, editor Wijayanto dan Ridwan zachrie)
Dari beberapa defenisi tentang ekonomi syariah/Islam dapat dilihat perbedaan dasar dalam memahami ekonomi. Ekonomi Islam bersumber dari Alquran dan sunnah yang pernah dipraktikkan oleh Rasulullah Saw dan sahabat. namun studi tentang literatur ekonomi islam terkendala oleh hancurnya manuskrip dan tulisan para ulama Islam pada hancurnya Khalifah Abbasyiah di Bangdad.